Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.095
Hari ini : 16.367
Kemarin : 22.967
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.179.519
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Meriam Bambu: Permainan Tradisonal Melayu Nusantara

Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional Melayu khas cukup populer serta dikenal di berbagai daerah-daerah Melayu, bahkan hampir di seluruh wilayah nusantara pada umumnya. Selain disebut dengan istilah meriam bambu, di berbagai daerah permainan ini dikenal juga dengan nama bedil bambu, mercon bumbung, long bumbung, dan seterusnya. Permainan bedil bambu ini biasanya dimainkan oleh anak-anak laki-laki dalam rangka memeriahkan bulan puasa, menjelang hari raya, dan peringatan hari besar agama maupun adat.

1. Asal-usul

Di sejumlah daerah di Indonesia dan wilayah Melayu serumpun lainnya, permainan tradisional yang satu ini dikenal dengan nama meriam bambu, namun di beberapa daerah di Indonesia lainnya juga dikenal dengan nama yang lain. Di sejumlah daerah di wilayah Melayu, misalnya di Pangkal Pinang, meriam bambu dikenal juga dengan sebutan bedil bambu. Di Minangkabau disebut meriam betung atau badia batuang, sedangkan di Aceh disebut dengan bahasa lokal te`t beude trieng. Di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, permainan ini lebih familiar dengan penamaan mercon bumbung atau long bumbung. Di Banten dan di sejumlah daerah lainnya di tanah Sunda disebut dengan istilah bebeledugan. Sementara itu, masyarakat Gorontalo di Sulawesi dan suku bangsa di wilayah Indonesia bagian timur lainnya menyebut permainan ini dengan nama bunggo,

Riwayat atau asal-usul pemainan bedil bambu diperkirakan terinspirasi dari senjata yang digunakan oleh bangsa Portugis ketika berupaya menduduki wilayah nusantara pada abad ke-6 Masehi. Meriam adalah salah satu senjata modern yang dimiliki oleh Portugis. Bagi kalangan pribumi pada masa itu, kehadiran meriam menjadi perhatian tersendiri. Orang-orang pribumi yang melancarkan perlawanan terhadap Portugis kala itu sangat takjub dan terheran-heran melihat keampuhan meriam yang bisa melontarkan bola-bola panas dan mampu menimbulkan efek merusak yang sangat mematikan.

Merujuk pada kisah asal-usulnya tersebut, permainan meriam bambu atau bedil bambu diwujudkan dalam bentuk “meriam” yang dibuat dari bahan bambu. Cara memainkannya pun nyaris sama dengan penggunaan meriam sungguhan, yakni dengan menyulut lubang yang ada di bagian pangkal bambu dengan api. Kendati bisa berpotensi membahayakan, permainan meriam bambu ini sangat digemari oleh anak-anak dan kaum remaja laki-laki di banyak daerah di Indonesia. Tidak jarang sekumpulan anak laki-laki berlomba-lomba membunyikan bedil bambu atau meriam bambu. Barangsiapa yang berhasil menghasilkan suara ledakan paling keras, itulah yang kemudian didaulat sebagai jagonya meriam bambu. Tidak jarang, karena terlalu kerasnya suara dentuman yang ditimbulkan, meriam bambu bisa menjadi pecah terbelah menjadi dua bagian.

Pada prinsipnya, permainan meriam bambu sebenarnya bukan tergolong dalam permainan yang bersifat kompetisi, melainkan hanya untuk hiburan semata. Tidak hanya itu, permainan meriam bambu sudah menjadi tradisi yang secara turun-temurun dimainkan secara rutin, bahkan dalam perhelatan secara massal, pada momen-momen tertentu, misalnya pada sepanjang bulan Ramadan, hari raya, maupun hari-hari besar keagamaan lainnya dan dalam beberapa acara adat.

