Kamis, 30 Oktober 2014   |   Jum'ah, 6 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.553
Hari ini : 10.338
Kemarin : 22.978
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.290.190
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Maudo Lompoa

Maudo Lompoa atau Maudu‘ Lompoa adalah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cikoang Laikang, Kecamatan Mangarabombang (Marbo), Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Istilah Maudo Lompoa berasal dari bahasa daerah setempat yang berarti maulid besar. Konon, tradisi ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1621 Masehi oleh Sayyid Jalaluddin, seorang ulama yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW yang menyebarkan agama Islam di muara Sungai Cikoang dan sekitarnya. Sayyid Jalaluddin menikah dengan I Acara‘ Daeng Tamami binti Sultan Abdul Kadir Alauddin, penguasa kawasan sekitar Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang masih memiliki ikatan kekerabatan dengan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan.

Upacara ini dilaksanakan pada siang hingga sore hari di muara Sungai Cikoang. Dalam upacara ini, perahu berukuran besar ataupun kecil ditambatkan di muara Sungai Cikoang dan dihias dengan kain sarung dan kertas minyak warna-warni. Pada perahu-perahu tersebut diletakkan sebuah bakul besar dari daun lontar yang berisi aneka sesajian, seperti telur ayam, ayam goreng, buah kelapa muda, kue sasongko (kue tradisional masyarakat Sulawesi Selatan yang terbuat dari beras ketan), dan lain sebagainya. Jenis perahu dan sesaji yang digunakan untuk upacara ini melambangkan status sosial seseorang.

Tatkala matahari tepat berada di atas kepala, masyarakat membawa bakul yang berisi sesajian dan mengarak rangka perahu hias berkaki (julung-julung) bersama-sama menuju panggung pusat acara. Kemudian, aneka sesajian tersebut diletakkan di dalam kandawari, yaitu tempat sesaji persegi empat yang terbuat dari kayu. Agar lebih semarak dan khidmat, acara ini dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian dari daerah setempat yang diiringi dengan suara bedug, gendang, kecapi, serta bacaan doa dan lantunan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika matahari memancarkan sinarnya dari ufuk barat, perahu-perahu tersebut dilarungkan ke sungai, dan masyarakat pun menyerbu julung-julung dan kandawari yang berisi sesajian dan kain sarung. Dalam tradisi ini, seseorang tabu mengambil kain sarung atau memakan sesajian buatannya sendiri. (Yusriandi Pagarah/ensi/08/11-08)

Referensi:

  • http://serambimasjid.wordpress.com/2008/07/19/maudu-lompoa-ajang-pertemuan-jodoh/, diakses tanggal 14 November 2008
  • http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/12/sh08.html, diakses tanggal 14 November 2008
  • http://www.takalarkab.go.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=86, diakses tanggal 14 November 2008
  • http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/psikologi/kepatuhan-masyarakat-cikoang-dalam-perayaan-maudu-lompoa-di-takalar-sulawesi-selatan, diakses tanggal 15 November 2008

Kredit foto: http://serambimasjid.wordpress.com/