Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.458
Hari ini : 7.140
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.077.786
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Sunat Rasul (Khitanan) (Malaysia)

a:3:{s:3:

Sunat rasul disebut juga dengan khitan, artinya memotong kulit yang menutupi kepala penis. Menurut ahli medis, khitan (sirkumsisi) adalah tindakan pembuangan dari sebagian kulup (prepusium) penis dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, jelas bahwa khitan dilakukan pada laki-laki tanpa ada batasan waktu.

Dalam tradisi masyarakat Melayu, biasanya khitan ini dilakukan pada anak laki-laki yang berumur antara 10-12 tahun. Bila sudah memasuki umur tersebut, orang tuanya akan menetapkan hari kenduri yang dikenal dengan “kenduri besar”. Pihak keluarga, teman dekat dan para tetangga diundang untuk menghadiri acara “kenduri besar” tersebut.

Saat ini, upacara khitan ini sudah jarang dilaksanakan, terutama di daerah perkotaan. Upacara berkhitan hanya bisa ditemukan di daerah pedesaan dengan kenduri yang cukup meriah. Dalam portal ini dipaparkan segala permasalahan yang berkaitan dengan berkhitan yang masih berkembang di Malaysia.

1. Peralatan

Peralatan yang perlu disediakan untuk pelaksanaan upacara berkhitan, antara lain:

  1. Kain putih dengan ukuran panjang lima hasta.
  2. Seekor ayam jantan.
  3. Tempat (buyong: My) air.
  4. Sebatang pohon pisang.
  5. Perlengkapan sirih pinang yang diletakkan di dalam tepak sirih atau piring.
  6. Uang sebesar RM3 atau lebih, menurut kemampuan pihak keluarga yang bersunat.

2. Tata laksana

Ketika hari pelaksanaan upacara berkhitan sudah ditetapkan, maka pihak keluarga mengundang para tetangga dan kerabat. Pihak keluarga juga mengundang orang-orang yang jauh dengan mengirimkan undangan kepada mereka.

Pada hari yang sudah ditentukan, anak laki-laki yang akan dikhitan dimandikan dan diandam. Setelah itu ia memakai pakaian pengantin dan melakukan pawai. Setelah pawai selesai, anak tersebut memasuki ruangan yang sudah disediakan, lalu duduk di atas kursi untuk sesaat, kemudian duduk bersila di atas tikar yang telah disediakan, menghadap ke arah para tamu yang terhormat. Anak laki-laki tersebut membaca surah-surah akhir dari al-Quran, baik dengan cara dilagukan ataupun dengan nada biasa saja.

Selanjutnya, anak tersebut duduk di pelaminan yang sudah dihias sedemikian rupa, biasanya disertakan dengan telur tabak (bunga telur: My). Telur tabak tersebut dibagikan satu persatu kepada para tamu. Sedangkan guru si anak tersebut dihadiahkan satu setelan pakaian Melayu yang  diserahkan langsung oleh orang tua si anak ketika itu. Pada bagian akhir acara ini, anak tersebut disuruh untuk bersalaman dengan para tamu yang hadir. Setelah itu, makanan dihidangkan.

Keesokan harinya, disediakan dua jenis air, yaitu air untuk mandi dan air yang sudah dijampi oleh tukang khitan (Tok Mudim:My) untuk disiramkan pada anak tersebut. Anak yang akan dikhitan disuruh mandi sepuasnya hingga menggigil kedinginan. Setelah itu, anak tersebut disiram dengan air yang sudah dijampi ketika ia duduk di atas tangga. Selanjutnya, ia duduk mengangkang di atas pohon pisang yang sudah disediakan, lalu dengan cekatan Tok Mudim mengkhitan anak tersebut. Setelah dikhitan, Tok Mudim mengambil ayam jantan, kemudian didekatkan kepala ayam tersebut ke arah kemaluan anak yang baru saja dikhitan. Jika bulu leher ayam jantan itu mengembang, maka anak tersebut dianggap sehat dan subur, berarti tidak impoten.

Sebagai wujud dari rasa tanggung jawabnya, Tok Mudim akan selalu melihat anak itu selama tiga hari berturut-turut.  Setelah lewat dari tiga hari, maka segala tanggung jawab diserahkan pada orang tua si anak.

Ada sebagian masyarakat yang menggabungkan acara khitan ini dengan acara khatam al-Quran, jika anak yang akan dikhitan tersebut sudah menamatkan bacaannya. Proses pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan yang dijelaskan di atas, kecuali niat pembacaan surah-surah terakhir dari al-Quran, jika sebelumnya untuk berkhitan, sekarang diniatkan untuk khatmul Quran.

3. Doa-mantera

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Nilai budaya

(dalam proses pengumpulan data)


Sumber:

  1. http://www.ashtech.com.my/adat
  2. http:/www.malaysiana.pnm.my
  3. http://baheis.islam.gov.my
  4. http://www.ms.wikipedia.org/wiki/Khatan
  5. Syed Alwi bin Sheikh Al-Hadi, Adat Resam Melayu dan Adat Istiadat, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Persekutuan Tanah Melayu Kuala Lumpur, 1960
Kredit foto : malaysiana.pnm.my
Dibaca : 19.606 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password