Jumat, 25 April 2014   |   Sabtu, 24 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 161
Hari ini : 4.448
Kemarin : 19.255
Minggu kemarin : 147.823
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.635.565
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Ungkapan Melayu tentang Sikap Menghargai Kebebasan Berpendapat

Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan berpendapat berisi ajaran adat Melayu dan pentingnya menghargai pendapat orang lain.

1. Asal-usul

Keterbukaan dan saling menghargai adalah budi pekerti sosial yang penting dalam kehidupan, termasuk dalam masyarakat Melayu. Dalam kehidupan Melayu terdapat tradisi ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan mengeluarkan pendapat yang selalu ditekankan dalam setiap musyawarah adat. Hal ini menjadi bukti bahwa leluhur Melayu menghargai pendapat orang lain (Nizamil Jamil, ed., 1982).

Ungkapan ini berisi petuah-petuah bijak tentang menghargai perbedaan pendapat orang lain. Azas ini merupakan salah satu metode untuk menemukan mufakat yang dianggap paling adil. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era sekarang, azas ini juga menjadi hal yang penting untuk membangun demokrasi (Budi S. Santoso, 1986). Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan mengeluarkan pendapat  dilakukan oleh para pemimpin Melayu ketika mulai membentuk masyarakat. Cara pengungkapannya adalah dengan didendangkan lewat ungkapan atau pantun (Tenas Effendy, 1991).    

2. Konsepsi Ungkapan Melayu tentang Sikap Menghargai Kebebasan Berpendapat

Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan ajaran adat bagi masyarakat Melayu. Berikut ini adalah untaian bait-bait dari ungkapan tersebut:

Lidah diboi gelanggang cakap
Lidah diberi gelanggang cakap 

Tangan diboi melenggang
Tangan diberi melenggang 

Kaki diboi melangkah
Kaki diberi melangkah 

Duduk diboi bekiso
Duduk diberi berkisar 

Togak diboi bepaling
Tegak diberi berpaling 

Yang teaso-aso disingkapkan
Yang terasa-rasa disingkapkan 

Yang tekilan-kilan didedahkan
Yang terkilan-kilan didedahkan 

Bu-uk disingkap, busuk dibendangkan
Buruk disingkap, busuk dibendangkan 

Bepait-pait dulu, bemanis-manis kemudian
Berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian 

Mencai yang elok, dikaji bu-uknya
Mencari yang elok, dikaji buruknya 

Sebelum awak becakap, dongokan cakap orang
Sebelum awak bercakap, dengarkan cakap orang 

Adat beunding, cakap orang jangan didinding
Adat berunding, cakap orang jangan didinding 

Adat mufakat, cakap orang jangan disokat
Adat mufakat, cakap orang jangan disekat 

Adat bebangso, lopaskan bicao
Adat berbangsa, lepaskan bicara 

Pantang menyumbat mulut orang
Pantang menyumbat mulut orang 

Pantang mematah cakap orang
Pantang mematah cakap orang 

Pantang mengikat lidah orang
Pantang mengikat lidah orang 

Pantang memasung tangan orang
Pantang memasung tangan orang 

Pantang menyokat langkah orang
Pantang menyekat langkah orang 

Mato diboi memandang
Mata diberi memandang 

Telingo diboi mendongo
Telinga diberi mendengar 

Jangan dipago laman orang
Jangan dipagar halaman orang 

Jangan disongkang mulut orang
Jangan disengkang mulut orang 

Jangan dipasak telingo orang
Jangan dipasak telinga orang 

Jangan dibokap mato orang
Jangan dibekap mata orang 

Jangan diku-ung pendapat orang
Jangan dikurung pendapat orang 

Jangan ditambat kaki orang
Jangan ditambat kaki orang 

Jangan dikungkung lenggang orang
Jangan dikungkung lenggang orang 

Pado yang elok pasang telingo
Pada yang elok pasang telinga 

Pado yang patut bukakkan mato
Pada yang patut bukakkan mata

3. Nilai-nilai

Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan mengeluarkan pendapat mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:

  1. Menghargai orang lain. Nilai ini tercermin dari bait-bait ungkapan tersebut yang menyatakan penghargaan terhadap sesama.  
  2. Kepemimpinan. Nilai ini tercermin dari bait-bait ungkapan Melayu yang ditujukan untuk para pemimpin, baik pemimpin masyarakat maupun keluarga, agar menghargai pendapat rakyat.
  3. Melestarikan sastra tradisional. Nilai ini tercermin dari bait-bait ungkapan Melayu sebagai karya sastra. Hal ini mencerminkan bahwa sastra memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Melayu.
  4. Menjaga adat. Ungkapan Melayu merupakan karya leluhur yang dijadikan adat orang Melayu. Oleh karena itu mempelajari ungkapan-ungkapan ini secara tidak langsung juga menjaga adat-istiadat Melayu.
  5. Menjunjung nilai demokrasi. Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan berpendapat merupakan salah satu ciri penerapan demokrasi yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam pengambilan keputusan.

4. Penutup

Ungkapan Melayu tentang sikap menghargai kebebasan berpendapat membuktikan bahwa orang Melayu sudah mengenal dan mengajarkan demokrasi sejak dulu, bahkan ketika wilayah Melayu masih berupa kerajaan (feodal). Oleh karena itu, kajian demokrasi Melayu menjadi menarik untuk diperdalam lagi.

(Yusuf Efendi/Bdy/94/10-2011). 

Referensi

Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan kebudayaannya. Riau: Pemda.

Nizamil Jamil, ed., 1982. Upacara perkawinan adat Riau. Riau: Bumi Pustaka

Tenas Effendy, 1991. Adat istiadat dan upacara perkawinan di bekas Kerajaan Pelalawan. Riau: Lembaga Adat Daerah.

Dibaca : 2.367 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password