Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 767
Hari ini : 3.249
Kemarin : 20.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.274.476
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Metulak: Upacara Tolak Bala Orang Sasak, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Metulak adalah upacara adat orang Melayu Sasak untuk menolak bala, baik yang berasal dari hewan, manusia lain, maupun roh jahat.

A.Asal-usul

Suku Sasak merupakan suku asli di Bumi Gora (Lombok) yang hidup sejak ratusan tahun silam. Kehidupan suku Sasak sarat dengan nilai adat istiadat beserta upacara-upacaranya. salah satu upacara adat yang masih dipraktekkan oleh suku Sasak adalah metulak. Meskipun kini prosesi metulak tidak dilakukan secara utuh, namun upacara ini masih sering digelar, khususnya oleh penduduk pedesaan (John Ryan Bartolomew, 2001: 45; Lalu Wacana dkk, 1985: 16).

Metulak dari awalan “me” dan kata “tulak”. Awalan “me” biasa digunakan orang Sasak untuk kata apapun, sedangkan kata “tulak” bermakna kembali, sehingga arti dari kata metulak adalah mengembalikan. Orang Sasak sering menyebut metulak sebagai upacara tolak bala, untuk menolak hama, penyakit, atau gangguan roh jahat. Belum ada sumber yang menyebutkan kapan pertama kali upacara metulak digelar. Namun, berdasarkan tradisi lisan, metulak pertama kali digelar oleh leluhur Sasak yang tinggal di desa Pujut, Lombok Tengah (Wacana dkk, 1985: 17).  

Pelaksanaan upacara metulak diistilahkan dengan besentulak. Semula upacara ini adalah tradisi leluhur praIslam, namun dalam perkembangan kemudian pengaruh Islam mulai masuk. Berdasarkan pengaruh Islam tersebut, maka kini pelaksanaan besentulak umumnya diisi pembacaan barzanji, yaitu syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, bukan mantra-mantra seperti zaman dulu. Meskipun demikian, ritual leluhur praIslam tersebut masih tampak dari syarat-syarat dan makna simbol yang mengiringi pelaksanaan besentulak (Wacana dkk, 1985: 17; Erni Budiwanti, 2000: 56).      

B.Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan metulak disesuaikan dengan tujuannya. Metulak lazim digelar dua hari dua malam. Jika metulak digelar untuk menolak penyakit (wabah) di desa, maka  umumnya digelar empat tahun sekali. Namun, ada pula yang menyebutkan jika metulak digelar setiap satu atau enam tahun sekali.

Setidaknya terdapat enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang diiringi dengan prosesi metulak, yaitu:

  1.  Saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit   
  2. Saat pendirian dan penempatan rumah baru
  3. Saat potong rambut bayi
  4. Menjelang keberangkatan haji
  5. Saat wabah penyakit cacar (ngayah) menyerang
  6. Saat padi mulai berisi (Wacana dkk, 1985: 18). 

Seluruh upacara metulak di atas digelar di rumah orang yang mempunyai hajat, kecuali untuk menolak wabah cacar, metulak digelar di rumah adat desa.

C.Pemimpin dan Peserta Upacara

Pada mulanya, upacara metulak dipimpin oleh kepala desa (datu). Ia akan dibantu oleh penowaq (orang yang dituakan), keliang (pembantu kepala desa), kyai, petabah (kelompok pembaca lontar), belian (dukun), dan pemangku. Namun sekarang, metulak dipimpin oleh seorang ustadz atau ulama.

Masing-masing pelaku metulak memiliki tugas dan kewajiban tersendiri. Penowaq bertugas mengundang roh leluhur dan Dewi Anjani (pemimpin jin di Gunung Rinjani). Penowaq umumnya dibantu oleh perempuan-perempuan tua yang tidak haid lagi (menopause) dan nyai (istri kyai). Keliang bertugas membantu kepala desa. Sedangkan kyai bertugas memimpin doa. 

Metulak dihadiri oleh anggota keluarga, kerabat, dan warga desa. Saat menghadiri upacara, warga biasanya akan membawa botol kosong dan uang sholawat minimal sembilan kepeng (kepeng merupakan mata uang yang hanya dipergunakan sebagai syarat sebuah ritual, bukan alat tukar sebagaimana mata uang pada umumnya). Botol itu nantinya akan diisi air yang telah didoakan oleh belian. Air tersebut akan diminumkan kepada anggota keluarga yang sakit dan berfungsi sebagai obat serta tolak bala.    

