Jumat, 22 Mei 2026   |   Sabtu, 5 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.511
Hari ini : 20.265
Kemarin : 24.876
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Aruh Baharin

Pemuka adat (balian) Suku Dayak memantrai sesaji

Aruh Baharin adalah upacara adat yang digelar oleh masyarakat Dayak yang berdomisili di Desa Kapul, Kecamatan Halongan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, setelah musim panen padi ladang (pahumaan) usai. Dalam tradisi mereka, beras hasil panen (baras hanyar) belum boleh dimakan, sebelum menggelar upacara Aruh Baharin. Biasanya, upacara adat ini dipusatkan di balai adat, rumah adat, atau di tempat-tempat khusus yang sengaja dibuat untuk keperluan upacara.

Secara historis, Aruh Baharin adalah upacara adat masyarakat Dayak Halongan yang menganut agama Kaharingan (agama Suku Dayak) untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas penganugerahan hasil panen padi ladang yang melimpah, dan sekaligus penghormatan terhadap arwah para leluhur yang diyakini senantiasa melindungi mereka dari malapetaka. Dalam perkembangan selanjutnya, upacara adat ini juga digunakan untuk merayakan keberhasilan usaha lainnya, seperti berdagang, beternak, melaut, dan lain sebagainya. Begitu juga pelaksanaanya, tidak hanya pemeluk agama Kaharingan, tapi juga pemeluk dari berbagai agama yang terdapat di desa tersebut.

Biasanya, upacara adat Aruh Baharin dilaksanakan secara bergiliran oleh tiga kelompok masyarakat adat Dayak yang mendiami Desa Kapul. Masing-masing kelompok masyarakat adat tersebut membawahi sekitar 25 sampai 30 kepala keluarga. Dewasa ini, pelaksanaan Aruh Baharin tidak lagi setiap tahun atau sehabis musim panen padi ladang, tapi tiga tahun sekali atau lima tahun sekali. Hal ini disebabkan biaya untuk pelaksanaannya terbilang mahal karena harus menyembelih beberapa ekor kerbau, kambing, dan ayam.

Pelaksanaan upacara adat yang digelar selama tujuh hari tujuh malam ini memiliki tiga tahapan. Pertama, tahapan persiapan. Pada tahapan ini, kaum laki-laki dan perempuan berbagi tugas. Kaum laki-laki bertugas membuat dan menghias tempat pemujaan, mencari kayu bakar, dan memasak nasi. Sedangkan kaum perempuan bertugas membersihkan beras, membuat ketupat, memasak lemang, dan memasak sayur untuk keperluan upacara.

Tahapan kedua adalah pemanggilan arwah leluhur. Tujuannya agar para arwah leluhur ikut menghadiri dan merestui upacara adat Aruh Baharin. Untuk memanggil arwah para leluhur, digelar beberapa ritual yang dipimpin oleh para balian (pemuka adat Suku Dayak) yang dimulai pada malam ketiga hingga malam keenam. Ritual-ritual tersebut antara lain, pertama, ritual Balai Tumarang. Ritual ini bertujuan memanggil para arwah yang pernah berkuasa di daerah tersebut, termasuk arwah raja-raja dari Pulau Jawa. Kedua, ritual Sampan Dulang atau ritual Kelong. Ritual ini bertujuan memanggil arwah Balian Jaya atau Nini Uri, yang dipercayai sebagai leluhur orang Dayak. Ketiga, ritual Hyang Lembang. Tujuannya adalah memanggil arwah raja-raja dari Kerajaan Banjar pada masa lampau. Keempat, ritual Dewata. Ritual ini menggambarkan keberhasilan Datu Mangku Raksa Jaya menembus alam dewa dengan cara bertapa. Kelima, ritual Hyang Dusun. Ritual ini mengisahkan raja-raja Dayak yang mampu menguasai sembilan benua atau sembilan pulau.

Tahapan ketiga adalah puncak upacara adat Aruh Baharin. Puncak upacara ditandai dengan penyembelihan (hadangan) beberapa ekor kerbau, kambing, dan ayam yang dipimpin oleh para balian. Sebagian dari daging hewan tersebut dimasak untuk dimakan bersama-sama dan sebagiannya lagi digunakan untuk sesaji. Sebelum dilakukan pemberkatan oleh para balian dan kemudian dilarungkan ke Sungai Balangan, sesaji tersebut terlebih dahulu diludahi oleh anggota masyarakat adat yang menjadi penyelenggara upacara. Dalam upacara ini, meludahi sesaji sebagai simbol agar dijauhkan dari malapetaka.

(Yusriandi Pagarah/ensi/10/12-09)

Referensi:

  • http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/09/20232966/aruh.baharin.pesta.padi.dayak.halong, diakses tanggal 20 Desember 2008
  • http://klipingadat.blogspot.com/2008/11/warga-dayak-halong-gelar-aruh-baharin.html, diakses tanggal 20 Desember 2008
  • http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzU3NjI=, diakses tanggal 21 Desember 2008
  • http://www.balangankab.go.id/link/info4.htm, diakses tanggal 21 Desember 2008
  • http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/31/daerah/2919790.htm, diakses tanggal 22 Desember 2008
  • http://www.wisatamelayu.com/id/object.php?a=Y2VQL1BYdS9P=&nav=geo, diakses tanggal 29 Desember 2008

Kredit foto: http://www.kompas.com/ (M. Syaiffulah)