Di tanah Minangkabau yang menjadi salah satu pusat peradaban Melayu, misalnya, tradisi membunyikan meriam bambu sudah menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan ketika bulan puasa tiba. Para remaja di Sumatra Barat membunyikan meriam bambu, yang oleh masyarakat di sana lebih dikenal dengan sebutan meriam betung, setiap petang hari sembari menunggu waktu buka puasa tiba. Biasanya, kalangan remaja di Minangkabau, terutama yang masih bermukim di daerah-daerah pelosok, melakukan tradisi “perang meriam betung” di sepanjang tepi sungai.

Demikian halnya dengan masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam yang juga tetap melestarikan tradisi memainkan meriam bambu. Untuk menyambut Idul Fitri, misalnya, masyarakat Aceh di sejumlah wilayah menyulut meriam bambu dari malam hari seusai shalat tarawih hingga menjelang waktu sahur. Acara membunyikan meriam bambu di awal bulan Ramadan dan di hari-hari terakhir puasa untuk menyongsong Lebaran telah menjadi tradisi masyarakat Aceh sejak dari dulu.

Bahkan, dalam rangka diselenggarakannya perhelatan meriam bambu yang diadakan secara massal ini, masyarakat Aceh tidak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan acaranya. Puluhan atau bahkan ratusan batang bambu digunakan sebagai bahan pembuat meriam bambu demi meramaikan suasana Ramadan dan Lebaran. Puncak acara membunyikan meriam bambu terjadi pada malam takbiran atau malam menjelang Lebaran di mana ratusan penduduk di berbagai tempat di wilayah Aceh akan berbondong-bondong menyaksikan acara yang meriah ini.

Di Gorontalo, meriam bambu atau yang disebut dengan nama bunggo dibunyikan hampir setiap menjelang waktu sahur di sepanjang bulan puasa. Sejak awal Ramadan, anak-anak dan remaja pria di Gorontalo mulai mengumpulkan bambu sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan bambu yang terbaik. Tujuannya adalah untuk membangunkan warga yang hendak bersiap-siap melakukan santap sahur di bulan puasa. Sejak pukul 02.00-03.00 dini hari, anak-anak dan kaum remaja pria di Gorontalo sudah terjaga dari tidurnya untuk bersiap-siap dan kemudian beramai-ramai membangunkan warga yang lain dengan dentuman meriam bambu. Meskipun suara dentuman bunggo cukup keras dan memekakkan telinga, warga Gorontalo mengaku sudah terbiasa dengan tradisi yang telah berjalan turun-temurun ini, dan justru merasa terbantu untuk bangun guna mempersiapkan santapan sahur.

Hal yang sama juga terjadi di Jawa, dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Madura. Di Jawa Tengah, meriam bambu disebut dengan nama long bumbung, sementara di Yogyakarta meriam bambu dikenal dengan sebutan mercon bumbung. Sama seperti di daerah-daerah lainnya di Indonesia, mercon bumbung atau long bumbung dibunyikan pada setiap bulan Ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Selain dibunyikan pada malam setelah shalat tarawih, tidak jarang long bumbung juga diledakkan pada siang atau sore hari. Permainan ini memang sangat menantang dan sering digunakan sebagai senjata dalam permainan perang-perangan.

Di Klaten, Jawa Tengah, misalnya, anak-anak di sana memainkan long bambu di tepi sungai dengan cara membagi menjadi dua kelompok. Kedua kubu ini menempati posisi yang saling berseberangan di masing-masing sisi sungai sehingga mirip perang sungguhan. Tidak hanya perang suara saja, melainkan perang dengan saling melontarkan kaleng bekas susu yang dipasang di bagian moncong depan long bumbung sebagai “pelurunya”. Ketika ditembakkan, kaleng tersebut akan meluncur menuju ke arah kubu lawan yang biasanya segera terjun ke sungai untuk menghindari terkena tembakan.

