Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 7.536
Hari ini : 45.404
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.459.794
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tenun Siak Kain Tradisional Riau

Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB) untuk membuat Tenun Siak

A.      Asal-usul

 Dari kapas menjadi benang,

Pilin benang menjadi kain.

Bidal tua Melayu di atas merupakan tugu pengingat dan simbol kreatifitas masyarakat Siak mengubah kapas menjadi tenunan nan eksotik yang menjadi simbol keagungan, yaitu Tenun Siak. Tenun Siak, sebagaimana namanya, merupakan tenunan tradisional yang dihasilkan oleh masyarakat Siak, Provinsi Riau. Tenunan ini telah ada sejak Siak masih berupa kesultanan dengan Tengku Said Ali, bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi (1784-1810),[1] sebagai sultannya (www.melayuonline.com; Adila Suwarno et.al., 2005:101), atau tenunan ini telah berumur lebih dari dua abad.      

Cikal bakal keberadaan tenunan ini bermula ketika Encik Siti Binti Encik Karim, seorang pengrajin tenun dari Kesultanan Trengganu, Malaysia, dibawa ke Kesultanan Siak oleh Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi. Sultan Syarif Ali menugaskan Encik Siti agar mengajari para bangsawan Kesultanan Siak tata cara bertenun (Dekranasda Riau, 2008:7). Oleh karena hanya untuk kaum bangsawan, maka tahap awal keberadaan kerajinan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan busana kaum bangsawan, khususnya para sultan dan keluarganya. Bagi sultan dan kaum bangsawan Siak, tenunan ini menjadi simbol keagungan dan kewibawaan, sedangkan bagi pengrajinnya merupakan simbol pengabdian kepada sultan dan keluarganya (Pusdatin Riau, 2008:115).

Dalam perkembangannya tenunan ini ternyata tidak hanya berkembang di lingkungan Istana Siak, tetapi juga menembus tembok-tembok keraton dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Siak. Yusmar Yusuf (dalam Pusdatin Riau, 2007: 112) mengilustrasikan secara apik betapa tenunan ini telah menyatu dengan masyarakat Siak.

“Di kampung-kampung apabila kita melewati rumah orang-orang yang sedang bertenun, akan terdengar orang melantak sisir dan torak…. trak-trak….. sreeet… trak-trak….. sreeet. Begitulah bunyi torak yang terdengar berirama yang diselingi dengan suara anak dara yang tertawa renyah…”

Perkembangan dari sekedar kerajinan kaum bangsawan menjadi kerajinan yang hidup dan berkembang bersama masyarakat Siak secara keseluruhan, tidak serta merta memudarkan spirit dari keberadaan awal tenunan ini di Kesultanan Siak. Demikian juga dengan perkembangan zaman, walaupun zaman telah berubah dengan segala dinamika yang melingkupinya, nilai-nilai yang terkandung dalam tenunan ini tidak serta-merta juga berubah. Nilai itu adalah pengabdian kepada sultan dan kerabatnya. Salah seorang pengrajin Tenun Siak, Masajo[2], sebagaimana dikutip oleh Yusmar Yusuf (dalam PUSDATIN PUANRI, 2007: 112) mengatakan:

“Pada masa lalu hingga sekarang, menenun bukan saja kerja mencari duit, tetapi juga sebagai bagian dari pengabdian kepada sultan, para datuk-datuk, dan pembesar negeri lainnya… walau tidak seperti dulu, Tenun Siak tetap hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai pusaka yang bernilai… bak setanggi, dia menyeruakkan aroma, dan mengharum hingga kini.”    

Pada awalnya, Tenun Siak dibuat dengan sistim tumpu. Seiring perkembangan zaman, proses pembuatannya juga berubah, yaitu dengan alat yang bernama "Kik". Kik adalah alat tenun yang cukup sederhana, terbuat dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter. Oleh karena alatnya relatif kecil, kain yang dihasilkan juga relatif kecil. Untuk membuat kain sarung misalnya, diperlukan dua helai kain tenun yang disambung menjadi satu (kain berkampuh). Dan seiring perkembangan zaman, alat tenun Kik diganti dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan alat ini, waktu pengerjaan tenunan lebih cepat dengan ukuran kain yang dihasilkan lebih besar.

