Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 6.253
Hari ini : 36.414
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.216.035
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Adat Perkawinan Melayu Bengkalis, Riau

Secara umum, adat perkawinan orang Melayu Bengkalis dimulai dengan merisik dan diakhiri dengan upacara menyembah. Dari keseluruhan prosesinya, terlihat jelas kebesaran kebudayaan Melayu yang dimiliki masyarakat Melayu di Riau.

1. Asal-usul

Orang Melayu di Bengkalis masih melestarikan tradisi leluhur. Setidaknya ini terlihat dari masih dilestarikannya adat perkawinan tradisional meskipun tidak seutuh pada zaman dahulu. Realitas ini menjadi bukti kelekatan mereka kepada ajaran leluhur (Ibrahim Mukhtar, 2002). Upacara adat perkawinan Melayu Bengkalis memiliki rangkaian acara yang panjang dan meriah. Ritual acara digelar kurang lebih selama 4 hari, baik di rumah pengantin laki-laki maupun perempuan. Selam itu, kesenian Melayu seperti tari zapin, tradisi barzanji, dan burdah digelar untuk menyemarakkan acara. Tidak lupa juga tradisi pantun berbalas dilantunkan, khususnya saat pertunangan (MS. Suwardi, 1991).

Upacara adat perkawinan orang Melayu Bengkalis diilhami oleh upacara perkawinan Kerajaan Siak Sri Indrapura di Riau. Perkawinan ini juga mengenal tata cara yang berbeda, misalnya antara untuk golongan raja, bangsawan, atau orang biasa, seperti terlihat dalam pembuatan pelaminan yang bertingkat (Tim Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau (P2BKM-UNRI), 2003; MS. Suwardi, 1991).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara adat perkawinan orang Melayu Bengkalis biasanya digelar dari pagi hingga malam hari selama 4 hari. Pelaksanaan upacara dipusatkan di rumah pengantin perempuan. Meskipun demikian, di rumah pengantin laki-laki biasanya juga digelar upacara sederhana bersama kerabat.

3. Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara adat perkawinan Melayu Bengkalis dipimpin oleh Tuan Kadi dan Mak Andam. Keduanya bertanggung jawab pada setiap prosesi upacara. Upacara ini disaksikan oleh orangtua kedua pengantin, sanak keluarga, dan tamu undangan. 

4. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan upacara adat perkawinan Melayu Bengkalis tergantung pada model perkawinan yang akan digelar. Akan tetapi, umumnya peralatan dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:

  • Tepung tawar berupa bedak selo/sejuk, beras basuh, beras kunyit, bunga rampai, dan daun inai yang digiling halus.
  • Tempat air pecung.
  • Cerek (teko).
  • Ketur.
  • Tempat setanggi.
  • Tepak sirih.
  • Kepuk atau sesaji berisi nasi kunyit (pulut kuning), ulur-ulur, telur rebus diberi warna merah.
  • Tujuh air bunga (air pecung).

5. Proses Pelaksanaan

Secara umum, proses pelaksanaan upacara adat perkawinan Melayu Bengkalis meliputi 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

a. Persiapan

Pada tahap ini, kedua keluarga dibantu oleh sanak kerabat dan tetangga menyiapkan segala keperluan untuk proses perkawinan yang akan dilakukan. Mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan adat.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara adat perkawinan orang Melayu Bengkalis digelar dalam beberapa tahap, yaitu merisik, meminang, antar belanja, menggantung, ijab qabul tepung tawar, berinai, berandam, khatam kaji, upacara langsung, berarak, membuka pintu, bersanding, makan bersuap, makan hadap-hadapan, menyembah mertua, mandi kumbo taman, makan nasi damai, dan upacara menyembah. Berikut adalah pelaksanaan selengkapnya.

    Merisik

    Merisik adalah proses mengenali perempuan yang akan dijadikan istri. Proses ini dilakukan secara bertahap oleh pihak keluarga laki-laki. Caranya dengan mengirim orangtua laki-laki atau utusan untuk mencari informasi tentang calon istri, menyangkut tingkah lakunya, kemampuannya mengurus rumah tangga, perangai terhadap orangtua, tetangga, dan masyarakat. Satu hal yang terpenting adalah menanyakan apakah anak perempuan tersebut sudah ditanggam atau dipinang, atau sudah mengikat janji dengan orang lain. Jika sudah, kedatangan keluarga laki-laki hanya untuk menjalin persaudaraan. Merisik dilakukan setelah mendengar kabar dari calon suami bahwa ada gadis yang menjadi idaman hatinya. Merisik juga dilakukan oleh keluarga perempuan untuk menyelidiki calon pengantin laki-laki.