Warga Kebumen, Jawa Tengah, membuat meriam bambu atau mercon bumbung tidak hanya pada setiap bulan puasa dan Lebaran saja, namun juga untuk memperingati hari-hari besar agama Islam lainnya, seperti dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Ratusan mercon bumbung dibuat untuk kemudian dibunyikan dan saling bersahutan. Biasanya, tradisi ini dilangsungkan di halaman masjid. Tradisi membunyikan mercon bumbung ini dilakukan dengan tujuan untuk memeriahkan hari besar Islam sekaligus merupakan luapan kegembiraan warga. Tidak hanya anak-anak saja yang terlibat dalam acara ini, melainkan para remaja, pemuda, bahkan orang tua. Untuk memperkuat bunyi ledakan, amunisi yang digunakan untuk menyulut mercon bumbung bukanlah minyak tanah seperti yang lazim dipakai di banyak daerah lain, namun menggunakan karbit.

Selain di daerah-daerah yang telah disebutkan di atas, masih banyak daerah lainnya di Indonesia dan wilayah Melayu serumpun, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam, lainnya yang mengenal tradisi permainan meriam bambu. Permainan meriam bambu masih bertahan hingga saat ini karena ditradisikan secara turun-temurun dan selalu diselenggarakan rutin setiap tahunnya dengan mengambil momen-momen tertentu.

2. Bahan dan Cara Pembuatan

Sesuai dengan namanya, bahan utama untuk membuat meriam bambu adalah batang pohon bambu. Usia batang bambu, ukuran besar diameter bambu, dan ukuran panjang batang bambu akan mempengaruhi keras atau tidaknya letusan. Semakin tua usia bambu dan semakin besar diameter bambu, maka akan semakin keras pula ledakan yang nantinya dihasilkan. Selain bambu sebagai bahan utamanya, ada beberapa peralatan lainnya yang harus disiapkan untuk membuat meriam bambu, antara lain parang untuk menebas dan membersihkan batang bambu, tali atau karet yang diambil dari ban motor bagian dalam untuk mengikat batang bambu, linggis untuk melubangi bambu, secarik kain, sebatang kayu kecil untuk menyulut meriam bambu, serta minyak tanah atau karbit yang ditambahkan dengan air dan garam sebagai bahan bakarnya.

Cara pembuatan meriam bambu adalah, mula-mula siapkan batang bambu dan potong dengan ukuran panjang sesuai selera, tapi biasanya antara 1,5-2 meter atau 3-4 ruas, dan diameter berukuran sekitar 4 inci. Kemudian, permukaan batang bambu dilubangi dengan jarak sekitar 10 cm dari pangkal batang bambu. Besarnya diameter lubang dikira-kira sebesar ibujari. Lubang inilah yang akan menjadi tempat untuk menyulut meriam bambu.

Langkah selanjutnya adalah ikat kuat-kuat sekitar sambungan ruas bambu dengan tali atau karet ban untuk memperkuat kapasitas bambu dari tekanan tenaga yang dihasilkan ketika disulut. Sambungan ruas di antara pangkal dengan ujung meriam kemudian dilubangi dengan menggunakan linggis. Sambungan ruas bagian dalam harus dipastikan dilubangi dengan baik dan hampir rata dengan diameter bambu. Hal ini sangat penting agar tekanan yang dihasilkan tidak tertahan sehingga membuat bambu mudah pecah ketika dibunyikan.

3. Pemain

Untuk memainkan meriam bambu ini sebaiknya dilakukan oleh orang laki-laki dewasa. Namun pada kenyataannya, banyak juga kaum remaja, bahkan anak-anak yang senang memainkan meriam bambu ini. Meskipun bisa membahayakan, namun tampaknya permainan meriam bambu ini sudah menjadi kelaziman di kalangan masyarakat luas untuk memeriahkan bulan Ramadan, hari raya, hari besar keagamaan, dan acara-acara bernuansa adat.

4. Waktu dan Tempat Permainan

Meriam bambu sangat marak dibunyikan untuk memeriahkan bulan puasa dan untuk menyambut hari raya Idul Fitri, terutama pada malam takbiran atau malam sebelum Lebaran tiba. Selain itu, beberapa kalangan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia dan negeri-negeri Melayu serumpun juga menggelar acara permainan meriam bambu ini dalam rangka peringatan hari-hari besar keagamaan dan acara-acara adat, seperti perkawinan, khitanan, serta upacara adat lainnya.