D.Peralatan dan Bahan yang dibutuhkan

Berikut ini adalah peralatan dan bahan yang diperlukan dalam upacara metulak, antara lain:

  • Dupa, dula merah atau kemenyan
  • Dulang berisi satu piring bubur putih, bubur merah, dan ketan yang digoreng sangan (moto seong)
  • Bokor dari kuningan, di dalamnya berisi sembilan buah gulungan sirih dengan kapurnya yang diikat dengan benang putih, sembilan batang rokok yang diikat benang putih, benang lima warna (putih, hitam, kuning, merah, dan ungu), dan ampas bekas kunyahan sirih (sembek)
  • Tempayan berisi air dan daun beringin
  • Pucuk enau sebagai rambu-rambu (saweq).

Bahan-bahan tersebut ditata berjajar dari utara ke selatan secara berurutan, mulai dari pucuk enau, tempayan, bokor, dulang, dan dupa. Pucuk enau ditancapkan di tanah (Wacana dkk, 1985: 20).   

E.Prosesi pelaksanaan

Secara umum, prosesi pelaksanaan upacara adat metulak lazimnya terbagi dalam tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Berikut adalah rinciannya.

1.Persiapan

Persiapan dikerjakan pada hari pertama rangkaian upacara. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap persiapan antara lain:

  • Musyawarah yang dilakukan pada hari pertama (jelo alit). Musyawarah diadakan di rumah kepala desa atau salah satu pemuka masyarakat yang dihadiri oleh para pemuka masyarakat, kepala desa, pemangku adat, dan kiai. Musyawarah bertujuan untuk memutuskan beberapa hal penting, seperti tempat upacara, waktu, dan proses penyelenggaraan upacara.
  • Pembuatan saweq di setiap rumah tangga
  • Mendirikan terop dari bambu dan anyaman daun kelapa (kelansah)
  • Membuat das, yaitu pondok kecil dari kayu beratap ilalang tanpa dinding, sedangkan  lantai terbuat dari bilah bambu yang dianyam dengan ijuk atau rotan.
  • Mendirikan tempayan yang ditutup kelambu dan diberi langit-langit
  • Penjemputan tombak (mereka menyebutnya tombak Jogja). Tombak dijemput oleh dua orang berpakaian adat
  • Menyiapkan lima panginang, yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah, dan sembeq.
  • Pembacaan lontar hikayat Nabi Yusuf
  • Memasak gulai ayam
  • Menggelar tarung peresean

Mencari beragam jenis tumbuhan sebagai hiasan tempayan, seperti tumbuhan nagasari, tandan uwar, atau injan bote. Tumbuhan tersebut tidak mudah ditemukan. Oleh karena itu, tumbuhan terkadang dicari hingga harus masuk hutan atau ke desa lain (Wacana dkk, 1985: 23). 

2.Pelaksanaan

Upacara adat metulak dimulai setelah semua persiapan telah selesai (biasanya selesai menjelang Sholat Isya). Acara pertama adalah pembacaan barzanji atau disebut syarakalan oleh orang Lombok. Pembacaan barzanji dilakukan bergantian oleh setiap jamaah dipimpin oleh kyai dan pemangku. Prosesi ini memerlukan waktu yang lama karena jumlah syair yang dibacakan dalam barzanji mencapai ratusan,

Selama pembacaan barzanji berlangsung, berbagai makanan tradisional Lombok terus disuguhkan. Orang Sasak menyebut penyuguhan makanan ini dengan istilah metun menaek (menurunkan dan menaikkan). Makanan yang disuguhkan mengandung simbol tertentu, misalnya, tape (poteng) merupakan simbol daging manusia, tebu simbol tulang, sumping simbol sum-sum, jongkong simbol isi dalam tubuh, tombek simbol isi dalam tubuh, ketupat dan tekel simbol pria dan wanita, dan rowut simbol kehidupan (Wacana dkk, 1985: 25). 

