Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.277
Hari ini : 8.565
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.251.194
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kompang

a:3:{s:3:

Kompang ialah sejenis alat musik tradisional yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Melayu. Ia termasuk dalam kategori musik gendang. Kulit kompang biasanya terbuat dari kulit kambing.

Alat musik ini berasal dari Arab dan diperkirakan dibawa masuk ke kawasan tanah Melayu pada masa Kesultanan Malaka oleh pedagang India Muslim, atau melalui Jawa pada abad ke-13 oleh pedagang Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa kompang berasal dari Parsi dan digunakan untuk menyambut kedatangan Rasulullah S.A.W. pada waktu itu. Selain itu, kompang juga digunakan untuk memberi semangat kepada tentara-tentara Islam ketika berperang. Alat musik ini dibawa ke Nusantara oleh pedagang seperti yang dijelaskan sebelumnya. Jenis musik ini mendapat sambutan yang baik di kalangan penduduk Rumpun Melayu, khususnya orang Jawa. Kompang terdiri dari berbagai ukuran. Ada yang berukuran garis pusat sepanjang 22.5 cm, 25 cm, 27.5 cm dan ada juga yang mencapai 35 cm.

Cara pembuatan kompang

  1. Kayu yang berkualitas
  2. Kayu dipotong dengan menggunakan mesin lathe untuk membentuk satu bulatan dengan ukuran yang dikehendaki.
  3. Potongan kayu ini dipoles degan lilin, lalu dijemur di tempat yang tidak terkena langsung sinar matahari selama tiga bulan.
  4. Setelah kering, kulit kambing ditempelkan pada permukaan bulatan dan dikencangkan.
  5. beludru dililitkan di sekeliling bulatan.
  6. Paku disematkan, agar kulit tersebut selalu dalam keadaan tegang.

Kompang dimainkan secara beregu dalam keadaan duduk, berdiri atau berjalan. Jika kompang dimainkan dalam acara berzanji, pemain akan duduk bersila atau duduk di atas kursi. Jika dimainkan dalam acara pernikahan dan pawai menyambut pejabat daerah atau pejabat negara, pemain kompang ini berjalan mengiringi pengantin atau pejabat daerah, atau pejabat negara tersebut.

Kompang dimainkan dengan menggunakan kedua belah tangan. Sebelah tangan memegang kompang, dan sebelah tangan lagi memukul kompang. Terdapat tiga rentak dalam permainan kompang, yaitu rentak biasa, rentak kencet, dan rentak sepulih. Rentak yang biasa dimainkan ialah rentak biasa. Rentak kencet ialah rentak di tengah-tengah pukulan, kemudian seolah-olah terhenti seketika. Sedangkan rentak sepulih dimainkan untuk kembali pada rentak lagu pertama.

Regu kompang ini dibagi lagi menjadi tiga kelompok bagian dengan fungsinya masing-masing. Pertama, kelompok yang bertindak sebagai ‘pembolong‘ yang akan memukul kompang dengan bunyi pukulan khusus secara seragam. Pukulan jenis ini dikenal sebagai pukulan dasar. Kedua, kelompok yang bertindak sebagai ‘peningkah‘ dan berperan sebagai master untuk mengawal keseluruhan bentuk dan corak (irama) permainan. Ketiga adalah kelompok yang dikenal sebagai ‘penyilang‘ yang akan melengkapi rentak pada keseluruhan pola pukulan kompang.

Alat musik kompang ini harus dijaga dengan baik. Sebagian masyarakat Melayu percaya bahwa kompang harus diletakkan pada suatu tempat tertentu, tidak boleh dilangkahi atau dipijak. Jika hal seperti itu tidak diindahkan, maka orang tersebut akan dirasuki oleh “syeikh”, seperti tidak sadarkan diri ketika memukul kompang. Pukulan tersebut terus dilakukan oleh orang yang kesurupan itu, hingga ia cedera, atau terluka.

Dibaca : 38.218 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password