Sedangkan mengenai tempat yang digunakan untuk membunyikan meriam bambu bisa bermacam-macam. Umumnya, meriam bambu diletakkan secara berjajar di sepanjang tepi sungai dan kemudian disulut secara bergantian. Ada juga yang membunyikan meriam bambu di halaman depan masjid ketika memperingati hari besar keagamaan. Namun, secara umum, meriam bambu dibunyikan di tempat-tempat yang luas dan jauh dari pemukiman penduduk, seperti di lapangan, di kebun, di sawah, di ladang, dan lain sebagainya.

5. Cara Permainan

Setelah meriam bambu selesai dibuat, maka sudah siap untuk dibunyikan. Bahan bakar yang digunakan bisa berupa minyak tanah atau karbit yang dicampur air dengan takarn tertentu. Jika memakai air karbit, bisa pula ditambahkan sedikit garam untuk memperbesar suara dentuman. Cara mendentumkan meriam bambu adalah dengan menuangi minyak tanah atau air karbit ke dalam lubang tempat penyulutan. Kemudian, seutas kayu yang sudah dililit dengan kain dan dicelupkan ke minyak tanah lalu diberi api, digunakan sebagai alat penyulut. Sebaiknya berhati-hati dalam melakukan permainan ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

6. Keahlian Khusus

Untuk memainkan meriam bambu sebenarnya tidak memerlukan keahlian khusus, namun disarankan agar berhati-hati karena bisa membahayakan. Jika tidak cermat dan waspada ketika menyulut, percikan api yang ditimbulkan bisa mengenai wajah. Oleh karena itu, bagi anak-anak yang belum cukup umur disarankan untuk tidak menyulut meriam bambu ini. Namun demikian, untuk para remaja dan kaum lelaki dewasa juga diharapkan tetap berhati-hati ketika menyulut meriam bambu.

7. Nilai-nilai

Meskipun mengandung resiko yang membahayakan, namun permainan meriam bambu mengandung nilai-nilai luhur dalam ranah budaya Melayu yang sangat berguna bagi masyarakat. Beberapa nilai luhur yang terkandung dalam permainan meriam bambu antara lain:

  • Memaknai perayaan hari besar. Permainan meriam bambu dilakukan sebagai salah satu cara untuk menyambut datangnya hari-hari besar, semisal bulan Ramadan, hari raya, hari besar keagamaan, ataupun hari besar adat.
  • Wujud syukur dan kegembiraan. Sebagai wujud syukur dan ungkapan kegembiraan atas perjuangan dan keberhasilan yang diperoleh, misalnya sebagai ungkapan syukur telah berhasil menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan.
  • Melestarikan tradisi. Permainan meriam bambu adalah salah satu dari sekian banyak kekayaan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Melayu sehingga sangat perlu untuk dilestarikan agar tidak punah tergerus perkembangan zaman.
  • Melatih kreativitas. Meriam bambu bukanlah permainan yang bisa dibeli dengan mudah seperti kebanyakan permainan modern yang ada saat ini. Untuk bisa memainkan meriam bambu seseorang harus membuatnya sendiri. Proses pembuatan meriam bambu inilah yang menjadi proses kreatif seseorang.
  • Melatih keberanian. Memainkan meriam bambu memang mengandung resiko bahaya, namun jika tetap berhati-hati dan selalu waspada dalam memainkannya, justru dapat melatih keberanian seseorang.

8. Penutup

Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Melayu serumpun. Permainan ini harus terus dijaga kelestariannya supaya tidak punah meskipun di zaman sekarang, terutama di kota-kota besar, tradisi permainan meriam bambu sudah mulai sulit ditemukan, selain karena tergeser oleh berbagai macam jenis permainan modern juga karena sulit didapatnya bahan-bahan untuk membuat meriam bambu ini yang berasal dari bahan-bahan yang disediakan oleh alam.

(Iswara N. Raditya/Bdy/01/09-2011) 

Sumber Foto:http://ramadan.okezone.com

Dibaca : 10.666 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password