Selasa, 25 Agustus 2026   |   Arbia', 11 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.496
Kemarin : 29.971
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Tallase Kamase-Mase

Masyarakat Kajang dengan pakaian adat  serba hitam

Tallase kamase-mase merupakan sebuah ajaran yang menjadi pedoman bagi masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dalam menjalani hidup sehari-hari. Secara harfiah, tallase kamase-mase berarti hidup memelas atau hidup apa adanya. Sedangkan secara operasional tallase kamase-mase berarti tidak mempunyai keinginan yang berlebihan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik untuk makan, pakaian, maupun tempat tinggal.  

 

Dalam masyarakat Kajang, ajaran tallase kamase-mase ini telah terlembagakan dalam dua larik pasang (ajaran leluhur dalam bentuk tradisi lisan yang disampaikan secara turun-temurun) yang berbunyi sebagai berikut:

Pertama, Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, a`dakkako nu kamase-mase, a`meako nu kamase-mase (Artinya: Berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana).

Kedua, Anre kalumannyang kalupepeang, rie kamase-masea, angnganre na rie, care-care na rie, pammalli juku na rie, koko na rie, bola situju-tuju (Artinya: Kekayaan itu tidak kekal, yang ada hanya kesederhanaan, makan secukupnya, pakaian secukupnya, membeli ikan secukupnya, kebun secukupnya, rumah seadanya).

Masyarakat adat Kajang sangat konsisten memegang teguh prinsip tallase kamase-mase ini. Tentang hal ini dapat dilihat dari cara mereka mengimplementasikannya dalam praktek hidup sehari-hari, seperti berikut ini:

Pertama, masyarakat Kajang membangun rumah secara seragam, baik dari segi bahannya, ukurannya, dan bentuk bangunannya. Makna di balik keseragaman ini adalah agar di antara mereka tidak muncul perasaan iri dan sikap saling bersaing. Sebab, jika sifat-sifat buruk tersebut telah menjangkiti manusia, maka akan muncul sifat rakus dan keinginan untuk menumpuk harta-benda sebanyak-banyaknya.


Bentuk rumah masyarakat adat Kajang

Kedua, masyarakat Kajang memakai pakaian yang berwarna serba hitam. Bagi mereka, warna hitam merupakan simbol kesamaan dalam segala hal. Tidak ada warna hitam yang lebih baik dari warna hitam yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam untuk pakaian menandakan adanya kesamaan derajat bagi setiap orang di depan Tuhan. Namun, kesamaan yang dimaksud bukan hanya dalam wujud lahirnya saja, tetapi juga dalam cara berpikir dan bersikap.

(Afthonul Afif/ensi/02/11-08)

Kredit foto:

  • http://karyanurkhoiron.files.wordpress.com/
  • http://www.panyingkul.com/view.php?id=271&jenis=kaba...