Rabu, 15 April 2026   |   Khamis, 27 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.101
Kemarin : 25.162
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Wayang Siam
Seni Pertunjukan Tradisional Masyarakat Kelantan, Malaysia


Wayang Siam atau yang disebut juga sebagai `wayangnya orang Siam` (Thailand) adalah seni pertunjukan `tradisional` masyarakat Kelantan, Malaysia. Pada masa lampau, Wayang Siam merupakan satu genre seni pertunjukan wayang kulit tradisional yang berkembang dan cukup digemari oleh masyarakat di negara bagian yang beribukota di Kota Bahru ini. Selain Wayang Siam, menurut catatan seorang etnografer bernama Barbara S. Wright (1981), masyarakat Kelantan juga gemar akan seni pertunjukan Melayu lainnya, seperti Main Puteri, Dikir Barat (di Thailand Selatan bernama Dikir Karut), Silat, Makyong, serta Menora. Selain di Kelantan, Wayang Siam dapat dijumpai di Kedah, Malaysia.

Keberadaan kesenian teater rakyat jenis ini di Kelantan, tidak lain merupakan sebuah patronase dari keberadaan Wayang Purwa di Jawa maupun jenis wayang lainnya di kawasan Asia Tenggara. Karakter Wayang Siam yang berkembang di kawasan Kelantan tersebut banyak dipengaruhi oleh Wayang Purwa dari Selatan dan wayang Thailand dari Utara, lantaran ia mengadopsi unsur-unsur yang ada di dalamnya. Keserupaan tersebut dapat disimak pada elemen-elemen dalam sebuah pertunjukan wayang, yakni adanya satu dalang (sebagai seorang yang membawakan ceritera dalam seni pertunjukan Wayang Siam), para pemain musik (sekelompok orang yang mengiringi dalang dengan seperangkat alat musik dalam sebuah pertunjukan wayang), panggung (tempat di mana diletakkannya perangkat pertunjukan Wayang Siam di hadapan penonton), kelir (layar putih yang dipakai untuk menyajikan bayangan boneka-boneka dari kulit), dan lampu minyak (di Jawa, orang menyebutnya blencong, lampu yang berfungsi sebagai lentera bagi boneka-boneka tokoh dalam ceritera wayang sehingga menghasilkan bayangan-bayangan yang tampak dari balik kelir). Dari kesemuanya itu, hanya ada dua perbedaan, yaitu dialek (model bahasa tutur) yang digunakan untuk membawakan ceritera sang dalang, yakni dialek Melayu Kelantan, dan menurut Scott-Kemball (1959) perbedaan juga terletak pada penerapan corak potongan kulit pada tokoh-tokoh wayang.

Lebih jauh, proses munculnya kesenian rakyat (folk art) Wayang Siam di Kelantan dapat dimaknai sebagai titik bertemunya dua kesenian `selatan` dan `utara` di Asia Tenggara. Dari `selatan` diwakili oleh seni-budaya Jawa, sedangkan `utara` direpresentasikan oleh kultur Thailand. Sejarah mencatat, sebagai sebuah seni pertunjukan, Wayang Siam mulai populer di kalangan masyarakat Kelantan pada tahun 1930-an. Sementara itu, popularitas Wayang Purwa—wayang kulit asal Jawa yang memberi andil dan pengaruh pada perkembangan seni pertunjukan Wayang Siam—mengalami deklinasi di hati para penggemarnya (masyarakat Jawa).

Menurut folklorist dan juga antropolog, seperti Amin Sweeney dan Barbara S. Wright, wayang ini masuk ke wilayah Kelantan sekitar abad ke-15—16 M seiring dengan menyebarnya agama Islam di Semenanjung Melaka, dan konon diperkenalkan oleh sepasang suami-isteri dari Pattani, Thailand bagian selatan. Dalang pertama dari pertunjukan Wayang Siam adalah seorang wanita bernama Mak Erit, atau ada yang mengejanya Mak Erok. Ia wanita suku Thai dan merupakan utusan dari Kerajaan Pattani. Ketika itu, ia menggelar pentas seni Wayang Siam dengan `wayang` yang dibuat dari daun pohon mangga. Sumber lain mengatakan bahwa Wayang Siam dikenalkan oleh sepasang suami-istri bangsa Thai bernama Mak Erok dan Pak Erok. Selain itu, ada pula yang menyebut wayang ini dipopulerkan oleh dalang wanita berdarah Tionghoa asal Cina Selatan.

