Jumat, 20 Oktober 2017   |   Sabtu, 29 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 3.811
Hari ini : 28.714
Kemarin : 37.822
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.500.224
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Keris Jawa Demam


Keris Sumatra tipe Bugis dengan hulu Jawa Demam koleksi
Tropenmuseum Amsterdam, Belanda.

Jawa Demam merupakan salah satu jenis keris berdasarkan bentuk hulu. Keris ini terdapat di Sumatra, Semenanjung Malaya, serta Sulawesi.  

1. Asal-usul

Bentuk hulu keris ini berbentuk seperti Dewa, setengah manusia, setengah burung, mungkin seekor Garuda, dalam posisi berjongkok dengan kedua tangan terlipat memegang sisi kanan dan kiri tubuhnya. Sosok itu seolah-olah sedang menggigil karena demam.

Jawa Demam merupakan salah satu jenis keris yang penamaan keris tersebut didasarkan pada bentuk hulu keris. Selain Jawa Demam, masih terdapat beberapa jenis dan bentuk hulu keris yang lain (G. B. Gardner, 1936: 23-25), yaitu:

  • Tipe Sundang

Bentuk hulu keris ini mengikuti fungsi dan bentuk bilah keris untuk memberikan genggaman yang lebih kuat. Bentuk hulu keris ini mendukung fungsi keris sebagai senjata tusuk.

  • Tipe Bali

Kebanyakan hulu keris dari Bali merupakan gambaran Dewa Rahwana dalam agama Hindu. Bentuk lain yang sangat tua menyerupai sosok manusia atau Dewa.

  • Tipe Patani (Keris Kulu Pekakak)

Hulu keris yang dibuat adalah bentuk sebuah kepala yang besar dengan hidung panjang yang sering dikelirukan dengan burung pekakak. Namun, bentuk hulu ini diniatkan menjadi bentuk manusia.

  • Tipe Bunga atau Tipe Madura

Hulu keris tipe ini banyaak ditemukan di Jawa dan Madura. Pada tipe Bunga Jawa tak jarang ditemukan bentuk kepala dan lengan-lengan yang kecil. Bahkan, kadang-kadang hanya terlihat mata dan rambutnya.  

  • Tipe Majapahit

Ini adalah jenis keris yang mudah dikenali. Bentuk hulu keris sedikit menyerupai manusia atau Dewa. Hulu dan mata atau bilah keris dibuat dari satu batang baja.

  • Tipe Bugis

Hulu keris tipe ini berbentuk lurus dan memang dibuat supaya keris tersebut dapat digunakan dengan mudah seperti menggunakan pisau belati. Selain itu, bentuk hulu keris juga memudahkan untuk digenggam.

  • Tipe Bahari

Hulu keris terbuat dari tanduk dan biasanya diukir dengan indah. Kadang kala hulu keris terbuat dari perak dan tulang ikan, meskipun kedua bahan ini jarang digunakan.

Hulu Pekakak, dari Semenanjung Malaya koleksi Crince le Roy.
Sumber: David van Duuren, 2002. Krisses, A Critical Bibliography.
Wijk en Aalburg: Pictures Publisher., p. 67.

Bentuk hulu keris Jawa Demam mengalami perubahan bentuk dari Sumatra Utara sampai ke Semenanjung Malaya, meskipun mempunyai pola dasar yang serupa. Di daerah selatan hulu keris Jawa Demam tampak dipengaruhi bentuk hulu keris daerah Jawa Utara, sedangkan di Semenanjung Malaya bentuk hulu semakin abstrak. Berikut varian utama bentuk hulu keris Jawa Demam yang ditemukan di Sumatra dari selatan ke utara (Anonim, 2007, dalam http://old.blades.free.fr/).

  • Lampung: terdapat beberapa kemiripan dengan jenis Jawa Tegal. Bentuk hidung hulu keris sedikit panjang dan terlihat seperti karakter tokoh wayang.
  • Palembang: hulu tipe keris ini tidak jarang diukir dengan indah. Bentuk hulu lebih menyerupai manusia.
  • Minangkabau: bentuk hulu Jawa Demam di daerah ini sama dengan hulu Jawa Demam di Palembang dengan tambahan ukiran lebih banyak dan berhiaskan bentuk-bentuk dedaunan.
  • Jambi: hulu keris Jawa Demam Jambi berbentuk abstrak menyerupai kubik. Bentuk ini menggambarkan seekor burung Garuda atau Dewa yang sedang memakai mahkota. Menurut beberapa pengarang, bentuk tersebut adalah sosok Batari Durga, isri Dewa Siwa.
  • Riau: disebut juga Hulu Burung. Hulu tersebut mempunyai bentuk hidung yang panjang. Keris di daerah ini menjadi bukti adanya pengaruh-mempengaruhi di antara kebudayaan Sumatra dan Semenanjung Malaya.
  • Gayo: hulu ini membentuk sudut pada sebelah kanan. Hidung hulu bisa lebih lebar dan biasanya terbuat dari perak.


