Sabtu, 24 Juni 2017   |   Ahad, 29 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 2.431
Hari ini : 8.688
Kemarin : 39.176
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.682.914
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Menegakkan Rumah

a:3:{s:3:

Menegakkan rumah merupakan salah satu rangkaian upacara yang bertujuan untuk keselamatan tukang-tukang yang mengerjakan bangunan itu, dan sekaligus untuk keselamatan pemiliknya. Dalam portal ini dijelaskan beberapa hal mengenai upacara menegakkan rumah ini, yaitu:

1. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan adalah:

  1. Seperangkat alat tepung tawar
  2. Kain merah, kain kuning, dua buah kelapa, dua buah limau purut, seceret air putih, dan kelalang. Jumlah kain harus ganjil dengan warnanya yang ganjil pula. Jadi boleh tiga, lima atau tujuh warna. Kalau lima warna ditambah dengan putih dan hijau, dan jika tujuh warna, harus ditambah lagi dengan warna coklat dan biru.
  3. Pekayuan bangunan, terutama tiang seri.

2. Tata laksana

Upacara ini dilaksanakan di tempat lokasi bangunan didirikan. Waktunya ditentukan oleh Pawang, biasanya pagi Jumat karena dianggap sebagai hari mulia dalam agama Islam, dan juga pada hari itu, masyarakat tradisional Melayu Riau tidak bepergian jauh, mereka lebih sering berada di rumah, sehingga waktu untuk berkumpul cukup banyak. Selain itu, terdapat suatu kepercayaan bahwa pada hari ini tidak boleh bekerja dengan menggunakan benda tajam, karena mudah terkena musibah seperti luka. Oleh sebab itu mereka tidak bekerja di ladang, pergi ke hutan atau menangkap ikan di laut. Upacara ini boleh juga diadakan pada hari Senin, Rabu dan Kamis.

Peserta upacara adalah mereka yang hadir pada upacara menetau, ditambah dengan para tukang yang akan mengerjakan bangunan. Para tukang ini dipimpin oleh seorang kepala tukang yang sudah ahli tentang makhluk halus. Pimpinan upacara sama dengan pimpinan dalam upacara menetau, yaitu seorang Pawang.

Sebelum upacara dilangsungkan, terlebih dahulu pemilik bangunan dan para tukang berada dalam lingkaran tertentu di atas tanah perumahan yang akan didirikan. Sedangkan peserta lainnya berkeliling di luar. Setelah itu baru dilanjutkan dengan upacara menegakkan rumah dengan urutan sebagai berikut:

Pertama, Pawang menyuruh tukang menyiapkan tiang seri yang akan ditegakkan untuk diletakkan pada posisinya. Setelah itu, pemilik bangunan dan para Tukang disuruh duduk di tengah-tengah tanah perumahan, dan Pawang menepung-tawari mereka satu persatu. Sesudah itu Pawang memercikkan tepung tawar ke tiang seri dan bahan perkayuan lainnya. Lalu Pawang membacakan mantera dan ditutup dengan doa selamat yang dibacakan oleh lebai.

Sesudah doa selamat dibacakan, seluruh hadirin dipersilahkan memasuki areal tanah perumahan, lalu hadirin tersebut dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok mengelilingi sebatang tiang seri, kemudian Pawang melekatkan kain warna warni yang telah disediakan pada tiang seri tersebut. Sesudah itu secara serentak, keempat tiang seri didirikan sambil membaca selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sebelum ditegakkan, kepala tiang seri diberi tali panjang yang gunanya untuk membantu menegakkan sekaligus dipergunakan para orang tua sebagai tanda ikut serta menegakkan rumah.

Setelah keempat tiang seri ditegakkan, kemudian dipasang rasuk dan bagian-bagian lainnya yang dapat memperkokoh berdirinya tiang itu. Pawang menyuruh tukang untuk mengikat buah kelapa pada salah satu tiang seri, lazimnya pada tiang seri yang berada di sudut kanan muka (depan) rumah. Setelah itu, limau purut yang sudah dimanterai oleh Pawang diiris dan diremas di dalam air, lalu direnjis (dipercikkan) kepada masing-masing tiang seri. Ampas limau purut ditanam di tengah lapangan, di bagian muka dan di belakang tanah rumah. Maka berakhirlah prosesi adat menegakkan rumah ini.

3. Doa-mantra

...........................

4. Nilai Budaya

Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam upacara ini berkaitan dengan simbol terhadap benda-benda yang digunakan, seperti dua buah kelapa yang melambangkan ibu dan ayah. Selain itu, ada pula kain warna-warni menyimbolkan keanekaragaman kehidupan manusia, masyarakat setempat mempercayai pula bahwa warna-warni itu mengandung makna tertentu. Merah adalah keberanian; putih adalah kesucian; biru adalah kedamaian; hijau adalah kesuburan; coklat adalah ketetapan hati; kuning adalah kekuasaan dan hitam adalah tantangan. Dengan demikian, lengkaplah berbagai macam pertarungan hidup yang dilambangkan oleh simbol-simbol di atas.


Sumber:

  1. Wahyuningsih dan Rivai Abu (peny), Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pekanbaru, 1984
  2. ....., Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap I, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005
Dibaca : 9.894 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password