Sebagaimana kain tradisional Melayu dari daerah lain, seperti Tenun Sambas, Kain Ulos, dan Tenun Lampung, eksistensi Tenun Siak juga mengalami pasang-surut, bahkan semakin lama perkembangannya semakin mengkhawatirkan. Salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan Tenun Siak untuk bersaing dengan produk tekstil modern, baik dalam keindahan desain, efektifitas pengerjaan, maupun harganya. Kondisi ini menyebabkan Tenun Siak semakin lama semakin sedikit, khususnya gernerasi muda, yang mau menggelutinya. Jika kondisi ini dibiarkan, maka bukan hal yang mustahil jika tapak sejarah perjalanan Kesultanan Siak ini musnah tergilas perkembangan zaman.  

Untuk menjamin kelangsungan eksistensi Tenun Siak, para pemangku kepentingan harus bersama-sama melestarikan Tenun Siak. Secara garis besar, ada dua model pelestarian yang harus dilakukan, yaitu secara pasif dan aktif. Secara pasif  yang dapat dilakukan untuk melestarikan Tenun Siak, yaitu: (a) melakukan dokumentasi beragam corak dan motif Tenun Siak. Tenun Siak mempunyai motif dan corak yang sangat kaya, dengan nilai-nilai budaya dan ekonomis yang sangat tinggi. Hanya saja, seiring perkembangan zaman kekayaan corak, motif, dan nilai-nilai yang dikandungnya tersisihkan dan terlupakan. Oleh karena itu, upaya dokumentasi beragam motif dan corak Tenun Siak harus segera dilakukan; (b) mempublikasikan hasil dokumentasi tersebut agar kekayaan motif dan corak Tenun Siak diketahui masyarakat luas, khususnya generasi muda Siak. Dengan cara ini, keragaman corak dan motif Tenun Siak akan diketahui oleh masyarakat, sehingga memungkinkan untuk kembali diingat dan menjadi sumber inspirasi untuk melestarikan dan mengembangkannya; (c) membuat proteksi terhadap motif dan corak Tenun Siak. Dalam era global saat ini, memproteksi keberadaan sebuah produk merupakan sebuah keniscayaan untuk melindunginya dari klaim-klaim pihak tertentu.

Pelestarian secara aktif dapat dilakukan dengan: (a) memperbanyak tenaga pengrajin Tenun Siak. Kendala utama yang sering dihadapi untuk melestarikan kain trdisional, seperti Tenun Siak, adalah semakin minimnya jumlah para pengrajin. Sedikitnya ada dua hal yang menjadi penyebabnya, yaitu: pertama, menjadi pengrajin tidak bisa menjadi tumpuan untuk hidup. Jika ini yang menjadi kendalanya, maka tugas para pemangku kepentingan adalah melakukan langkah kreatif agara para pengrajin tenun mendapat jaminan hidup masa depan yang lebih baik; kedua, minimnya kesadaran dan kecintaan generasi muda pada Tenun Siak. Ketidakpedulian atau ketidaktertarikan generasi muda belajar menenun terkadang tidak semata-mata karena mereka tidak mencintai khazanah warisan budaya, tetapi karena mereka tidak mendapat informasi yang cukup memadai tentang tenunan tersebut. Oleh karena itu yang diperlukan adalah menumbuhkan kecintaan anak muda terhadap tenunan ini; (b) mengeksplorasi nilai ekonomis Tenun Siak.  Agar masyarakat tertarik untuk berpartisipasi dalam pelestarian Tenun Siak, maka salah satu yang paling praktis adalah menjadikan Tenun Siak sebagai sumber ekonomi masyarakat. Jika Tenun Siak telah menjadi sumber ekonomi, maka dengan sendirinya masyarakat akan melestarikan tenunan ini. Agar menjadi sumber ekonomi, sedikitnya ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu memperluas wilayah penjualan, dan memperbanyak derivasi hasil produk.