Beberapa variasi bentuk hulu Jawa Demam: Jawa Demam Lampung, Jawa Demam
Palembang, Jawa Demam Jambi, dan Jawa Demam Gayo
Sumber: http://old.blades.free.fr

Menurut G. B. Gardner (1936: 23), penamaan dan bentuk hulu keris Jawa Demam mengacu pada sebuah kisah seorang raja dan pembuat keris istana. Seorang raja memanggil pandai besi istana dan memerintahkan membuat hulu keris yang berbeda dengan keris mana pun. Raja mengancam akan membunuhnya, jika pandai besi tak mampu melaksanakan titah raja. Pembuat keris bingung. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Malam menjelang dan bertambah dingin. Sang Raja yang terserang demam merapatkan sarungnya dan memeluk tubuhnya agar tetap hangat. Dari peristiwa itu, pembuat keris seolah mendapat inspirasi. Ia mengukir bentuk hulu keris menyerupai apa yang dialami raja. Meskipun begitu, sebenarnya kegunaan bentuk hulu Jawa Demam adalah untuk memberikan keberuntungan pada keris itu.

2. Bagian-bagian Keris

Menurut G. B. Gardner (1936: 6) bagian-bagian keris adalah sebagai berikut:

Bagian-bagian keris tanpa sarung dan hulu:

  • Tangkai atau paksi
  • Ganja
  • Gandik
  • Lambai gajah
  • Belalai gajah
  • Kambing kachang
  • Janggut
  • Tulang keris
  • Hujong keris: sering juga disebut mata, meskipun nama ini mengacu pada keseluruhan bilah keris.
  • Aring: sisi yang tajam dari ganja
  • Dagu: sisi yang tumpul dari ganja


Bagian-bagian keris
Sumber: G. B. Gardner, 1936. Keris and Other Malay Weapons. Edisi Kedua. Singapura: Progressive Publishing Company. [Online] Tersedia di: http://lawica.free.fr/liv/Keris.pdf., p. 6.

Bagian-bagian keris beserta hulu dan sarung keris.

  • Hulu keris
  • Pendongkok
  • Sampir
  • Sarong: istilah tersbut dipakai untuk keseluruhan sarung keris.
  • Buntut: tonjolan pada ujung rangka.


Keris Jawa Demam Minangkabau, Sumatra. Panjang bilah 22,5 cm dan hulu 8 cm
Sumber: http://old.blades.free.fr/

3. Pembuatan Keris

Pada zaman dahulu membuat keris merupakan hal sulit. Seorang empu harus bertapa terlebih dahulu untuk mendapatkan wangsit. Akan tetapi, sekarang membuat keris tidak serumit pada zaman dulu. Pembuat keris tinggal mencari bahan yang berkualitas. Berikut akan dijelaskan proses pembuatan sebilah keis (Mochamad Abdillah, 2008, dalam http://intanpusakajogja.com). 

Bahan untuk membuat keris adalah besi, baja, dan nikel yang berkualitas bagus. Besi yang digunakan adalah jenis besi putih yang kandungan atau kadar karbinnya rendah. Bahan ini harus dibersihkan dari bahan-bahan yang lain.

Nikel digunakan sebagai bahan pamor. Bahan ini berwarna putih kebiru-biruan. Sifat bahan ini keras dan mudah kusam. Nikel biasanya dijual dalam bentuk lempengan, kawat, dan batangan. Sebilah keris memerlukan nikel sebesar sekitar 1 ons.  

Baja digunakan sebagai penguat bilah keris selain sebagai bahan untuk membuat bilah yang tajam. Baja yang baik untuk membuat keris adalah baja yang ulet. Sebilah keris membutuhkan baja sekitar 1 kg.

Tahap awal pembuatan keris adalah membesut. Caranya adalah membakar bahan keris tersebut hingga membara. Bahan dimasukkan ke dalam api kemudian ditempa pada waktu masih membara. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang.

Setelah selesai dibesut, bahan tersebut dipotong menjadi dua bagian yang sama panjang. Kemudian menempa nikel hingga setebal 1 mm. Nikel tersebut diletakkan di tengah potongan besi yang dibesut tadi lalu diikat dengan kawat. Besi dan nikel dibakar lagi kemudian ditempa hingga keduanya menyatu. Selanjutnya adalah menempa baja hingga menjadi setebal 5 mm. tahap selanjutnya adalah menghaluskan keris dari bekas tempaan. Kemudian keris disepuh dengan cara membakarnya hingga membara dan memasukkannya ke dalam air selama sehari semalam.  

