Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 52
Kemarin : 25.133
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Bakar Tongkang

Bakar Tongkang merupakan ritual/upacara tradisional yang diselenggarakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Bagansiapi-api, Kabupaten Rokan Hilir, Propinsi Riau, Indonesia. Ritual yang juga disebut dengan nama Go Ge Cap Lak ini diselenggarakan setiap tahun, pada tanggal 15 dan 16, bulan kelima dalam hitungan kalender China (imlek). Acara utama ritual ini adalah membakar tongkang (perahu khas tradisional masyarakat China) sebagai simbol ucapan terimakasih dan merepresentasikan cara bersembahyang masyarakat China perantauan di Bagansiapi-api terhadap Dewa Ki Ong Ya (dewa laut). Menurut kepercayaan warga keturunan Thionghoa setempat, dewa inilah yang menyelamatkan leluhur mereka saat berlayar dari China hingga tiba di Bagansiapi-api.

Konon, berabad-abad yang lalu, para perantau China meninggalkan Pulau Hokkian (Fujian) untuk mencari penghidupan baru menuju Pulau Sumatra. Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas laut, akhirnya mereka mendarat di sebuah pulau di Sumatra. Yang membuat mereka mendarat di pulau ini adalah kobaran api yang menyala di dataran tersebut. Sejak saat itulah mereka mendarat dan menamai daratan ini dengan nama Bagan Api. Namun, seiring berjalannya waktu, nama Bagan Api kemudian berubah pengejaannya menjadi Bagansiapi-api. Di tempat baru ini masyarakat China tersebut membangun klenteng pertama yang bernama Klenteng Ing Hok King.

Sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Tionghoa di Bagansiapi-api, Bakar Tongkang oleh Pemerintah Kabupaten Rokanhilir dan Propinsi Riau telah dijadikan even wisata andalan dalam proposal Visit Indonesia Year 2008 dan juga agenda Visit Riau 2009. Oleh karenanya, pada saat penyelenggaraan ritual, wisatawan yang datang pada saat acara, tidak saja berasal dari kawasan Riau, melainkan juga dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, dan lain-lainnya. Bahkan banyak pula yang datang dari mancanegara, seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Malaysia.

Pada tahun 2008 ini, Perayaan Bakar Tongkang telah berumur sekitar 138 tahun, atau tepatnya telah ada sejak tahun 1820 M. Perayaannya berlangsung selama satu hari penuh, sedangkan persiapannya memakan waktu 2 hingga 3 hari. Sebelum hari perayaan, para warga keturunan China biasanya berdatangan ke Kota Bagansiapi-api untuk melakukan persiapan acara yang menghabiskan biaya milyaran rupiah ini. Mereka bukan hanya penduduk setempat, melainkan juga berasal dari Jakarta, Medan, Cirebon, Padang, Solo, Pekanbaru, Batam, Tanjungpinang, dan bahkan dari Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Para keturunan China tersebut datang untuk meramaikan dan membantu penyelenggaraan Upacara Bakar Tongkang. Setelah bersembahyang di klenteng-klenteng yang tersebar di Kota Bagansiapi-api, para keturunan Tionghoa setempat dan warga lain mulai menghias rumah-rumah mereka dengan memasang lampion merah yang diikat di depannya, maupun di pinggir-pinggir jalan utama.

Tak ketinggalan, di Klenteng utama (Klenteng Ing Hok King) juga dibangun sebuah panggung besar, tempat di mana penyelenggaran seni tradisional China diselenggarakan beberapa malam sebelum acara. Selain itu, para keturunan China di Bagansiapi-siapi juga membuat sebuah replika kapal (tongkang) dari kayu yang dihias dengan kain dan kertas yang didominasi oleh warna merah dan kuning. Di dalam replika kapal juga ditaruh persembahan dari masyarakat, berupa beras, sayur-sayuran, dan barang-barang lain, sebagai ungkapan rasa syukur terhadap dewa mereka. Setelah selesai, kapal kemudian diarak beramai-ramai menuju Klenteng Ing Hok King dan diinapkan selama satu malam, sebelum perayaan Bakar Tongkang diselenggarakan.

Keesokan harinya, acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, yakni perayaan/upacara/ritual Bakar Tongkang. Perayaan ini biasanya dimulai pada saat menjelang petang. Ribuan warga, baik keturunan China maupun bukan, berbondong-bondong mengarak replika kapal yang telah diinapkan selama semalam dari Klenteng Ing Hok King menuju lapangan terbuka, tempat pembakaran yang telah dipersiapkan. Dahulu tempat pembakaran tongkang biasanya di pinggir Sungai Rokan, namun sejak tahun 2000-an tempatnya dipindah di pinggir laut, agar dapat disaksikan oleh banyak orang. Iring-iringan rombongan pembawa kapal biasanya dimeriahkan dengan parade drumband dan pawai warga keturunan Thionghoa yang mengacung-acungkan hio terbakar.

Setelah rombongan pembawa kapal ini tiba di sebuah lapangan terbuka di pinggir laut, replika kapal kemudian dibakar, diiringi oleh gemuruh pukulan gendang dan gong tradisional China. Pada puncak acara, puluhan ribu orang, baik penduduk setempat maupun pendatang, menonton pembakaran ini. Gubernur dan Bupati setempat, bahkan kadang-kadang perwakilan pemerintah pusat Indonesia, datang pada acara ini.

Pembakaran tongkang dimeriahkan atraksi beberapa dukun warga Tionghoa, yang biasa disebut tan ki, di sekeliling replika kapal yang terbakar. Para dukun yang berpakaian tradisional Tionghoa ini semuanya bertelanjang kaki, membawa sebilah pedang kecil, dan memegang mopit (kuas untuk menulis) di tangan kanannya. Mereka menampilkan atraksi dengan menusukkan kawat-kawat runcing di pipi-pipi mereka. Tusukan-tusukan ini tak menyebabkan kulit mereka berdarah dan tak menyebabkan mereka kesakitan. Justru, mereka semakin `menggila` dan kesurupan, diiringi oleh ribuan warga yang mengangkat hio dengan mulut komat-kamit.

Kobaran api yang membakar kapal setelah beberapa lama, akhirnya mulai meredup. Pada saat itulah ribuan warga menanti jatuhnya tiang kapal, sebagai simbol peruntungan di hari-hari berikutnya selama setahun. Masyarakat setempat percaya, jika tiang kapal jatuh ke arah daratan maka hasil bumi pertanian akan lebih maju dibanding hasil laut, begitu juga sebaliknya. Dengan berakhirnya pembakaran tongkang ini maka berakhirlah Ritual Bakar Tongkang ini secara keseluruhan. Sejak tanggal 14 Juli 2007, Ritual Bakar Tongkang telah diusahakan untuk ditampilkan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, tepatnya di Anjungan Riau. Pertunjukan Ritual Bakar Tongkang di TMII adalah usaha Pemerintah Riau untuk terus mengenalkan budaya lokal masyarakat Riau kepada masyarakat Indonesia dan mancanegara.

(Irfan Afifi/Ensi/01/12-2008)

Refrensi: