Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.521
Hari ini : 23.023
Kemarin : 143.251
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Uis Neno

Suku Dawan dalam sebuah ritual menyembah Uis Neno.

Uis Neno merupakan dewa tertinggi dalam sistem religi Suku Dawan di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah uis neno berarti ‘tuan hari‘, sebuah sebutan yang ditujukan kepada matahari. Karena matahari merupakan benda langit yang dianggap paling besar pengaruhnya dalam kosmos, maka orang Dawan menempatkannya sebagai perwujudan dewa tertinggi—atau dengan perkataan lain sebagai ‘Raja Langit‘. Dalam perbendaharaan bahasa Dawan, istilah uis neno sering dipadankan dengan istilah manas, yang juga berarti matahari. Manas adalah pusat dan penentu seluruh kehidupan. Manusia akan memperoleh kehidupan ketika Manas terbit. Sebaliknya, apabila Manas tidak terbit maka tidak ada kehidupan—yang juga berarti tidak mungkin ada manusia.

Karena fungsi yang diperankan Uis Neno atau Manas sangat penting dalam kehidupan dunia, maka tidak berlebihan ketika masyarakat Dawan menggambarkan Uis Neno sebagai dewa yang memiliki semua sifat istimewa. Sifat-sifat itu antara lain:

Pertama, Apinat ma Aklahat. Secara harfiah apinat berarti menyala, bersinar atau bercahaya. Sedangkan aklahat merupakan peningkatan dari apinat, artinya yang membara dan menghanguskan. Secara lebih detail, orang Dawan menggambarkan Uis Neno sebagai yang menyala, bercahaya, menyinari, menghangatkan, menyenangkan, namun juga membara dan menghanguskan yang dapat menyebabkan kebakaran dan kematian.  

Kedua, Amoet ma Apakaet. Amoet berarti pencipta atau kekuatan yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan apakaet merupakan ungkapan yang menggambarkan kemampuan memahat, melukis, dan menenun. Atribut tersebut biasa digunakan untuk menggambarkan kemampuan Uis Neno sebagai pencipta semesta alam atau seniman terbesar di dunia.

Ketiga, Alikin ma Apean. Atribut ini berarti yang membuka jalan dan mengantar ke dalam kehidupan. Dalam konteks ini, orang Dawan meyakini fungsi Uis Neno sebagai orang tua yang memelihara benih kehidupan hingga benih tersebut siap dilahirkan ke dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata tersebut sering digunakan pada burung-burung dan ayam-ayam betina yang mengerami telur-telurnya dan membantu memberikan jalan dengan membuat sebuah lubang kecil pada telurnya agar anaknya dapat keluar dengan leluasa.

Keempat, Afinit ma Anesit. Afinit berarti lebih panjang dan lebih tinggi. Sedangkan anesit juga memiliki pengertian ‘lebih‘, yaitu lebih banyak dan lebih besar. Keduanya mempunyai pengertian mengatasi dan melampaui segala sesuatu. Uis Neno sebagai dewa tertinggi dalam sistem kepercayaan orang Dawan memiliki kekuatan yang tidak ada satupun makhluk yang sanggup menyamainya. Ia berada di atas segala-galanya.

Kelima, Ahaot ma Afatis. Atribut ini berfungsi untuk mengungkapkan fungsi kebapakan dan keibuan Uis Neno. Ahaot berarti dia yang memberi makan dan minum secara jasmani; yang bertanggung jawab untuk pemenuhan kebutuhan jasmani manusia. Sedangkan afatis merujuk pada intensivitas kepedulian Uis Neno kepada manusia, yang bukan hanya memperhatikan hal jasmani, tetapi juga hal rohani yang merupakan salah satu bagian penting dari manusia.

Keenam, Aneot ma Amafot. Atribut ini berarti sebagai pelindung, pemberi arah, pemberi rahmat dan berkah. Uis Neno sebagai dewa tertinggi dapat memberikan atau menahan sinarnya terhadap manusia, yang berarti dapat membawa berkah dan kehidupan, kutukan, kematian, dan kegelapan. Bagi orang Dawan, atribut ini juga menjelaskan Uis Neno sebagai dewa tertinggi yang memberikan kepada manusia kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap, kehidupan dan kematian.

(Afthonul Afif/ensi/03/11-08)

Sumber  bacaan:

  • Sawu, Andreas Tifa, 2004. Di Bawah Naungan Gunung Mutis. Flores: Penerbit Nusa Indah.
  • Taum, Yoseph Yapi, 2008. Tradisi Fua Pah: Ritus dan Mitos Agraris Masyarakat Dawan di Timor. Nusa Tenggara Timur: Institute of Indonesia Tenggara Studies. Diakses dari http://www.ntt-academia.org/WP4-Pah-Antoni-Timor-2008.pdf pada tanggal 23 Oktober 2008.

Sumber foto: http://www.atambua-ntt.go.idSosial.htm