Seusai pembacaan barzanji dilanjutkan pembacaan kisah (cakepan) Nabi Yusuf yang masih tertulis dalam lontar. Pembacaan dilakukan oleh petabah (kelompok pembaca). Petabah terdiri dari kyai, pemangku, dan beberapa orang jamaah. Lazimnya, kyai yang membaca lalu pemangku menerjemahkannya, namun terkadang juga sebaliknya. Dalam bahasa Sasak, penerjemah lontar disebut pembayun (Lalu Wacana dkk, 1985: 26). 

Acara ini berlangsung hingga pertengahan malam, bahkan subuh. Pembacaan dilakukan dengan alat penerangan tradisional, yakni lampu biji jarak atau minyak kelapa. Alat kelengkapan lainya adalah penginang tulis, air bunga, dan serabi. Semua peralatan tersebut diletakkan di dekat lontar.

Pada saat pembacaan mencapai sembilan bait (timpak), bacaan dihentikan sejenak untuk diselingi membuka serabi. Serabi dibuka oleh kyai atau pemangku, dicampur santan, digarami, lalu dicicipi sebanyak tiga kali oleh kyai atau pemangku. Pada tiap akhir bait ketika bercerita tentang Nabi Yusuf dimasukkan ke sumur oleh saudaranya, lontar dibasuh dengan air. Air tersebut nantinya akan dibagikan kepada petani untuk ditebarkan ke sawah sebagai penolak bala. Setelah itu, serabi ditutup dan didoakan, lalu dilanjutkan membaca cakepan lagi (Wacana dkk, 1985: 30). 

Setelah cakepan, prosesi selanjutnya adalah pembacaan doa rowah yang dipimpin oleh kyai. Seusai berdoa, semua hadirin makan bersama. Sebelum mulai makan bersama, di depan kyai diatur alat-alat seperti dolang, panginag rowah, bunga celupan lampu biji jarak, dan kemenyan.

3.Penutup

Acara terakhir dari metulak adalah doa yang dipimpin oleh kyai. Doa yang dibaca antara lain adalah doa kubur dan doa selamat. Selain kedua doa tersebut, kyai juga memimpin untuk membaca Surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali, Al Fatihah, dan bagian awal surat Al Baqarah. Dalam prosesi ini, para jamaah juga melantunkan dzikir dengan mengucap la ilaha illallah sebanyak seratus kali.

Usai berdoa dan makan, pemangku mencampurkan air selao dengan air bunga celupan lampu jarak. Air lalu dibagikan kepada petani yang membutuhkan. Setelah mendapat air, para petani akan langsung ke sawah untuk menyiramkan air tersebut ke sawah mereka. Sebagian mereka siramkan ke sekitar rumah, kandang, dan lingkungan mereka. Mereka berharap air itu dapat menolak segala penyakit yang datang. Pembagian air menandai selesainya upacara metulak.    

Pada keesokan hari diadakan permainan peresean, yakni adu pukul antara dua orang menggunakan sebilah rotan. Masing-masing dibekali tameng dari kulit kambing atau rajutan rotan. Peresean pada awalnya merupakan permainan semata, namun pada perkembangan kemudian bergeser menjadi ajang uji keberanian dan kekuatan jimat (bebadong) (Wacana dkk, 1985: 32). Peresean berlangsung hingga dari pagi hingga sore hari.  

F.Pantangan

Penyelenggaran upacara ini harus sesuai tradisi, oleh karena itu, beberapa pantangan adat harus dipenuhi. Pantangan-pantangan tersebut antara lain:

  • Para perempuan pembantu pemangku harus seorang yang sudah tidak haid (menopause)
  • Kaum lelaki harus bersih jasmani dan rohaninya
  • Pada malam upacara, orang-orang yang terlibat dalam upacara dilarang melakukan hubungan badan
  • Upacara tidak boleh digelar sebelum bulan ke sepuluh. Upacara diadakan setelah penangkapan nyale (cacing). Pada zaman dahulu ditandai ketika padi mulai merunduk
  • Hari upacara adalah Rabu dan Sabtu

Dahulu, tempat upacara harus di lapangan yang terletak di tenggara desa, karena sesuai dengan arah mata iasa leluhur. Namun, sekarang ias di mana saja (Wacana dkk, 1985: 34). 