 

Derivasi produk Tenun Siak

B.      Bahan-Bahan dan Peralatan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Tenun Sambas, antara lain:

  • Kapas. Kapas merupakan bahan dasar untuk membuat Tenun Siak. Pada zaman dahulu, para pengrajin tenun melakukan sendiri proses memintal kapas menjadi benang. Biji-biji kapas yang baru dipanen keluarkan dengan cara dijemur. Setelah biji-bijinya dipisahkan oleh panas matahari, kapas itu dipintal menjadi benang, sebagaimana bidal Melayu, ”dari kapas menjadi benang, pilin benang benang menjadi kain” (dalam PUSDATIN PUANRI, 2007: 108-109). Saat ini, para pengrajin tidak perlu lagi memintal kapas menjadi benang, karena benang untuk membuat tenunan telah banyak dijual di toko-toko. Oleh karena benang tidak dibuat sendiri oleh para pengrajin, maka waktu yang diperlukan untuk membuat selembar Tenun Siak menjadi semakin sedikit.

 

Proses menggulung/mengelos benang tenun
  • Pewarna. Bahan ini diperlukan untuk mewarnai benang yang hendak digunakan untuk membuat Kain Tenun Sambas. Pewarnaan benang berdasarkan warna Kain Tenun Songket yang hendak dibuat. Bahan pewarna menggunakan bahan-bahan alami. Untuk membuat warna merah menyenggau, dilakukan dengan merebus buah kesumba keling yang dicampur dengan kapur. Warna jingga dihasilkan dari rebusan campuran umbi temu kuning dengan kapur, atau dari campuran kulit manggis dengan kapur yang direbus dengan celisan manggar kelapa. Hitam dari pencelup hitam semcam wantek. Hijau dari rebusan campuran daun kayu nodo dan kapur. Warna biru merupakan hasil campuran dari senduduk/kenduduk dan temu lawak. Sedangkan warna coklat dari rebusan kayu samak (dalam PUSDATIN PUANRI, 2007: 113). Untuk menghasilkan warna yang diinginkan, diperlukan waktu yang relatif cukup lama. Saat ini, telah tersedia pewarna yang dijual di toko-toko dengan kualitas beragam sesuai dengan keinginan si pengarajin, sehingga proses pewarnaan benang relatif lebih mudah dengan waktu yang lebih singkat.

 

Dari kiri atas searah jarum jam, proses pewarnaan benang: (a) membersihkan benang, (b) mencampur zat pewarna, (c) mencelupkan benang, (d) menjemur benang

  • Benang emas. Tenun Siak tidak dapat dipisahkan dari benang jenis ini. Benang ini digunakan untuk membuat motif tenunan.  

Secara garis besar, peralatan yang digunakan untuk membuat Tenun Siak ada dua macam, yaitu Kik dan atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Untuk peralatan Kik, diperlukan tambahan sebagai berikut:

  • Karap, yaitu alat pemisah benang atas dengan benang bawah.
  • Sisir, yaitu alat pemisah susunan benang lonsen/longsi.
  • Belebas, alat bantu menyusun motif.
  •  Peleting, bambu kecil tempat benang lintang.
  • Torak, alat tempat peleting.

 

Torak

  •  Lidi pemungut,  alat bantu membentuk motif.
  • Pijak-pijak, yaitu alat pijak untuk menggerakkan benang lonsen ke atas dan ke bawah mengapit benang pakan.
  • Bangku-bangku, tempat duduk penenun (Dekranasda Riau, 2008: 90).

ATMB merupakan penyempurnaan dari alat tenun Kik. Jika pada Kik peralatan-peralatan pendukung berada terpisah, maka pada ATMB semua peralatan menyatu dalam satu alat, sehingga proses pembuatan tenunan menjadi lebih efektif dan mudah, dengan waktu pembuatan relatif lebih cepat. Jika menggunakan Kik waktu yang diperlukan untuk membuat selembar kain sekitar 3-4 minggu, maka dengan ATMB cukup antara 5-7 hari.

