Rabu, 18 Oktober 2017   |   Khamis, 27 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.574
Hari ini : 20.363
Kemarin : 29.848
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.483.966
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Mendarahi Kayu

a:3:{s:3:

Ketika masyarakat Melayu Riau, khususnya di daerah Limo Koto Kampar kabupaten Kampar ingin mendirikan sebuah bangunan, baik bangunan milik pribadi atau umum, biasanya mereka mengadakan beberapa rangkaian upacara adat tradisional. Di antara upacara tersebut adalah mendarahi kayu, yang bertujuan untuk: (1) memindahkan setiap penunggu yang ada di dalam hutan atau pohon yang akan ditebang, (2) menjaga keselamatan para peramu, yaitu orang-orang yang membantu menebang kayu, dari gangguan hantu, setan atau binatang buas, dan (3) meningkatkan kualitas kayu yang ditebang agar tidak mudah dimakan rayap.

Orang-orang yang terlibat dalam upacara ini antara lain: (1) pemilik bangunan, jika kayu yang ditebang dipergunakan untuk bangunan pribadi, (2) penanggung jawab, jika kayu yang ditebang dipergunakan untuk mendirikan bangunan milik umum, (3) pawang, (4) peramu, (5) Datuk Nan Limo, (6) Kepala Pesukuan, (7) Ninik Mamak, dan (7) Tukang Tuo.

1. Peralatan

.................

2. Tata laksana

Upacara mendarahi kayu dilaksanakan di hutan tempat penebangan kayu. Biaya pelaksanaannya tergantung pada maksud dan tujuan upacara tersebut. Jika upacara ini untuk bangunan pribadi, maka ditanggung oleh pemilik bangunan, jika untuk bangunan umum, maka biayanya ditanggung bersama.

Upacara dipimpin oleh Kepala Pesukuan atau salah seorang dari Datuk Nan Limo. Prosesi upacaranya hanya dengan membaca mantera dan doa penutup, ditambah dengan tahlil. Setelah  rentetan prosesi ini selesai, semua peserta diperbolehkan pulang. Tiga hari kemudian, barulah kayu-kayu yang dibutuhkan itu ditebang.

3. Doa-mantera

.......................

4. Nilai budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam upacara ini terletak pada pemaknaan hari baik dan tidak baik dalam proses pelaksanaan upacara. Hari baik biasanya antara pagi Senin, Rabu dan Kamis. Senin merupakan hari pembawa rezki; Kamis hari pembawa keberuntungan; dan Rabu hari pembawa kesehatan. Sementara hari yang tidak baik adalah Jumat dan Selasa. Jumat merupakan hari ibadah atau hari suci, jika bekerja pada hari itu, maka mereka akan mendapatkan bencana. Sementara Selasa adalah hari sial. Oleh karena itu, masyarakat Melayu Riau tidak mau bekerja pada kedua hari tersebut, termasuk melakukan upacara mendarahi kayu. Sedangkan Sabtu dianggap hari tanggung, karena peluang baik dan tidak baik sama besarnya, dan Minggu dianggap hari kosong. Pada hari ini, siapa saja boleh bekerja atau sebaliknya.

Sumber:

  1. Wahyuningsih dan Rivai Abu (peny), Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pekanbaru, 1984
  2. ....., Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap I, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005
Dibaca : 8.082 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password