F.Nilai-nilai

Upacara adat metulak memiliki nilai-nilai yang penting bagi orang Sasak, antara lain:

  1. Nilai kebersamaan. Nilai ini tercermin dalam proses persiapan upacara yang dilakukan oleh warga desa. Rasa kebersamaan sebagai satu keluarga besar yang saling membutuhkan dalam kehidupan sosial seakan lebur dalam prosesi ini.
  2. Nilai ketaatan pada agama dan adat. Upacara metulak merupakan perintah adat sekaligus terpengaruh oleh tradisi dalam agama Islam, misalnya dalam prosesi khitan dan memotong rambut bayi. Upacara ini mencerminkan bahwa masyarakat Sasak adalah pemeluk agama Islam dan penjaga adat yang taat.
  3. Nilai simbol. Nilai ini tercermin dari simbol atau makna dari syarat-syarat upacara. Misalnya, tape (poteng) merupakan simbol daging manusia, tebu simbol tulang, sumping simbol sum-sum, jongkong simbol isi dalam tubuh, tombek simbol isi dalam tubuh, ketupat dan tekel simbol pria dan wanita, dan rowut simbol kehidupan.    
  4. Nilai melestarikan tradisi. Nilai ini tercermin dari pelaksanaan upacara itu sendiri. Upacara adat metulak merupakan tradisi leluhur Sasak. Oleh karena itu, pelaksanaan upacara ini merupakan upaya mereka untuk melestarikan tradisi leluhur.  

G.Penutup

Metulak mencerminkan kepercayaan masyarakat tradisional dalam hal makhluk halus. Kepercayaan ini semakin kukuh dipertahankan ketika Islam masuk dan mengakui pula adanya makhluk gaib. Perpaduan antara tradisi dan agama berpadu apik dalam metulak.

(Yusuf Efendi/Bdy/106/11-2011)

Referensi

Erni Budiwanti, 2000. Islam Sasak, Wetu Lima versus Wetu Telu. Yogyakarta: Kanisius.

John Ryan Bartolomew, 2001. Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lalu Wacana dkk, 1985. Upacara tradisional yang berkaitan dengan peristiwa alam dan kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber Foto: http://boykomar.multiply.com

 

Metulak adalah upacara adat orang Melayu Sasak untuk menolak bala, baik yang berasal dari hewan, manusia lain, maupun roh jahat.

A.Asal-usul

Suku Sasak merupakan suku asli di Bumi Gora (Lombok) yang hidup sejak ratusan tahun silam. Kehidupan suku Sasak sarat dengan nilai adat istiadat beserta upacara-upacaranya. salah satu upacara adat yang masih dipraktekkan oleh suku Sasak adalah metulak. Meskipun kini prosesi metulak tidak dilakukan secara utuh, namun upacara ini masih sering digelar, khususnya oleh penduduk pedesaan (John Ryan Bartolomew, 2001: 45; Lalu Wacana dkk, 1985: 16). 
Metulak dari awalan “me” dan kata “tulak”. Awalan “me” biasa digunakan orang Sasak untuk kata apapun, sedangkan kata “tulak” bermakna kembali, sehingga arti dari kata metulak adalah mengembalikan. Orang Sasak sering menyebut metulak sebagai upacara tolak bala, untuk menolak hama, penyakit, atau gangguan roh jahat. Belum ada sumber yang menyebutkan kapan pertama kali upacara metulak digelar. Namun, berdasarkan tradisi lisan, metulak pertama kali digelar oleh leluhur Sasak yang tinggal di desa Pujut, Lombok Tengah (Wacana dkk, 1985: 17).  
Pelaksanaan upacara metulak diistilahkan dengan besentulak. Semula upacara ini adalah tradisi leluhur praIslam, namun dalam perkembangan kemudian pengaruh Islam mulai masuk. Berdasarkan pengaruh Islam tersebut, maka kini pelaksanaan besentulak umumnya diisi pembacaan barzanji, yaitu syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, bukan mantra-mantra seperti zaman dulu. Meskipun demikian, ritual leluhur praIslam tersebut masih tampak dari syarat-syarat dan makna simbol yang mengiringi pelaksanaan besentulak (Wacana dkk, 1985: 17; Erni Budiwanti, 2000: 56).      

