Sabtu, 21 Oktober 2017   |   Ahad, 30 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 1.339
Hari ini : 4.972
Kemarin : 37.611
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.502.937
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Menaiki Rumah

a:3:{s:3:

Menaiki rumah merupakan salah satu upacara adat yang berlaku dalam masyarakat Melayu Riau. Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt, karena bangunan yang didirikan dapat diselesaikan tanpa halangan dan rintangan yang berarti; pada saat yang sama juga sebagai pernyataan terima kasih pemilik bangunan kepada seluruh warga masyarakat yang telah turut memberikan bantuan.

1. Peralatan

  1. Air putih
  2. Limau purut

2. Tata laksana

Upacara ini dilaksanakan di dalam bangunan yang baru saja selesai dikerjakan, baik bangunan milik peribadi atau umum, dipimpin oleh lebai (orang yang tahu tentang agama Islam). Waktu pelaksanaannya ditentukan oleh Pawang dengan para peserta yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Khusus bangunan milik pribadi, jika pemiliknya memiliki dana yang cukup banyak, maka para peserta yang diundang mencakup seluruh lapisan masyarakat dalam satu kampung atau desa. Upacara adat ini dilakukan menjelang matahari terbit, diawali dengan kedatangan pemilik bangunan bersama Pawang. Sebelum berangkat, Pawang menjampi air putih yang berisi irisan limau purut. Seusai shalat subuh Pawang bersama pemilik bangunan berangkat ke rumah baru tersebut. Ketika sudah berada di depan pintu rumah, Pawang berdoa sejenak, kemudian menyerahkan seceret air yang berisi irisan limau purut kepada pemilik rumah. Pemilik rumah memercikkan air, dimulai dari pintu depan, memutar ke kanan di bagian dalam sampai ke bagian kiri hingga merata ke seluruh ruangan. Setelah itu, pemilik rumah juga memercikkan air ke tanah di sekitar pekarangan rumah. Ampas limau yang masih tersisa ditanam di depan pintu (depan tangga) rumah, atau di halaman depan dan belakang rumah. Setelah itu, barulah peralatan rumah tangga diangkut, terutama peralatan tempat tidur dan peralatan dapur, beras agak sepetanak (untuk sekali masak) dan air seceret, beserta asam garam. Peralatan yang lain dapat disusul beberapa waktu kemudian. Setelah ritual ini selesai, baru diadakan kenduri.

Ada juga sebagian masyarakat yang mengadakan kenduri ini setelah semua peralatan rumah tangga diangkut. Pemilik bangunan memusyawarahkan terlebih dahulu waktu yang tepat untuk mengadakan keduri tersebut. Apabila waktunya sudah ditetapkan, kenduri itupun dilaksanakan. Dengan demikian, waktu pelaksanaan keduri tidak harus dirangkaikan dengan upacara adat menaiki rumah.

Terdapat pula kebiasaan menunda pelaksanaan kenduri hingga beberapa waktu kemudian, tergantung pada kemampuan dana pemilik bangunan. Meskipun demikian, kenduri tersebut mutlak diadakan, karena sudah menjadi tradisi. Dengan kata lain, bila kenduri ini tidak dilaksanakan, maka pemilik bangunan itu dianggap melanggar tradisi dan dicela dalam pandangan masyarakat setempat.

3. Doa-mantera

.............................

4. Nilai budaya

(dalam proses pengumpulan data)


Sumber:

  1. Wahyuningsih dan Rivai Abu (peny), Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pekanbaru, 1984
  2. ....., Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap I, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005
Dibaca : 9.284 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password