    Meminang

    Jika dalam proses merisik kedua keluarga bersepakat untuk menikahkan kedua anaknya, maka tahap selanjutnya adalah meminang. Pada tahap ini, pihak laki-laki mengirim utusan ke pihak perempuan untuk menyampaikan niat menikah pihak laki-laki. Utusan yang dikirim biasanya orang-orangtua pilihan yang bijak dan mengerti adat. Peminangan biasanya disampaikan dengan bahasa pantun dan pepatah petitih serta diawali dengan ritual tepak sirih Melayu.

    Antar Belanja

    Sembari menunggu hari pernikahan, pihak laki-laki melakukan tahap antar belanja, yakni mengirimkan barang-barang tertentu, seperti uang atau cincin ke pihak keluarga perempuan dengan tujuan membantu keluarga perempuan dalam menggelar upacara perkawinan dan sebagai ikatan janji bahwa kedua keluarga akan menikahkan anaknya. Pada sebagian orang Melayu Bengkalis, tahap ini juga biasa diisi dengan ritual tukar cincin. Antar belanja umumnya disesuaikan dengan derajat dan kedudukan pihak laki-laki di mata sosial. Besarnya hantaran dimungkinkan dapat mengangkat derajat pihak laki-laki. Pada tahap ini, kedua belah pihak menyepakati waktu akad nikah dan upacara langsung (bersanding/resepsi) akan dilaksanakan.  

    Menggantung

    Tahap ini diisi dengan menghias rumah (tengah rumah), pelaminan, tempat tidur, dan tempat bersanding kedua pengantin kelak di rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini dilakukan oleh keluarga dan kerabat dibantu oleh tetangga dan orang tertentu. Pada tahap ini pula, orangtua mempelai perempuan akan melakukan ritual tepuk tepung tawar di setiap sudut tempat-tempat di atas. Ada pembedan dalam pemasangan pelaminan, untuk raja pelaminannya tingkat 9, bangsawan 7, datuk-datuk 5, dan orang biasa 3. Namun, hal ini sekarang sudah diubah dengan hanya ditentukan oleh kemampuan pihak keluarga.  

    Ijab qabul

    Tahap ini adalah pengucapan janji pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan yang dipimpin oleh Tuan Kadi (wakil orangtua pengantin perempuan) dan disaksikan kedua orangtua pengantin serta dihadiri tamu undangan. Kegiatan ini dilakukan di rumah pengantin perempuan dan umumnya digelar selepas shalat maghrib. Pengantin laki-laki duduk di atas tilam kecil beralas tikar berlambak. Sebelumnya, orangtua adat memantrai sekitar tempat duduk ini agar dijauhkan dari niat jahat.

    Sebelum ijab qabul, pengantin laki-laki akan duduk bersimpuh di hadapan orangtuanya, datuk dan nenek, dan handai tolan terdekat untuk memohon restu. Di saat yang sama, Tuan Kadi akan menemui calon pengantin perempuan yang disembunyikan di sebuah bilik untuk menanyakan persetujuannya untuk dinikahkan. Setelah mendapat anggukan, barulah ijab qabul dilaksanakan.

    Seusai ijab qabul, pengantin pria dibawa ke sanak keluarga pengantin perempuan untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan dan peresmian pernikahan. Lalu, pengantin laki-laki masuk ke dalam bilik khusus yang sudah disediakan. Malam itu ia belum diperbolehkan bertemu dengan pengantin perempuan.    

    Tepung Tawar (Berinai Lebai)

    Pengantin perempuan keluar dari bilik setelah didandani, lalu didudukkan di pelaminan. Setelah itu, orang-orangtua yang dihormati diikuti orangtua pengantin dan kerabat melakukan tepung tawar. Jumlah orangtua tersebut biasanya ganjil, misalnya 3, 5, atau 7. Jika berjumlah genap, hal itu justru dianggap akan mengakibatkan sesuatu yang kurang baik bagi pengantin. Acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang disediakan. Setelah itu, pengantin laki-laki pulang ke rumahnya. Lalu tak berapa lama, pengantin perempuan diiringi orang-orangtua dan kerabat, mengantar makanan ke rumah pengantin laki-laki. Pada tahap ini pula, di rumah pengantin perempuan digelar pembacaan syair-syair barzanzi, marhaban, dan burdah semalam suntuk.

