Kamis, 27 November 2014   |   Jum'ah, 4 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 2.005
Hari ini : 13.458
Kemarin : 20.967
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.389.769
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Maccuke: Permainan Tradisional Melayu dari Sulawesi Selatan

Permainan maccuke adalah salah satu permainan tradisional Melayu dari Sulawesi Selatan.  Cara memainkannya adalah dengan cara mencungkil sepotong kayu atau rotan yang diletakkan di atas tanah yang dilubangi, lalu dipukul saat kayu atau rotan tersebut melayang di udara.

1. Asal-usul 

Permainan tradisional Melayu yang bernama maccuke masih sering dimainkan oleh anak-anak di Sulawesi Selatan (Sulsel). Di beberapa tempat di Sulsel, permainan ini disebut dengan nama yang berbeda-beda. Orang Bugis menyebutnya maccuke, orang Makassar memberi nama accangke untuk permainan ini, sedangkan orang Toraja menyebutnya dengan nama mattonggang. Permainan ini dianggap lebih mendidik mentalitas anak daripada permainan modern (Mattulada, 1979).

Permainan maccuke dilakukan dengan cara mencungkil sepotong kayu atau rotan yang diletakkan di atas tanah yang dilubangi, lalu dipukul saat kayu atau rotan tersebut melayang di udara . Alat untuk mencungkil juga berupa kayu atau rotan. Permainan ini umumnya dimainkan pada saat sesudah panen hingga menjelang musim tanam berikutnya (HD. Mangemba, 1959).

Dalam sejarahnya, permainan maccuke dipahami mengandung filosofi menanam, yakni tanah yang dilubangi dianggap sebagai simbol tanah yang akan ditanami. Kayu atau rotan yang dicungkil merupakan harapan agar tanaman yang ditanam tumbuh dengan baik. Lalu pukulan pada kayu merupakan simbol usaha petani yang keras untuk mendapatkan panen yang memuaskan. Permainan ini membutuhkan keterampilan, kecekatan, ketahanan fisik, mental, dan strategi yang tepat (Pabittei, 2009).

2. Peralatan

Permainan maccuke hanya memerlukan peralatan sederhana, yaitu kayu atau rotan yang dicungkil dan untuk mencungkil atau memukul. Kayu atau rotan yang dicungkil disebut anaq cukke (Bugis) atau anaq cangke (Makassar) dengan ukuran pendek. Sedangkan kayu atau rotan untuk mencungkil atau memukul disebut indoq cukke atau patteteq (Bugis) atau anrong cangke (Makassar) yang ukurannya lebih panjang sekitar 30-60 cm.

3. Pemain

Permainan maccuke umumnya dimainkan oleh anak laki-laki atau perempuan berjumlah 2 hingga 6 orang yang dibagi dalam 2 kelompok saling berpasangan dengan pihak lawan.

4. Tempat Permainan

Permainan maccuke biasanya digelar di pinggir sawah atau di halaman rumah. Waktu permainan dipilih adalah saat sore atau siang hari.

5. Aturan Permainan

Secara umum, ada 3 aturan dalam permainan maccuke, yaitu:

  • Angka (poin) bagi menang.

  • Undian untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu memulai, biasanya menggunakan suit atau pingsut (menggunakan jari tangan).

  • Sangsi bagi yang kalah biasanya harus menggendong yang pihak menang.

  • Penentuan pemenang biasanya ditentukan dari siapa yang lebih dulu mencapai target nilai.

6. Cara Permainan

Mula-mula, pemain membuat lubang di tanah sesuai ukuran anaq cukke. Setelah semua siap, para pemain akan menjalankan permainan dalam 3 tahap berikut ini:

  • Pencungkil pertama meletakkan anaq cukke melintang pada lubang lalu dicungkil sekuat mungkin dan setelah itu indoq cukke diletakkan melintang di atas lubang. Kelompok lawan yang berdiri pada posisi berlawanan akan berusaha menangkap anaq cukke. Jika berhasil, maka pihak lawan akan memperoleh angka sesuai kesepakatan (biasanya 10 angka). Namun bila gagal, lawan cukup melempar anaq cukke agar mengenai indoq cukke. Jika kena, maka pihak lawan berganti menjadi pencungkil.