4. Penggunaan

Keris merupakan senjata tusuk yang cocok untuk perkelahian jarang dekat dan berhadap-hadapan. Taktik dalam pertarungan ini adalah dengan menusukkan senjata tersebut ke tubuh musuh dengan cepat dan menariknya dengan cepat pula. Dalam bentuknya yang biasa keris dapat, atau sering digunakan untuk mengoyak dan memotong.

Posisi normal memegang keris adalah dengan posisi aring di kanan dan dagu berada di sebelah kanan. Jari telunjuk kanan menempel pada ganja. Jempol berada pada bilah dekat dagu. Sedangkan tiga jari yang lain menggenggam hulu keris dengan kuat. Memegang keris dengan kuat tersebut dapat memudahkan pengguna keris untuk menusuk dengan cepat. Bagian aring melindungi buku jari bagian tengah, dan dagu melindungi buku jari bagian ujung (A. H. Hill, 1998: 9). Bentuk keris yang khas membuat keris sangat baik sebagai senjata tikam dengan menusukkan senjata tersebut lurus ke arah lawan.   

5. Nilai Simbolis

Sebagai senjata tajam, keris mempunyai berbagai nilai simbolis yang terkandung di dalam keris. Beberapa nilai tersebut adalah:

a. Nilai Budaya

Senjata pusaka sering terkait dengan busana tertentu. Begitu pula dengan keris. Senjata ini merupakan bagian dari pakaian adat.

b. Nilai Sejarah

Keberadaan keris tak dapat dilepaskan dari sejarah perjalanan Nusantara. Keris digunakan sebagai senjata yang membawa berkah dan membawa malapetaka. Keris digunakan dalam berbagai penggulingan kekuasaan raja-raja di Jawa sekaligus sebagai pelindung bagi penguasa tertentu.  

c. Nilai Seni

Keris merupakan salah satu senjata yang bernilai seni tinggi. Bentuk keris yang dinamis dengan ukiran yang variatif merupakan salah satu bukti bahwa membuat keris membutuhkan keahlian khusus dan ketrampilan tertentu. Meskipun keris adalah senjata yang tersebar secara luas penggunaannya, ada ciri khas yang dimiliki daerah tersebut. Hal tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat setempat dan budaya yang mereka miliki. Bentuk dan ukiran keris mengandung makna-makna tertentu dan tak jarang menjadi simbol kepercayaan masyararakat pembuatnya.

d. Nilai Magis

Selain sebagai benda artefak dan benda pusaka sebagaimana senjata tradisional yang lain, keris mempunyai kekuatan magis. Keris mempunyai kekuatan yang dapat mendatangkan keselamatan dan menambah kewibawaan. (Mahyudin Al Mudra, 2009: 32).

6. Penutup

Keris Jawa Demam merupakan salah satu tipe keris yang ada di Indonesia. Bentuk keris mendapat pengaruh dari kebudayaan Islam yang kemudian berpadu dengan kepercayaan masyarakat setempat. Sebagai salah satu senjata tradisional yang telah digunakan beratus-ratus tahun yang lalu, keris ini layak untuk dilestarikan keberadaannya.

(Mujibur Rohman/bdy/10/10-2010)

Sumber Foto: David van Duuren, 2002. Krisses, A Critical Bibliography. Wijk en Aalburg: Pictures Publisher., p. 151.

Referensi

A. H. Hill, 1998. “The Keris and Other Malay Weapons” dalam A. H. Hill, et al. The Keris and Other Malay Weapon. Reprint No. 16. Kuala Lumpur: The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.

Anonim, 2007. “Ukiran Sumatra” dalam Old Blade, Malay World Edged Weapons. [Online] Tersedia di: http://old.blades.free.fr [Diunduh pada 14 Oktober 2010].

G. B. Gardner, 1936. Keris and Other Malay Weapons. Edisi Kedua. Singapura: Progressive Publishing Company. [Online] Tersedia di: http://lawica.free.fr [Diunduh pada 14 Oktober 2010].

Mahyudin Al-Mudra, 2009. “Melacak Asal-usul Keris dan Peranannya dalam Sejarah Nusantara” dalam Jurnal Sari No. 27 (1), Juni 2009. [Online] Tersedia di: http://pkukmweb.ukm.my [Diunduh pada 14 Oktober 2010].

Mochamad Abdillah, 2008. “Pembuatan Keris”. [Online] Tersedia di: http://intanpusakajogja.com [Diunduh pada 14 Oktober 2010].

Dibaca : 17.950 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password