Masuknya Islam ke tanah Melaka sekitar abad ke-15, membuat banyak aspek kehidupan masyarakat Melayu berubah dan implikasinya, kebudayaan lama yang berbasis Hindu dan Animisme berangsur beralih ke kultur yang bernuansa Islam, beberapa ahli menyebut produk kebudayaannya sebagai budaya Hindu-Islam. Proses masuknya agama Timur Tengah ini salah satunya dapat ditelusuri dari ranah seni. Contohnya, Wayang Siam. Sebagai salah satu genre seni pertunjukan kuna, kala itu wayang berfungsi sebagai alat/media untuk menyebarkan agama Islam, di mana kondisi masyarakat Kelantan secara umum masih menganut ajaran Hindu dan Animisme. Sehingga, ceritera-ceritera yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang ini sarat akan mitologi lokal—yang masih kental unsur Hindunya, yang kemudian dikonversikan (diubah dan dipadukan) ke dalam kisah-kisah bermuatan nilai-nilai Islam.

Riwayat-riwayat, seperti kisah turunnya Nabi Adam ke bumi dan Muhammad sebagai utusan Tuhan untuk menyebarkan agama Islam di muka bumi, disajikan dalam pertunjukkan wayang tersebut melalui analogisasi penokohan-penokohan Hindu dalam epos Ramayana ke dalam Islam. Begitu juga dengan munculnya tokoh bernama Pak Dogol yang memiliki karakter serupa dengan Semar di dalam pewayangan Jawa, atau Epong di Thailand, dan Pak Kadir di Trengganu, Malaysia. Pak Dogol ini merupakan sosok yang memiliki kekuatan super melebihi semua dewa yang ada di kahyangan. Ia menjelma dalam pelbagai wujudnya dan turun ke bumi untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan pada umat manusia. Kendati nilai-nilai Islam ditekankan dalam penokohan Wayang Siam, ritual-ritual bernuansa Hindu dan Animisme masih tetap dilakukan, seperti upacara mengusir marabahaya dan gangguan dari kekuatan roh-roh jahat (exorcism) dengan memohon pada dewa tertentu serta kekuatan semesta oleh bomoh (sebutan lokal untuk dukun atau pawang keselamatan).

Barbara S. Wright menjelaskan bahwa praktik-praktik yang bernuansa mistisisme tersebut merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dalam seni pertunjukan ini. Karenanya, rituil-rituil mistis yang direpresentasikan di sana harus dilestarikan karena mempengaruhi keutuhan dari kesenian Wayang Siam sebagai produk kebudayaan masyarakat Kelantan. Di lain pihak, hal ini ternyata memunculkan pertentangan ketika ia—Wayang Siam—dipertemukan dengan gerakan purifikasi Islam di Malaysia oleh Kaum Muda, di mana nilai-nilai dalam seni pertunjukan ini dianggap bertolakbelakang dengan nilai-nilai Islam. Isyu syirik terhadap para dalanglah ditempatkan di garis terdepan untuk secara strategis `mematikan` eksistensinya, dan hal ini merupakan sebuah bentuk opresi sosial, yang kemudian membuat mereka (para dalang) tidak lagi mendapatkan perannya sebagai seniman (baca: pelestari budaya) dalam dinamika kebudayaan masyarakat Kelantan. Kendati demikian, Wayang Siam oleh pemerintah Malaysia tetap dianggap sebagai warisan budaya dan saat ini dapat disaksikan pada ruang-ruang ekshibisi di beberapa museum di Malaysia.

(khidir marsanto/ensy/02/09-08)

Kredit foto : www.flickr.com