  • Jika tahap pertama mampu dilalui, pemain meletakkan anaq cukke di tanah dalam posisi setengah berdiri berjajar arah lubang, kemudian dipukul sekeras mungkin menggunakan indoq cukke. Jika lawan mampu menangkap, maka akan memperoleh angka 2 kali lipat. Lawan kemudian melemparkan lagi anaq cukke ke pencungkil, dan disambut dengan pukulan kembali sekeras mungkin. Jika mengenai dan anaq cukke melesat jauh, maka akan dihitung menggunakan indoq cukke dari mulai tempat jatuh anaq cukke hingga ke lubang. Namun, jika gagal, maka berganti pemain. Tahap kedua ini disebut dengan tette palari.

  • Pemain meletakkan anaq cukke searah dengan lubang dengan salah satu ujungnya mencuat ke atas. Lalu ujung yang mencuat tersebut dipukul dengan indoq cukke agar melambung, dan setelah itu diketuk atau dipukul pelan sambil jalan. Pukulan bisa dilakukan berkali-kali, semakin banyak dan jauh pukulan, maka semakin banyak angka yang diperoleh. Angka dihitung dengan menggunakan anaq cukke dari mulai tempat jatuhnya anaq cukke sampai lubang. Tahap ini biasa disebut dengan tette congkang. Adapun aturan penilaiannya adalah 1 kali pukulan dihitung dengan indoq cukke untuk 1 nilai, 2 kali pukulan memakai anaq cukke dihitung 1 nilai, 3 kali pukulan menggunakan 1 anaq cukke dihitung 2 nilai, 4 kali pukulan menggunakan 1 anaq cukke dihitung 4 nilai, dan 5 kali pukulan menggunakan 1 anaq cukke dihitung 10 nilai. 

7. Nilai-nilai

Permainan maccuke mengandung nilai-nilai luhur sebagai berikut:

  • Melatih ketangkasan dan kedisiplinan. Permainan maccuke memerlukan ketangkasan pemainnya, baik dalam mencungkil atau melempar. Juga membutuhkan kedisiplinan untuk menaati peraturan permainan.

  • Olahraga. Nilai ini tercermin dari gerakan pemain saat memukul atau melempar yang membutuhkan stamina, energi, dan fisik yang seimbang. Jika pemain tidak dalam kondisi fisik yang prima, maka ia tidak akan dapat melakukan permainan ini dengan baik.

  • Melestarikan tradisi. Permainan maccuke adalah warisan leluhur yang mengajarkan budi pekerti bagi anak. Oleh karena itu, permainan ini penting untuk dilestarikan agar nilai-nilai dalam permainan ini terpelihara.

  • Menjaga kekompakan. Nilai ini tercermin dari strategi permainan tim yang membutuhkan kekompakan dalam menjalankan permainan agar menang.

8. Penutup

Saat ini, tinggal sedikit anak-anak Sulsel yang mengenal permainan maccuke, accangke, atau mattonggang padahal permainan tradisional ini memiliki nilai positif yang tidak kalah dengan permainan modern. Oleh karena itu, sudah selayaknya permainan ini digalakkan kembali.

(Yusuf Efendi/Bdy/82/08-2011) 

Referensi

Aminah Pabittei, 2009. Permainan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

HD. Mangemba, 1959. “Permainan Sempaq Raga”, dalam Majalah Sulawesi.

Mattulada, 1979. Pencak Silat Tradisional di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan.

Sumber Foto: http://santospalanti.wordpress.com

Dibaca : 4.840 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password