Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 49
Kemarin : 25.133
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Bau Nyale

Adalah upacara warisan suku Sasak untuk melakukan perburuan cacing laut di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Upacara ini biasa diselenggarakan sekitar bulan Februari dan Maret pada saat bulan purnama dan air laut pasang, saat cacing-cacing yang hidup di bebatuan karang di sepanjang pantai selatan NTB melakukan pembuahan. Nyale yang berarti nyala adalah representasi cacing laut yang selalu muncul setahun sekali pada hari ke-19 bulan ke-10 kalender Sasak. Konon, Raja Kuripan mempunyai putri yang cantik rupawan bernama Putri Mandalika dan banyak diperebutkan oleh para pangeran. Sayangnya, ia tidak bisa menentukan pilihan karena takut akan menyakiti perasaan pangeran-pangeran tersebut. Akhirnya, Sang Putri meminta petunjuk pada orang pintar, yang menyarankan agar Putri tersebut terjun ke laut selatan NTB sehingga ia dapat dimiliki oleh orang banyak dalam bentuk cacing yang dipercaya sebagai jelmaan rambut dari Putri Mandalika. Dalam upacara bau nyale, laki-laki dan perempuan (berpasangan) saling berkumpul, berkelompok membuat perapian di pantai, saling berpantun yang berisi ledekan terhadap pasangannya dengan kemasan kegembiraan. Ketika ribuan cacing menampakkan dirinya dengan warna kemilauan, pemimpin doa kemudian mengambil cacing tersebut dan menerjemahkan kehendak yang tersirat, berupa berhasil-gagalnya musim panen tahun itu dan kalah-menangnya peserta lomba pasola (lihat pasola). Penduduk mempercayai, jika cacing itu dimakan maka bisa menyehatkan badan bahkan bisa menambah gairah seks. Keberadaan cacing yang menyala ini dipercaya hanya berlangsung selama enam jam karena saat fajar tiba, cacing akan menghilang.  (WL/ensi/69/7-07)