Jumat, 29 Agustus 2014   |   Sabtu, 3 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 639
Hari ini : 7.678
Kemarin : 20.124
Minggu kemarin : 150.178
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.067.232
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Ameng Sewang

Provinsi Bangka Belitung, tempat suku Ameng Sewang berada.

 

Pada tahun 1668, beberapa kapal Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) asal Belanda mendarat di Pulau Belitung—sebuah pulau yang kini termasuk wilayah administrasi Provinsi Bangka Belitung. Ketika mereka berlabuh di pulau ini, para awak kapal mendapat serangan dari sekelompok orang lokal yang disebut sebagai suku bangsa Ameng Sewang. Berdasarkan catatan kolonial Belanda, mereka pernah mempertahankan Pulau Belitung yang kaya timah dari pendudukan tentara kongsi dagang Belanda pada abad ke-17. Hal ini menunjukkan bahwa mereka pernah mempunyai kekuatan yang cukup signifikan. Hanya saja, tidak tertera secara jelas dalam catatan VOC tersebut seberapa besar populasi dan seperti apa kekuatan suku bangsa ini dalam mempertahankan Pulau Belitung dari invasi VOC tersebut. Mereka mempertahankan wilayahnya karena kedatangan VOC, yang akan mengeksplorasi timah di Pulau Belitung, dianggap dapat mengubah atau bahkan merusak tatanan alam kelautan yang menjadi basis sosio-kultural suku bangsa Ameng Sewang.

Konon, asal-muasal suku bangsa Ameng Sewang adalah sekelompok orang Suku Laut yang berasal dari kawasan Asia Tenggara bagian utara—wilayah perairan Thailand Selatan, Indocina, dan Filipina Utara—yang hijrah ke selatan. Mereka kemudian berlabuh dan mendiami pesisir perairan timur Pulau Sumatra. Sumber kepustakaan lama banyak mencatat bahwa orang-orang yang juga termasuk dalam kategori Suku Laut ini telah berabad-abad lamanya menghuni laut dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di seputaran Provinsi Bangka Belitung ini terdapat sekitar 120 pulau kecil. Suku bangsa dengan nama serupa dapat dijumpai juga di sekitar Kecamatan Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, yang tergabung dalam satu organisasi masyarakat bernama Kampung Laut.

Tatanan sosio-kultural suku bangsa Ameng Sewang terbentuk oleh ekosistem kelautan yang meliputi gugusan pulau berikut lautnya. Dari alam yang sebagian besar berupa air dengan sedikit daratan itulah mereka memiliki sistem sosial dan budaya yang khas sebagai Suku Laut. Pola hidup masyarakat suku Ameng Sewang ini tidak menetap alias nomadik, melainkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pulau kecil ke pulau kecil lainnya di sekitar Pulau Belitung dengan perahu-perahunya sebagai tempat tinggal. Kepindahan mereka berlangsung menurut musim penangkapan ikan. Bila bukan musim ikan, mereka menetap untuk sementara waktu di sekitar pantai. Di situ, mereka tinggal di atas perahu atau dalam gubuk-gubuk terapung yang mereka buat sendiri dari kayu.

Mata pencaharian pokok mereka adalah menangkap ikan dan mencari hasil laut lainnya. Alat penangkap ikan yang digunakan masih sederhana, semisal pancing dan tombak. Mereka belum mengenal jala untuk menjaring ikan. Dengan cara dan alat sederhana itu mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berbicara mengenai populasi suku ini, Junus Melalatoa (1995) menyebutkan bahwa pada tahun 1950-an diperkirakan masih ada ribuan kepala keluarga. Meskipun demikian, jumlah itu rupanya kian menciut dari waktu ke waktu. Salah satu penyebabnya ialah faktor kesehatan. Angka harapan hidup generasi yang dilahirkan cukup rendah lantaran tingkat mortalitas bayi tinggi di mana hanya dua dari enam orang anak dalam satu keluarga dapat bertahan hidup hingga dewasa. Pada tahun 1980, di empat kecamatan di Kabupaten Belitung: yakni Kota Tanjungpandan, Nambalong, Manggar, dan Gantung, diperkirakan jumlah mereka hanya 500 jiwa yang tergabung dalam sekitar 150 kepala keluarga. Di tahun 1988, makin menyusut menjadi 182—189 jiwa. Berdasarkan data tersebut, dikhawatirkan kelompok ini akan segera punah bila tidak segera diambil langkah penyelamatan.

Sebenarnya, pada tahun 1954, suku bangsa Ameng Sewang telah membangun kampung bernama “Kampung Laut” yang masuk dalam Kelurahan Paal I, Kecamatan Tanjung Karang, Kabupaten Belitung. Menetapnya mereka dalam sebuah kampung ini merupakan efek dari semakin menurunnya kuantitas orang Ameng Sewang. Pilihan untuk menetap di daratan ini ialah untuk menjaga keberadaan komunitas mereka sebagai suku laut. Meski demikian, strategi untuk menetap dalam sebuah tatanan sosial yang baru ternyata tidak mampu mendongkrak tingkat populasi mereka secara signifikan. Lebih dari itu, ternyata hidup di daratan lambat laun mengikis kebudayaan laut mereka yang khas. Implikasi lainnya, mereka mulai berbaur dengan suku bangsa lain di Bangka Belitung dan terjadilah perkawinan silang.

Dalam perkembangan selanjutnya, persinggungan secara intens suku bangsa yang hampir 90% memeluk Islam ini dengan pelbagai etnis lain yang berada di Bangka Belitung, seperti etnis Melayu dan Cina, membuat pola hidup mereka berubah. Dari etnik grup dengan pola hidup sebagai pencari ikan menuju ke masyarakat dengan pola hidup yang lebih `modern`, yakni mencari uang untuk memenuhi kebutuhan harian. Perubahan orientasi inilah yang kemudian mempengaruhi pilihan-pilihan mereka dalam bekerja. Tumbuh kesadaran di kalangan para orang tua akan pentingnya pendidikan dan pada akhirnya mereka mulai menyekolahkan anak-anak mereka. Hasilnya, setelah anak-anak mereka dewasa, mereka kini ada yang menjadi pegawai negeri, pekerja atau karyawan tambang timah, pedagang, dan profesi-profesi lainnya. Bahkan di tahun 1995, seorang keturunan asli dari Ameng Sewang dari Kampung Laut ada yang menjadi anggota DPRD Tingkat II Belitung.

(Khidir Marsanto/ensi/04/12-08)

Referensi :

  • Melalatoa, Junus. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A—K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Pramono, Djoko. 2005. Budaya Bahari. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Foto : members.virtualtourist.com