 

Sisir pada Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB)

C.      Proses Pembuatan

1.      Tahap Persiapan  

Pada tahap persiapan, ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu:

  • Membuat motif tenunan. Tahap paling awal dari proses pembuatan Tenun Siak adalah membuat pola dan motif tenunan. Membuat pola dan motif harus dilakukan dengan teliti dan tidak asal menggambar.
  • Mempersiapkan bahan-bahan. Setelah pola dan motif dibuat, maka tahap selanjutnya adalah mempersiapkan benang-benang, baik warna yang diinginkan maupun jumlah yang diperlukan,  untuk membuat tenunan yang hendak dibuat.
  • Mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Keberadaan peralatan sangat menentukan kelancaran proses pembuatan tenunan. Biasanya, peralatan untuk menenun telah tersedia, sehingga yang diperlukan adalah mengecek jikalau ada masalah dengan peralatan-peralatan yang telah tersedia.

2.      Tahap Pembuatan

Setelah pola dan motif dibuat, benang-benang yang diperlukan disiapkan, dan peralatan telah siap pakai, maka proses pembuatan Tenun Siak dapat segera dimulai. Proses pembuatan Tenun Siak adalah sebagai berikut:

 a.      Dengan Menggunakan Kik

Tahap pertama pembuatan Tenun Siak adalah menerau, yaitu mengumpulkan untaian  benang dan menggulungnya pada seruas bambu. Selanjutnya, gulungan benang tersebut disusun menyatu dengan benang lainnya hingga mencapai panjang sekitar 20-30 cm. Kemudian dilanjutkan dengan mengani, yaitu proses menggulung benang pada gulungan yang terletak diujung Kik. Selanjutnya, benang yang telah digulung pada ujung Kik di rentangkan sesuai dengan panjang Kik. Benang yang terentang ini disebut longsi atau lonsen. Setelah benang terentang, proses membuat selembar tenunan dapat dimulai (Dekranasda Riau, 2008: 90).  

 

Seorang pengrajin sedang menenun menggunakan Kik

 b.      Dengan Menggunakan ATMB.

Membuat Tenun Siak menggunakan ATMB tidak jauh berbeda dengan menggunakan Kik. Hanya saja karena ATMB merupakan penyempurnaan dari Kik, penggunaan ATMB menjadikan proses menenun menjadi lebih mudah dan efektif, dengan waktu pengerjaan yang lebih efisien, serta hasil kain yang lebih lebar.

Proses awal pembuatan tenunan menggunakan ATMB relatif sama dengan menggunakan Kik, yaitu menyusun benang dan menggulungnya pada ujung ATMB (mengani). Kemudian benang yang diani direntangkan menjadi benang longsi, dan ditarik ke pangkal dengan terlebih dahulu disisipkan menggunakan gun (karap), dan sisir besi.

 

Proses menghani benang tenun

Kemudian pangkal gabungan benang diikatkan pada paku penggulung. Selanjutnya, benang pakan  dimasukkan dari sisi kiri dan kanan melalui sebuah torak (teropong), yang di dalamnya terdapat peleting (gulungan benang). Lalu, sisir besi dihentakkan kearah penenun (melantak), sehingga terbentuk sebuah garis kain baru dari hasil persilangan dua benang longsen dan pakan. Demikian seterusnya hingga menjadi selembar kain yang direncanakan. Pembentukan motif biasanya dilakukan bersamaan dengan proses menenun, yaitu dengan menyisipkan benang emas di antara benang lonsen yang ada. Proses ini disebut memungut. 

 

Proses membuat motif (memungut)

 3.      Pendistribusian

Setelah tenunan selesai dibuat, ada dua hal yang dapat dilakukan, yaitu tenunan yang dihasilkan dijual langsung, dan atau dibuat produk baru terlebih dahulu sebelum didistribusikan, misalnya dijadikan  tas, taplak meja, dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu, pendistribusian tenunan masih dilakukan dengan sangat sederhana atau bahkan sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, khususnya untuk melaksanakan ritual adat. Saat ini pendistribusian telah dilakukan menggunakan sistim modern dengan banyak memanfaatkan media yang canggih.

