Rabu, 15 April 2026   |   Khamis, 27 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.041
Kemarin : 25.162
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Pepaosan

Salah satu seni sastra masyarakat Lombok yang masih hidup saat kini. Pepaosan juga dikenal oleh masyarakat Bali dengan sebutan mababasan dan masyarakat Jawa dengan sebutan macapatan. Dalam acara papaosan biasanya tampil empat orang laki-laki dalam pakaian adat: seorang pemaos (penembang) yang membaca lontar yang beraksara Sasak berbahasa Jawa; seorang pujangga (penerjemah); dan dua orang pendukung. Di hadapan mereka tersedia beragam sesajen yang ditempatkan dalam beberapa wadah dari kuningan. Dalam setiap pertunjukan, pemaos menembangkan larik-larik lontar dengan patokan-patokan nada tertentu. Selanjutnya, pujangga menerjemahkan larik-larik tersebut ke dalam bahasa Sasak. Secara spontan pemaos dengan caranya sendiri akan membetulkan terjemahan pujangga jika pujangga kurang ahli atau salah menerjemahkan lontar untuk menjaga keutuhan teks. Jika pemaos lelah, maka ia akan diganti oleh pemaos lainnya. Pemaos biasanya menyalin naskah lontar yang telah tua dalam lontar-lontar baru (nedun). Pepaosan biasanya dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari berikutnya dan dibaca di atas berugak (bale-bale). Pepaosan biasanya dilaksanakan untuk memperingati upacara kelahiran bayi, khitanan, perkawinan, kematian, maupun upacara-upacara yang berkaitan dengan hari besar Islam dan lain sebagainya. Materi cerita yang dibacakan berupa kisah-kisah perjalanan dan kehidupan para Nabi beserta sahabat dan pembantunya seperti Hikayat Nabi (qisasul anbiya) macam Kisah Nabi Yusuf, Hiklayat Ali Hanafiah, Hikayat Qamaruzzaman, Hikayat Siti Zubaidah, Hikayat Saer Kubur, Hikayat Nabi Haparas, dan Hikayat Bulan Belah.