Senin, 25 Mei 2026   |   Tsulasa', 8 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 381
Hari ini : 9.542
Kemarin : 26.243
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Rumah Aceh

Merupakan rumah tradisional Aceh yang atapnya terbuat dari rumbia. Ketika terjadi kebakaran, atap rumbia ini dapat diturunkan dengan melepaskan ikatannya. Bangunan rumah Aceh ini dibuat tanpa menggunakan paku yang diganti dengan pasak untuk mengaitkan balok kayu yang satu dengan yang lain atau tali pengikat dari rotan. Biasanya di depan tangga rumah terdapat guci/gentong/tempayan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan air untuk mencuci kaki ketika hendak masuk rumah. Sebelum masuk, orang harus menaiki tangga yang berjumlah ganjil dan orang tersebut harus menyundul pintu dengan kepala supaya pintu terbuka sehingga dapat masuk. Biasanya, penduduk setempat menggunakan pekarangan sebagai pemakaman keluarga. Rumah Aceh biasanya terbagi menjadi 8 bagian, antara lain: pertama, seuramou-keu (serambi depan) yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki, dan terletak di bagian depan rumah. Ruangan ini sekaligus menjadi tempat tidur dan tempat makan tamu laki-laki. Bagian kedua adalah seuramou-likoot (serambi belakang) yang berfungsi untuk menerima tamu perempuan. Letak bagian kedua dari rumah Aceh ini adalah di bagian belakang rumah. Seperti serambi depan, serambi belakang juga dipakai sebagai tempat tidur dan ruang makan tamu perempuan. Kemudian, bagian ketiga adalah rumoh-inong (rumah induk) yang terletak di antara serambi depan dan serambi belakang, tetapi posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar yang dipisahkan oleh gang atau lorong yang disebut rambat. Lorong ini berfungsi sebagai penghubung serambi depan dan serambi belakang. Bagian selanjutnya adalah rumoh-dapu (dapur) yang letaknya biasanya berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang, namun lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang. Bagian kelima adalah seulasa (teras), terletak di bagian paling depan yang menempel dengan serambi depan. Sementara bagian keenam yang biasa disebut kroong-padee (lumbung padi) berada terpisah dari bangunan utama, tetapi masih berada di dalam pekarangan rumah. Letak seulasa bisa di belakang, samping, atau bahkan di depan rumah. Bagian ketujuh adalah keupaleh (gerbang) yang sebenarnya bukan merupakan ciri umum rumah Aceh karena hanya dimiliki oleh orang kaya atau tokoh masyarakat. Gerbang biasanya terbuat dari kayu. Selanjutnya, bagian terakhir adalah tamee (tiang) yang berfungsi sebagai tumpuan rumah Aceh yang berbentuk panggung. Tiang kayu yang berbentuk bulat dengan diameter 35 cm tersebut bisa berjumlah 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan dari tiang-tiang ini berfungsi untuk memudahkan proses pemindahan rumah Aceh, tanpa harus membongkarnya. (WL/ensi/91/08-07)