B.Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan metulak disesuaikan dengan tujuannya. Metulak lazim digelar dua hari dua malam. Jika metulak digelar untuk menolak penyakit (wabah) di desa, maka  umumnya digelar empat tahun sekali. Namun, ada pula yang menyebutkan jika metulak digelar setiap satu atau enam tahun sekali.

Setidaknya terdapat enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang diiringi dengan prosesi metulak, yaitu:

1.      Saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit   

2.      Saat pendirian dan penempatan rumah baru

3.      Saat potong rambut bayi

4.      Menjelang keberangkatan haji

5.      Saat wabah penyakit cacar (ngayah) menyerang

6.      Saat padi mulai berisi (Wacana dkk, 1985: 18).

Seluruh upacara metulak di atas digelar di rumah orang yang mempunyai hajat, kecuali untuk menolak wabah cacar, metulak digelar di rumah adat desa.

C.Pemimpin dan Peserta Upacara

Pada mulanya, upacara metulak dipimpin oleh kepala desa (datu). Ia akan dibantu oleh penowaq (orang yang dituakan), keliang (pembantu kepala desa), kyai, petabah (kelompok pembaca lontar), belian (dukun), dan pemangku. Namun sekarang, metulak dipimpin oleh seorang ustadz atau ulama.

Masing-masing pelaku metulak memiliki tugas dan kewajiban tersendiri. Penowaq bertugas mengundang roh leluhur dan Dewi Anjani (pemimpin jin di Gunung Rinjani). Penowaq umumnya dibantu oleh perempuan-perempuan tua yang tidak haid lagi (menopause) dan nyai (istri kyai). Keliang bertugas membantu kepala desa. Sedangkan kyai bertugas memimpin doa. 

Metulak dihadiri oleh anggota keluarga, kerabat, dan warga desa. Saat menghadiri upacara, warga biasanya akan membawa botol kosong dan uang sholawat minimal sembilan kepeng (kepeng merupakan mata uang yang hanya dipergunakan sebagai syarat sebuah ritual, bukan alat tukar sebagaimana mata uang pada umumnya). Botol itu nantinya akan diisi air yang telah didoakan oleh belian. Air tersebut akan diminumkan kepada anggota keluarga yang sakit dan berfungsi sebagai obat serta tolak bala.    

D.Peralatan dan Bahan yang dibutuhkan

Berikut ini adalah peralatan dan bahan yang diperlukan dalam upacara metulak, antara lain:

Ÿ          Dupa, dula merah atau kemenyan

Ÿ          Dulang berisi satu piring bubur putih, bubur merah, dan ketan yang digoreng sangan (moto seong)

Ÿ          Bokor dari kuningan, di dalamnya berisi sembilan buah gulungan sirih dengan kapurnya yang diikat dengan benang putih, sembilan batang rokok yang diikat benang putih, benang lima warna (putih, hitam, kuning, merah, dan ungu), dan ampas bekas kunyahan sirih (sembek)

Ÿ          Tempayan berisi air dan daun beringin

Ÿ          Pucuk enau sebagai rambu-rambu (saweq).

Bahan-bahan tersebut ditata berjajar dari utara ke selatan secara berurutan, mulai dari pucuk enau, tempayan, bokor, dulang, dan dupa. Pucuk enau ditancapkan di tanah (Wacana dkk, 1985: 20).  

E.Prosesi pelaksanaan

Secara umum, prosesi pelaksanaan upacara adat metulak lazimnya terbagi dalam tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Berikut adalah rinciannya.

1.   Persiapan

Persiapan dikerjakan pada hari pertama rangkaian upacara. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap persiapan antara lain:

·          Musyawarah yang dilakukan pada hari pertama (jelo alit). Musyawarah diadakan di rumah kepala desa atau salah satu pemuka masyarakat yang dihadiri oleh para pemuka masyarakat, kepala desa, pemangku adat, dan kiai. Musyawarah bertujuan untuk memutuskan beberapa hal penting, seperti tempat upacara, waktu, dan proses penyelenggaraan upacara.

·          Pembuatan saweq di setiap rumah tangga

·          Mendirikan terop dari bambu dan anyaman daun kelapa (kelansah)

·          Membuat das, yaitu pondok kecil dari kayu beratap ilalang tanpa dinding, sedangkan  lantai terbuat dari bilah bambu yang dianyam dengan ijuk atau rotan.

