|
Randai adalah kesenian tradisional dari Sumatra Barat yang dimainkan secara berkelompok dan dipentaskan di tempat terbuka. Istilah randai berasal dari kata marandai yang memiliki arti mengarang cerita atau duduk melingkar bersama-sama di tempat yang lapang (sasaran). Konon, kesenian ini telah dimainkan oleh masyarakat tradisional Minang semasa mereka masih bermukim di Nagari Pariangan-Padang Panjang, nagari tertua di Sumatra Barat yang diyakini sebagai daerah asal leluhur masyarakat Minang. Pada awalnya, kesenian randai dimainkan sebagai pengisi waktu luang bagi anak laki-laki yang menginjak masa remaja, pada malam hari sehabis mengaji di surau. Rasa cinta yang mulai tumbuh terhadap lawan jenis tidak disimpan di dalam hati, tapi diekspresikan dalam alur cerita dan gerakan-gerakan enerjik yang terdapat dalam kesenian randai. Dewasa ini, kesenian randai dimainkan oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa mengenal tingkatan usia atau perbedaan jenis kelamin. Kesenian ini sering dipentaskan pada acara-acara khusus, seperti pesta adat, pesta pernikahan, pameran potensi daerah, festival kebudayaan, dan penyambutan tamu kehormatan. Bahkan, kesenian randai juga telah dipentaskan di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Jepang, Korea, Belanda, Amerika Serikat, Ceko, dan lain sebagainya. Dibandingkan dengan kesenian tradisional Minang lainnya, randai termasuk kesenian yang unik karena memadukan antara olah vokal, seni musik, tari, dan pencak silat. Kesenian ini juga mengkombinasikan antara seni musik tradisional Minang, seperti talempong, bansi, saluang dan gandang, dengan seni tutur tradisional Minang, seperti bakaba, barabab, dan basijobang. Daya tarik randai lainnya adalah pada irama yang tidak semata-mata mengandalkan alat musik, melainkan juga menggunakan suara pemain, tepuk tangan, petikan jari, hentakan kaki, dan suara tepukan celana yang didesain khusus untuk para pemain randai yang disebut galembong. Para pemain randai memiliki peran-peran tertentu, sesuai dengan narasi dan alur cerita yang akan ditampilkan, seperti pemeran utama, tokoh antagonis, tokoh pratagonis, dan lain sebagainya. Perwatakan tokoh tidak diungkapkan melalui tata rias atau kostum, tapi disampaikan melalui dendang atau gurindam yang dilagukan. Biasanya, cerita randai diambil dari berbagai cerita rakyat yang sudah populer di tengah-tengah masyarakat Sumatra Barat, seperti Cindua Mato, Umbuik Mudo, Anggun Nan Tongga, Rancak Di Labuah, Rambun Pamenan, Malin Deman, Siti Baheram, dan lain sebagainya. (Yusriandi Pagarah/ensi/07/10-08) |