    Berinai

    Berinai adalah upacara memberikan tanda-tanda pada telapak tangan, kuku, jari tangan dan kaki pengantin perempuan, sebagai simbol bahwa ia adalah pengantin baru. Inai dibuat dari daun inai yang ditumbuk halus dicampur dengan air asam Jawa sehingga berwarna merah. Namun, menurut kepercayaan, jika inai yang dilekatkan di tangan atau kaki tidak berwarna merah, maka kegadisan pengantin patut diragukan. Inai dilakukan oleh kerabat pengantin perempuan di rumah pengantin laki-laki.   

    Berandam

    Berandam (berendam) adalah membersihkan diri, bercukur, dan memotong anak rambut dan rambut di pelipis. Berandam hanya untuk pengantin perempuan dan dilakukan di rumah oleh tukang andam (perempuan tua yang sudah ahli). Berandam digelar setelah sebelumnya pengantin perempuan dimandikan menggunakan tujuh air bunga (air pecung) lalu dipakaikan pakaian adat Melayu Bengkalis. Berandam merupakan simbol penyucian pengantin perempuan dari berbagai dosa. 

    Khatam Kaji

    Tahap ini diisi dengan membaca kitab suci Alquran dari surat Dhuha hingga surat terakhir. Khatam kaji biasa digelar jam 11.00 siang dan dilakukan oleh orang-orangtua laki-laki dan laim ulama.

    Upacara Langsung

    Upacara langsung adalah upacara menyandingkan kedua pengantin di pelaminan di rumah pengantin perempuan. Upacara ini biasanya digelar pada siang hari. Pengantin perempuan berpakaian adat Melayu Bengkalis. Setelah siap, seseorang diutus untuk memberitahukan dan menjemput pengantin laki-laki bahwa upacara bersanding siap dimulai. Setelah sebelumnya makan bersama, pengantin laki-laki akan berangkat dari rumahnya diiringi orangtua dan kaum kerabat menuju rumah pengantin perempuan.

    Berarak

    Perjalanan dari rumah pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan disebut sebagai prosesi berarak (mengarak pengantin). Umumnya, pengantin laki-laki akan digendong oleh pak cik atau pamannya sebagai harapan bahwa mereka berasal dari keluarga terhormat. Pengantin laki-laki berpakaian adat Melayu Bengkalis. Sesampai di rumah pengantin perempuan, pengantin laki-laki didudukkan di kursi yang telah disediakan dan disambut dengan tabuhan gendang dan seni pencaksilat. Pengantin laki-laki kemudian dibawa menuju pintu rumah dan di sana ditutupkan kain pada kepalanya.

    Membuka Pintu

    Sesampai di depan pintu, tukang andam melantunkan pantun yang kemudian dijawab oleh rombongan pengantin laki-laki. Pantun berbalas yang bisa berupa pujian maupun sindiran ini menjadi ritual sebelum masuk rumah. Setelah itu, pengantin laki-laki menyodorkan amplop berisi uang (uang lelawe) kepada tukang andam sebagai tanda pembuka pintu. Pintu rumah tidak akan dbuka sebelum uang lelawe ini diberikan.

    Bersanding

    Setelah berbalas pantun, pengantin laki-laki dibimbing Mak Andam menuju ke pelaminan dan didudukkan di samping pengantin perempuan yang ditutup kepalanya dengan pura-pura tidur. Lalu, Mak Andam mengambil sirih lelat dari tangan pengantin laki-laki dan memutar-mutarkannya di atas kepada kedua pengantin sebanyak 7 kali. Konon, jika sirih lelat ini dimakan oleh anak gadis atau bujang, maka niscaya ia akan cepat dapat jodoh.

    Makan Bersuap

    Sesaat setelah bersanding, Mak Andam memberikan nasi pulut kuning kepada kedua pengantin agar mereka saling bersuap. Saat pengantin laki-laki menyuapi pengantin perempuan, pengantin perempuan memalingkan muka tanda malu. Prosesi ini merupakan tanda kasih sayang di antara kedua mempelai.

    Makan Hadap-hadapan

    Mak Andam membimbing kedua mempelai turun dari pelaminan menuju sebuah ruangan. Di ruangan ini, kedua pengantin makan sambil berhadap-hadapan disaksikan kerabat dan tamu yang hadir. Prosesi ini sebagai simbol kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian istri kepada suami.