·          Mendirikan tempayan yang ditutup kelambu dan diberi langit-langit

·          Penjemputan tombak (mereka menyebutnya tombak Jogja). Tombak dijemput oleh dua orang berpakaian adat

·          Menyiapkan lima panginang, yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah, dan sembeq.

·          Pembacaan lontar hikayat Nabi Yusuf

·          Memasak gulai ayam

·          Menggelar tarung peresean

Mencari beragam jenis tumbuhan sebagai hiasan tempayan, seperti tumbuhan nagasari, tandan uwar, atau injan bote. Tumbuhan tersebut tidak mudah ditemukan. Oleh karena itu, tumbuhan terkadang dicari hingga harus masuk hutan atau ke desa lain (Wacana dkk, 1985: 23).  

2.   Pelaksanaan

Upacara adat metulak dimulai setelah semua persiapan telah selesai (biasanya selesai menjelang Sholat Isya). Acara pertama adalah pembacaan barzanji atau disebut syarakalan oleh orang Lombok. Pembacaan barzanji dilakukan bergantian oleh setiap jamaah dipimpin oleh kyai dan pemangku. Prosesi ini memerlukan waktu yang lama karena jumlah syair yang dibacakan dalam barzanji mencapai ratusan,

Selama pembacaan barzanji berlangsung, berbagai makanan tradisional Lombok terus disuguhkan. Orang Sasak menyebut penyuguhan makanan ini dengan istilah metun menaek (menurunkan dan menaikkan). Makanan yang disuguhkan mengandung simbol tertentu, misalnya, tape (poteng) merupakan simbol daging manusia, tebu simbol tulang, sumping simbol sum-sum, jongkong simbol isi dalam tubuh, tombek simbol isi dalam tubuh, ketupat dan tekel simbol pria dan wanita, dan rowut simbol kehidupan (Wacana dkk, 1985: 25).  
Seusai pembacaan barzanji dilanjutkan pembacaan kisah (cakepan) Nabi Yusuf yang masih tertulis dalam lontar. Pembacaan dilakukan oleh petabah (kelompok pembaca). Petabah terdiri dari kyai, pemangku, dan beberapa orang jamaah. Lazimnya, kyai yang membaca lalu pemangku menerjemahkannya, namun terkadang juga sebaliknya. Dalam bahasa Sasak, penerjemah lontar disebut pembayun (Lalu Wacana dkk, 1985: 26).  

Acara ini berlangsung hingga pertengahan malam, bahkan subuh. Pembacaan dilakukan dengan alat penerangan tradisional, yakni lampu biji jarak atau minyak kelapa. Alat kelengkapan lainya adalah penginang tulis, air bunga, dan serabi. Semua peralatan tersebut diletakkan di dekat lontar.

Pada saat pembacaan mencapai sembilan bait (timpak), bacaan dihentikan sejenak untuk diselingi membuka serabi. Serabi dibuka oleh kyai atau pemangku, dicampur santan, digarami, lalu dicicipi sebanyak tiga kali oleh kyai atau pemangku. Pada tiap akhir bait ketika bercerita tentang Nabi Yusuf dimasukkan ke sumur oleh saudaranya, lontar dibasuh dengan air. Air tersebut nantinya akan dibagikan kepada petani untuk ditebarkan ke sawah sebagai penolak bala. Setelah itu, serabi ditutup dan didoakan, lalu dilanjutkan membaca cakepan lagi (Wacana dkk, 1985: 30).  

Setelah cakepan, prosesi selanjutnya adalah pembacaan doa rowah yang dipimpin oleh kyai. Seusai berdoa, semua hadirin makan bersama. Sebelum mulai makan bersama, di depan kyai diatur alat-alat seperti dolang, panginag rowah, bunga celupan lampu biji jarak, dan kemenyan.

3.   Penutup

Acara terakhir dari metulak adalah doa yang dipimpin oleh kyai. Doa yang dibaca antara lain adalah doa kubur dan doa selamat. Selain kedua doa tersebut, kyai juga memimpin untuk membaca Surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali, Al Fatihah, dan bagian awal surat Al Baqarah. Dalam prosesi ini, para jamaah juga melantunkan dzikir dengan mengucap la ilaha illallah sebanyak seratus kali.