D.     Motif dan Corak Tenunan

Tenun Siak memiliki motif dan corak yang relatif banyak. Motif dan corak Tenun Siak merupakan hasil dari stilirisasi flora, fauna, dan alam sekitar. Proses stilirisasi terhadap apa yang dilihat di lingkungan sekitar menunjukkan betapa para pengrajin Tenun Siak tidak saja memiliki pemahaman mendalam terhadap alam sekitarnya, tetapi juga imajinasi yang tinggi untuk melukiskan apa yang dipahaminya dalam selembar tenunan. Dalam “Khazanah Kerajinan Riau” (Dekranasda Riau, 2008: 16-17) disebutkan beberapa motif dan corak Tenun Siak, antara lain: 

a.      Hasil dari stilirisasi flora (tumbuh-tumbuhan).

  • ampuk Manggis
  • Bunga Kenanga
  • Bunga Teratai
  • Bunga Kundur
  • Akar Berjalin
  • Pucuk Dara
  • Bunga Kangkung
  • Bunga Melur
  • Bunga Tanjung
  • Bunga Hutan
  • Kaluk Paku
  • Daun Pandan
  • Tampuk Pedade
  • Bunga Kiambang
  • Bunga Cina
  • Bunga Cengkeh
  • Bunga Kecubung
  • Daun Sirih
  • Pucuk Rebung
  • Tolak Berantai
  • Kembang Sepatu

 b.      Hasil dari stilirisasi fauna (hewan).

  • Semut Beriring
  • Siku Keluang
  • Ayam-ayaman
  • Itik Sekawan
  • Balam dua
  • Naga-nagaan
  • Ikan-ikanan
  • Ulat

 c.       Hasil dari stilirisasi alam sekitar.

  • Potong Wajit
  • Bintang-bintang
  • Jalur-jalur
  • Pelangi-pelangi
  • Awan Larat
  • Perahu
  • Sikat-sikat
  • Bulan Sabit
Dalam pemanfaatannya, beragam motif di atas biasanya digunakan secara kombinasi, yaitu dengan menggabungkan beberapa motif. Dari hasil kombinasi tersebut, dihasilkan beragam motif baru yang unik dan menarik, seperti:

 

Pucuk Rebung Berpadu, Pucuk Rebung Berkawan, Pucuk Rebung Tikam Menikam, dan lain sebagainya.

E.      Nilai-nilai

Tenun Siak merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang dipahami dan dihayati oleh masyarakat Siak, Provinsi Riau. Oleh karenanya, dengan memperhatikan, membaca, dan memahami corak dan motif Tenun Siak, kita akan mengetahui nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai tersebut, di antaranya adalah nilai sakral, pengabdian, pemahaman terhadap alam, kreatifitas, inklusifitas, dan nilai ekonomis.

Pertama, nilai sakral. Tenun Siak merupakan salah satu perlengkapan dari pelaksanaan ritual adat dan keagamaan masyarakat Siak, seperti ritual penobatan sultan, temu adat, dan ritual perkawinan. Sebagai pelengkap ritual adat dan keagamaan, maka Tenun Siak baik secara implisit maupun eksplisit merupakan pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Siak.

Kedua,  nilai pengabdian. Pada awalnya, para pengrajin tenun membuat tenunan ini tenunan sebagai persembahan untuk sultan. Sebagai persembahan kepada sultan, proses pembuatan tenunan ini dilakukan dengan hati-hati, dan penuh kecermatan sehingga menghasilkan tenunan yang bermutu tinggi. Dengan kata lain, keindahan Tenun Siak merupakan manifestasi dari pengabdian sang penenun kepada sultannya.

Ketiga, nilai pemahaman terhadap alam. Corak dan motif Tenun Siak merupakan refleksi pemahaman masyarakat Siak kepada alam sekitarnya. Para pengrajin melukiskan alam yang dia lihat, baik berupa flora, fauna, maupun fenomena kealaman lainnya pada selembar kain tenun. Dengan melihat dan mempelajari motif Tenun Siak, kita tidak saja akan mengetahui keaneka ragaman lingkungan alam Siak, tetapi juga kosmologi masyarakat Siak.