    Menyembah Mertua

    Malam harinya, kedua mempelai beserta rombongan pergi ke rumah pengantin laki-laki untuk melakukan prosesi menyembah mertua. Pengantin perempuan dipanggul di atas kursi yang diikat dengan kayu. Baik mertua maupun sanak keluarga memberikan buah tangan berupa uang, kain, atau baju sebagai hadiah sebagai ucapan selamat. Setelah itu, diadakan makan bersama. Usai itu, pengantin dan rombongan pulang ke rumah pengantin perempuan. Di sana, biasanya digelar acara kesenian. Pada malam berikutnya, orangtua pengantin laki-laki bergantian menjemput pengantin perempuan ke rumahnya. Setelah acara ini, kedua pengantin baru boleh keluar rumah.

    Mandi Taman

    Sehari setelah acara bersanding, kedua pengantin dimandikan menggunakan air yang telah dimantrai (air tolak bala), dicampur dengan bunga-bunga tertentu. Sebelum mandi taman, dagu kedua pengantin diusap dengan tepung tawar, batu asahan, telur ayam, dan batu cincin. Setelah itu, pengantin didudukkan di kursi, lalu Mak Andam mengelilingi mereka sebanyak 7 kali sambil membawa kelengkapan mandi. Oleh Mak Andam, kedua pengantin dibasahi mulai dari kepala, muka, lalu badan. Seusai mandi, kedua pengantin berganti pakaian lalu dibimbing menuju bilik seraya menginjak padi yang ada dalam dulang. Kedua pengantin diselubungi kain panjang sebagai pertanda awal dari hubungan kedua suami istri. Sepanjang menuju bilik, kedua pengantin ditaburi bunga rampai yang dicampur kepingan uang logam yang kemudian diperebutkan anak-anak kecil

    Makan Nasi Damai

    Selepas mandi taman, kedua pengantin didudukkan di pelaminan lalu diberikan hidangan nasi pulut putih oleh orangtua pengantin laki-laki. Nasi ini disebut dengan nasi damai karena pertanda bahwa pihak keluarga pengantin laki-laki ikut bertanggung jawab atas kedamaian keluarga kedua mempelai. 

c. Penutup

Acara ditutup dengan upacara menyembah yang dilakukan pada malam keempat selepas bersanding. Kedua pengantin akan pergi ke sanak kerabat untuk bersalaman dan memohon doa restu. Upacara ini juga bertujuan mendekatkan keluarga kedua pengantin.

6. Doa-doa

Dalam upacara adat perkawinan Melayu Bengkalis terdapat doa-doa khusus, antara lain:

  1. Doa permohonan agar kedua mempelai sehat dan damai kehidupannya.
  2. Doa permohonan agar kedua mempelai beserta keluarganya dijauhkan dari bencana.
  3. Doa permohonan pembesihan doa saat berandam.

7. Pantangan dan Larangan

Kedua pengantin dilarang keluar rumah sampai keduanya melakukan prosesi menyembah mertua di rumah pengantin laki-laki. 

8. Nilai-nilai

Upacara adat perkawinan orang Melayu Bengkalis memuat nilai-nilai dalam dalam kehidupan, antara lain:

  1. Pelestarian tradisi. Upacara adat perkawinan ini adalah ajaran leluhur. Oleh karena itu, mempraktekkan ajaran ini secara tidak langsung merupakan salah satu upaya dalam melestarikan tradisi leluhur.
  2. Melanjutkan generasi. Salah satu tujuan perkawinan adalah mencetak generasi penerus sehingga sejarah dan budaya di keluarga atau kelompok masyarakat tersebut akan berkembang.
  3. Pelestarian sastra tradisional. Nilai ini terlihat dari pantun berbalas yang diucapkan saat pertunangan.
  4. Mempererat dan memperluas hubungan keluarga. Nilai ini tercermin dari tujuan perkawinan itu sendiri, yakni menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar.

9. Penutup

Secara umum, adanya upacara adat perkawinan ini menjadi bukti kekayaan kebudayaan Melayu. Selain itu, upacara ini juga menjadi bukti bahwa leluhur Melayu Bengkalis sangat menghargai siklus kehidupan, hal ini terbukti dari begitu rincinya prosesi adat ini digelar.

(Yusuf Efendi/Bdy/86/09-2011) 

Referensi

Ibrahim Mukhtar, 2002. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Bengkalis. Bengkalis: Riau
_________, 2002. Adat dan Kebudayaan serta Tabiat Orang Melayu. Bengkalis: Riau
MS. Suwardi, 1991. Budaya Melayu dalam Perjalanannya Menuju Masa Depan. Pusat Penelitian Universitas Riau: Riau.
Tim Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau (P2BKM-UNRI), 2003. Budaya Tradisional Bengkalis. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis.

Dibaca : 34.822 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password