Usai berdoa dan makan, pemangku mencampurkan air selao dengan air bunga celupan lampu jarak. Air lalu dibagikan kepada petani yang membutuhkan. Setelah mendapat air, para petani akan langsung ke sawah untuk menyiramkan air tersebut ke sawah mereka. Sebagian mereka siramkan ke sekitar rumah, kandang, dan lingkungan mereka. Mereka berharap air itu dapat menolak segala penyakit yang datang. Pembagian air menandai selesainya upacara metulak.    

Pada keesokan hari diadakan permainan peresean, yakni adu pukul antara dua orang menggunakan sebilah rotan. Masing-masing dibekali tameng dari kulit kambing atau rajutan rotan. Peresean pada awalnya merupakan permainan semata, namun pada perkembangan kemudian bergeser menjadi ajang uji keberanian dan kekuatan jimat (bebadong) (Wacana dkk, 1985: 32). Peresean berlangsung hingga dari pagi hingga sore hari.  

F.Pantangan

Penyelenggaran upacara ini harus sesuai tradisi, oleh karena itu, beberapa pantangan adat harus dipenuhi. Pantangan-pantangan tersebut antara lain:

·          Para perempuan pembantu pemangku harus seorang yang sudah tidak haid (menopause)

·          Kaum lelaki harus bersih jasmani dan rohaninya

·          Pada malam upacara, orang-orang yang terlibat dalam upacara dilarang melakukan hubungan badan

·          Upacara tidak boleh digelar sebelum bulan ke sepuluh. Upacara diadakan setelah penangkapan nyale (cacing). Pada zaman dahulu ditandai ketika padi mulai merunduk

·          Hari upacara adalah Rabu dan Sabtu

Dahulu, tempat upacara harus di lapangan yang terletak di tenggara desa, karena sesuai dengan arah mata iasa leluhur. Namun, sekarang ias di mana saja (Wacana dkk, 1985: 34).  

F.Nilai-nilai

Upacara adat metulak memiliki nilai-nilai yang penting bagi orang Sasak, antara lain:

1.      Nilai kebersamaan. Nilai ini tercermin dalam proses persiapan upacara yang dilakukan oleh warga desa. Rasa kebersamaan sebagai satu keluarga besar yang saling membutuhkan dalam kehidupan sosial seakan lebur dalam prosesi ini.

2.      Nilai ketaatan pada agama dan adat. Upacara metulak merupakan perintah adat sekaligus terpengaruh oleh tradisi dalam agama Islam, misalnya dalam prosesi khitan dan memotong rambut bayi. Upacara ini mencerminkan bahwa masyarakat Sasak adalah pemeluk agama Islam dan penjaga adat yang taat.

3.      Nilai simbol. Nilai ini tercermin dari simbol atau makna dari syarat-syarat upacara. Misalnya, tape (poteng) merupakan simbol daging manusia, tebu simbol tulang, sumping simbol sum-sum, jongkong simbol isi dalam tubuh, tombek simbol isi dalam tubuh, ketupat dan tekel simbol pria dan wanita, dan rowut simbol kehidupan.    

4.      Nilai melestarikan tradisi. Nilai ini tercermin dari pelaksanaan upacara itu sendiri. Upacara adat metulak merupakan tradisi leluhur Sasak. Oleh karena itu, pelaksanaan upacara ini merupakan upaya mereka untuk melestarikan tradisi leluhur.  

G.Penutup

Metulak mencerminkan kepercayaan masyarakat tradisional dalam hal makhluk halus. Kepercayaan ini semakin kukuh dipertahankan ketika Islam masuk dan mengakui pula adanya makhluk gaib. Perpaduan antara tradisi dan agama berpadu apik dalam metulak.

(Yusuf Efendi/Bdy/106/11-2011)

Referensi

Erni Budiwanti, 2000. Islam Sasak, Wetu Lima versus Wetu Telu. Yogyakarta: Kanisius.

John Ryan Bartolomew, 2001. Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lalu Wacana dkk, 1985. Upacara tradisional yang berkaitan dengan peristiwa alam dan kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 9.239 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password