Keempat, nilai kreatifitas dan ketekunan. Ragam hias dan motif pada Tenun Siak merupakan bukti dari kreativitas imajinasi masyarakat Siak. Mereka menghayati alam dan ”melukiskannya” dalam selembar kain. Proses memindahkan ”lukisan” alam ke dalam selembar kain memerlukan daya kreatif yang tingi, ketekunan, dan daya imajinasi yang kuat. Tanpa ketiga hal tersebut, mustahil akan lahir Tenun Siak, sebuah karya seni yang bermutu tinggi

Kelima, nilai ekonomi. Dalam paradigma ekonomi kreatif, maka kreatifitas mempunyai nilai ekonomi tinggi. Harus disadari bahwa Tenun Siak tidak saja memiliki nilai kultural, tetapi juga nilai ekonomis tingi. Jika telah ada kesadaran ini, maka Tenun Siak dapat menjadi sumber penghidupan. Jika tenunan ini telah menjadi sumber penghidupan, maka dengan sendirinya masyarakat akan tertarik untuk mengembangkannya, sehingga proses pelestarian akan terus berjalan.

F.      Penutup

Tenun Siak merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini, hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Siak. Tenunan ini juga menjadi media untuk mewariskan nilai-nilai tersebut, sehingga dapat menjadi landasan generasi sesudahnya untuk hidup dan membangun kebudayaan yang lebih baik tanpa tercerabut dari akar lokalitasnya.

Ahmad Salehudin (bdy/49/XII/2009)

Kredit Foto:

  • Dekranasda Riau. 2008. Khazanah Kerajinan Melayu Riau. Yogyakarta: Dekranasda Riau bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Daftar Bacaan:

  • Dekranasda Riau. 2008. Khazanah Kerajinan Melayu Riau. Yogyakarta: Dekranasda Riau bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
  • Norma Dewi et.al. 1999/2000. Selintas Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Peninggalannya. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kanwil Depdikbud Provinsi Riau Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Riau
  • Sejarah Kerajinan Tenun Songket, dalam http://www.myhandicraftshop.com/sejarah-tenun-siak, diunduh tanggal 12 Desember 2009.
  • Tunggul Tauladan, “Kesultanan Siak Sri Indrapura,” dalam http://melayuonline.com/ind/history/dig/360/kesultanan-siak-sri-indrapura, diunduh tanggal 12 Desember 2009.
  • Yusmar Yusuf. 2007. “Dari Kapas Menjadi Benang, Benang Dirajut Menjadi Kain,” dalam Mutiara yang Terjaring. Yogyakarta: Pusdatin Riau berkerjasama dengan Badan Permberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Riau, dan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

 [1] Selain data yang menyebutkan bahwa Tenun Siak telah ada pada 1784, Yusmar Yusuf dalam tulisannya “Dari Kapas Menjadi Benang, Benang Dirajut Menjadi Kain, menyebutkan bahwa Tenun Siak telah ada pada tahun 1764, yaitu ketika Kesultanan Siak dipimpin oleh Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin. Adanya dua data tentang awal keberadaan Tenun Siak, yaitu 1764 dan 1784, merupakan hal yang sering dijumpai ketika melakukan pembahasan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan silsilah kerajaan-kerajaan Nusantara. Dua data awal keberadaan Tenun Siak tersebut tidak perlu diperdebatkan, tetapi dapat ditafsiri bahwa 1764 sebagai awal masuknya tenunan ini ke Kesultanan Siak, dan 1784 merupakan masa ketika tenunan ini telah menjadi tenunan khas Kesultanan Siak.  

[2] Masajo adalah salah seorang pengrajin sejati Tenun Siak. Sejak umur 5 tahun hingga ajal menjemput sekitar umur 80 tahun, dia mengabdikan hidupnya untuk Tenun Siak. Berkat loyalitas dan dedikasinya untuk melestarikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan Tenun Siak, Masajo terpilih menjadi salah satu tokoh perempuan Riau. Namanya bersama 17 tokoh perempuan Riau tercatat dalam buku “Mutiara yang Terjaring (2007)” yang diterbitkan Pusdatin Riau berkerjasama dengan Badan Permberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Riau dan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM).

 
Dibaca : 59.870 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password