Senin, 24 April 2017   |   Tsulasa', 27 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 5.066
Hari ini : 55.865
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.198.697
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tuhan dalam Pengetahuan Orang Dayak di Kalimantan Tengah

Konsep tentang Tuhan atau yang oleh orang Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) disebut Ilah, terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Ilah yang menguasai alam bawah dan alam atas. Meskipun demikian, manusia tidak dapat secara langsung berhubungan dengan zat tertinggi itu. Oleh karena itu, Ilah atas dan bawah menempatkan ilah-ilah lain sebagai perantara.

A. Asal Usul

Bagi Orang Dayak yang tinggal di Kalimantan Tengah (Kalteng), Tuhan atau Ilah menjadi ikatan kuat dan menjadi pemandu dalam kehidupan sosial dan religius mereka. Hal ini terbukti dari tradisi perkawinan, kematian, atau kehamilan, yang menempatkan Ilah sebagai sosok yang dihormati dan sangat penting dalam siklus kehidupan mereka (Yekti Maunati, 2006).

Secara umum, Ilah oleh orang Dayak di Kalteng dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu Ilah yang menguasai alam bawah dan alam atas. Keduanya bukanlah entitas yang berbeda, melainkan satu atau dwitunggal. Oleh karena itu, orang Dayak di Kalteng memposisikan kedua Ilah tersebut sebagai satu kesatuan yang sama-sama harus ditaati secara seimbang (JU Lontaan, 1975).

Meskipun kedua Ilah di kedua tempat tersebut menyediakan diri secara penuh untuk membantu manusia, namun manusia tidak dapat secara langsung berhubungan dengan Ilah. Maka dari itu, Ilah atas dan bawah telah menempatkan ilah-ilah lain sebagai perantara. Ilah-ilah tersebut bisa mewujud pada sosok seorang Raja, roh (baik/buruk), dan arwah nenek moyang (Anne Schiller, 1996).

B. Konsepsi tentang Tuhan Orang Dayak di Kalteng

Konsepsi tentang Tuhan atau Ilah bagi orang Dayak di Kalteng cukup sederhana. Keilahian tertinggi menurut mereka merupakan dwitunggal wujud yang mendiami alam atas dan alam bawah. Berikut adalah penjelasannya.

1. Ilah Alam Atas

Alam atas dalam bayangan orang Dayak di Kalteng adalah tasik tabenteram bulau, lau babandan intan. Artinya, danau kemilau emas, berjembatan intan. Alam atas tersebut dihuni seorang penguasa yang biasa disebut secara berbeda, yaitu:

  • Bungai atau tinggang. Keduanya adalah nama burung jantan sebagai perlambang alam atas.
  • Raja tontong matanandau, kanarohan tambing kabanteran bulan. Artinya raja penjuru matahari, pangeran kelengkapan bulan.
  • Mahatara atau ranying mahatara langit. Orang Dayak rumpun Ot Danum menyebutnya pohotara. Sebutan ini diperkirakan terpengaruh oleh agama Hindu, terlihat dari kata maha dan batara.
  • Mahatala, hatala, lahatala, atau alatala. Sebutan ini diperkirakan terpengaruh agama Islam, yakni mirip dengan istilah Allah Ta'ala.

2. Ilah Alam Bawah

Alam bawah biasa disebut sebagai basuhun bulau, seramai rabia. Artinya, sungai emas aliran segala kekayaan. Keilahian di alam bawah ini dihuni oleh penguasa dengan dua sebutan yang berbeda, yaitu:

  • Tambon, yakni naga betina sebagai lambang keilahian dan kesaktian. Namun, ada pendapat yang mengatakan Tambon berjenis kelamin jantan karena dianggap sebagai anak laki-laki dari Mahatara. Meskipun demikian, pandangan kedua ini dianggap keliru karena umumnya orang Dayak di Kalteng memiliki tradisi memohon berkah dan kesuburan atau keturunan yang ditujukan kepada alam bawah karena dibayangkan sebagai ibu.
  • Bawin jata balawang bulau. Artinya, wanita jata berpintukan permata, biasa disebut jata atau diwata. Nama ini diperkirakan terpengaruh agama Hindu, yaitu identik dengan kata deva atau devata.

Menurut orang Dayak di Kalteng, konsepsi tentang Tuhan juga menyangkut pada perantara Tuhan di dunia. Ilah-ilah perantara tersebut misalnya mewujud pada sosok raja atau roh. Roh sendiri terbagi menjadi dua, roh baik dan jahat. Selain itu, ada juga roh nenek moyang yang dipercaya sebagai perantaraan Ilah. Berikut adalah keterangan selengkapnya:

  • Raja Pali. Dipandang sebagai Ilah Kilat yang akan bertindak jika ada pelanggaran adat atau hukum-hukum pali (tabu). Dalam prakteknya, Raja Pali dibantu oleh kepala adat dan pembantunya yang disebut mantir.
  • Raja Ontong. Memiliki nama lengkap Raja Mandurut Bulau, Kanarohan Batuang Hintan Raja Balawang Bulau Kanarohan. Artinya, raja pembuat emas dan pagar intan, pangeran pencipta intan, raja berpintukan emas berpagarkan intan. Raja Ontong bertugas menebarkan rejeki pada manusia.
  • Raja Sial. Tinggal di sebuah tempat bernama handut nyaho kereng tatabat kilat (gunung guntur bukit berbendungan kilat). Biasa disebut juga sebagai tamang tarai bulan, tambon panton garantong. Artinya, tambon si pemukul bulan tembaga dan pemain gong. Raja ini bertugas memberi hukuman pada manusia.
  • Raja Hantuen. Raja ini sering disebut dalam nyanyian para balian (dukun) Dayak dan disebut Haramaung Batolang Buno Balikur Talawang. Artinya, raja harimau bertulang tombak dan bertulang belakang perisai. Raja ini suka membuat kerusuhan, mengganggu, dan merusak.
  • Raja Peres. Peres berarti penyakit, khususnya penyakit menular. Oleh karena itu, raja ini merupakan sumber segala penyakit.

Sedangkan yang termasuk roh baik antara lain:

  • Tempon Telon, yaitu Ilah yang bertugas mengantar roh orang yang wafat agar sampai ke alam roh yang dituju agar roh tersebut tidak salah jalan.
  • Sangumang, yaitu Ilah yang bertugas membantu kesukaran yang dialami manusia.
  • Antang Bajela Bulau (elang berlidahkan emas), bertugas memberikan perlindungan dan memberikan tanda-tanda sebelum seseorang bertindak, seperti sebelum pergi jauh atau memulai usaha.
  • Jarang Bawahan, yaitu ilah yang bertugas memberikan kekuatan bagi manusia.

Ilah yang termasuk roh jahat antara lain:

  • Kuniak, Ilah yang suka mengganggu perempuan yang sedang hamil atau melahirkan.
  • Kerilau atau Krian, Ilah yang bertubuh kecil, bisa menyesatkan dan menyembunyikan orang dalam hutan.
  • Kloe, Ilah yang menjaga tempat keramat dan mengganggu orang yang melanggar.
  • Kukang, Ilah yang menguji dan menghalangi jiwa orang yang wafat menuju surga.

Sedangkan roh nenek moyang atau Ngaju Saniang, yaitu roh leluhur yang diminta bantuannya oleh kerabat dan keluarganya yang masih hidup setelah tiba di surga (lewu liau). Ngaju saniang sering diminta untuk menjaga kampung, sungai, atau pusaka keluarga. Untuk menghormati Ngaju Saniang, orang Dayak membuat patung atau tempat pemujaan di pohon atau batu.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Dayak di Kalteng tentang Ilah dan perantaranya berpengaruh dalam kehidupan mereka, antara lain:

  • Hubungan sosial, baik secara kelompok maupun individu. Dalam hal ini ada 2 konsep, yaitu hatamuei lingu nalata (saling mengenal, bertukar pengalaman dan pikiran, serta saling tolong-menolong) dan hatindih kambang nyahun tarung, mantang lawang langit (berlomba-lomba jadi manusia baik agar diberkati oleh Tuhan di langit, dan memandang serta menghayati kebesaran Tuhan).
  • Hubungan manusia dengan alam semesta. Manusia adalah ciptaan Ilah yang paling mulia dan sempurna. Oleh karena itu, manusia wajib menjadi tauladan bagi mahluk lainnya, misalnya dengan menjaga keseimbangan alam dengan tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.
  • Upacara adat tiwah, yakni proses mengantarkan arwah ke surga. Habaras bulau hagusung intan dia rumpang tulang, yaitu tempat yang kekal, berhiaskan emas, permata, dan berlian serta terletak di langit ke tujuh. Dalam ritual tiwah ini, tulang leluhur yang dikubur dipindahkan ke dalam sandung, semacam rumah panggung berukuran kecil.
  • Upacara pernikahan. Bagi orang Dayak di Kalteng, melakukan pernikahan berarti menghormati Ilah. Saat proses perkawinan, keluarga calon mempelai perempuan akan menaburkan beras kuning ke segala arah dengan agar maksud Ilah turut serta menyaksikan upacara yang tengah berlangsung.
  • Sikap menghormati binatang tertentu, miaslnya buaya yang dianggap sebagai penjelmaan mahluk alam bawah (jata), angui (bunglon) diyakini sebagai perwujudan saudara Ranying Hatalla Langit yang bungsu, naga juga dianggap lambang kekuasaan alam bawah (rengan tingang, nyanak jata), dan burung enggang yang dianggap sebagai burung ciptaan Ranying Hatalla.
  • Konsep pertanian. Bertani atau berladang diatur dalam satu siklus dan hanya dipanen sekali dalam setahun. Selain itu, dalam mengelola hutan hanya memelihara suatu kawasan terbatas hutan (pahewan).
  • Terhadap hukum adat. Dalam semua sendi kehidupan Suku Dayak di Kalteng diatur oleh hukum adat yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla Langit, seperti adat kematian, pernikahan, mengelola alam, dan bersikap pada binatang atau tumbuhan.

C. Penutup

Mencermati pengaruh pengetahuan orang Dayak di Kalteng tentang Tuhan atau Ilah terhadap kehidupan menguatkan bukti bahwa orang Dayak dalam mengelola alam sangat terikat dengan konsep kosmologi. Oleh karena itu, sebagai usaha pelestarian hutan di Kalimantan, sudah selayaknya pengetahuan ini diapresiasi dengan tindakan nyata oleh masyarakat dan pemerintah.

(Yusuf Efendi/Bdy/78/07-2011)

Referensi

JU Lontaan, 1975. Sejarah, Hukum Adat dan Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Schiller, Anne, 1996. “An 'Old' Religion 'New Order' Indonesia: Note on Ethnicity and Religious Afiliation”, dalam Sociology of Religion, 57(4): 409-407.
Yekti Maunati, 2006. Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta; LKIS

Dibaca : 9.930 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password