Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 749
Hari ini : 21.708
Kemarin : 143.251
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Arsitektur Kepulauan Bangka Belitung

Terdapat tiga tipe dalam arsitektur Kepulauan Bangka Belitung, antara lain: arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas yang secara umum berciri arsitektur Melayu seperti yang banyak dijumpai di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera, Indonesia dan Malaka, Malaysia. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan bahan material terbuat dari kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daunan yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan ini beratap tinggi dan sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta banyak bukaan yang berfungsi sebagai ventilasi (saluran udara) dan terdiri atas rumah induk dan dapur. Rumah Melayu ini didirikan di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah. Masyarakat Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang, yaitu bangunan yang terdiri atas 9 buah tiang dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap rumah biasanya terbuat dari daun rumbia, sedangkan dinding biasanya terbuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang adalah rumah Melayu Awal yang ditambah bangunan di sisi-sisinya, sedangkan Bubung Limas adalah rumah Melayu yang mendapat pengaruh dari Palembang, dimana sebagian atap bangunan terpancung ke atas seperti bentuk limas. Selain pengaruh arsitektur Melayu, ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti yang biasa terlihat pada bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa, dan rumah dengan arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung. (WL/ensi/92/08-07)