Selasa, 30 Juni 2026   |   Arbia', 14 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 787
Hari ini : 16.773
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Melayu Langkat

Mulanya, orang-orang Melayu Langkat merupakan sebuah kelompok masyarakat yang menetap di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Indonesia. Lantaran wilayah domisili mereka, masyarakat Langkat dianggap sebagai bagian dari bangsa Melayu di Pulau Sumatra. Komunitas ini terbentuk karena migrasi atau berpindahnya orang-orang Batak Karo yang datang dari Tanah Karo (sekarang Kabupaten Karo, Sumatra Utara) yang terletak di selatan Kabupaten Langkat. Dengan demikian, masyarakat Melayu Langkat memiliki garis yang sama dengan nenek moyang orang Batak Karo, terutama bagi masyarakat Melayu Langkat di daerah Langkat Hulu (Langkat bagian barat-selatan).

Hijrahnya sekelompok orang Batak Karo ke tanah Langkat tersebut secara otomatis menyebabkan terjadinya kontak kultural secara intens dalam waktu relatif lama dengan masyarakat Langkat yang berada di sisi utara yang lebih dekat dengan kultur orang Aceh. Proses asimilasi ini berangsur membuat mereka mulai meninggalkan sistem sosial dan religi Batak Karo dan beralih memeluk Islam.

Pendek kata, masyarakat Langkat menjadi bagian dari bangsa Melayu lantaran dua hal: (1) lokasi bermukim dan (2) agama yang dipeluk. Hal itu termaktub dalam sebuah pantun mengenai transformasi orang Melayu Langkat ini:

bukan kapak sembarang kapak

kapak untuk membelah kayu

bukan Batak sembarang Batak

Batak sudah menjadi Melayu Batak

Sejalan dengan ditinggalkannya tradisi Batak Karo, sementara kebudayaan Islam mempengaruhi cara pandang hidup mereka, maka hal-hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi bentuk-bentuk kesenian yang muncul. Sebut saja kasidah, marhaban, gambus, kompang, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga mengenal seni oral (tradisi lisan) dalam melantunkan hikayat, dongeng, atau syair yang juga bernafaskan Islam. Di kalangan mereka juga berkembang kesenian berbalas pantun. Tradisi ini biasanya dilakukan pada upacara perkawinan.

Pada aspek bahasa, bahasa Melayu orang Langkat memiliki dialek tersendiri yang berbeda dengan ragam dialek bahasa Melayu yang ada di Sumatra maupun Semenanjung Malaka pada umumnya. Ciri khusus yang paling nampak ialah pada pelafalannya, seperti penekanan dan intensitas pemakaian pada huruf /e/ lebih kentara di akhir kalimat. Selain itu, irama tutur (intonasi) yang berbeda dengan aksen Melayu dari daerah lain, di mana aksen Melayu Langkat kerap menekankan penggunaan huruf /o/. Kendati demikian, model dialek atau gaya bahasa seperti ini kini sudah jarang ditemui, kecuali pada orang-orang tua asli Melayu Langkat.

Selanjutnya, dalam struktur sosial masyarakat Melayu Langkat, sebuah desa (kampung) terdiri dari beberapa dusun yang letaknya mengelompok dalam pola tertentu. Setiap dusun dipimpin oleh seorang Kepala Lorong. Pada masa Kesultanan Langkat, berlaku stratifikasi sosial yang membedakan antara keturunan bangsawan dan tidak. Yang termasuk golongan bangsawan ialah keturunan raja yang ditandai dengan gelar-gelar kehormatan tertentu, seperti tengku, sultan, datuk, dan lain sebagainya. Golongan ini sangat dihormati dan disegani karena, selain memegang kendali pemerintahan, para bangsawan inilah yang berkuasa atas keputusan-keputusan yang berkelindan dengan praktik peradatan masyarakat Langkat. Begitu pula dengan hak atas kepemilikan tanah dan modal produksi lainnya. Sementara bagi orang yang non-gelar bangsawan, mereka hanya bisa menjalankan apa yang telah diputuskan dan ditetapkan para pemangku adat dan sultan.

Pada masa kini (2009), masyarakat Melayu Langkat merupakan satu kelompok etnis Melayu yang hidup di dalam wilayah Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kabupaten seluas 6.320 km2 ini terdiri atas 23 kecamatan (data sampai tahun 2008), dengan Stabat sebagai ibu kotanya. Wilayah kecamatan yang terdapat di Daerah Tingkat II Langkat terbagi ke dalam tiga wilayah, yaitu: wilayah Langkat Hulu, yang merupakan daerah berdataran tinggi; wilayah Langkat Hilir, yang merupakan dataran rendah; dan wilayah Teluk Haru yang merupakan daerah pantai. Orang Melayu Langkat menetap di ketiga wilayah tersebut.

Kondisi geografis di kabupaten yang melahirkan sastrawan ternama Indonesia, Amir Hamzah, ini dilalui oleh beberapa sungai besar dan sungai kecil, seperti Sungai Wampu, Bahorok, Lapian, dan Besitang. Keberadaan sungai-sungai itu menyebabkan kondisi tanah subur, sehingga memberikan iklim kondusif untuk pertanian dan perkebunan. Menurut cerita rakyat setempat, selain sebagai sumber air bagi para petani, sungai-sungai tersebut sejak abad ke-14 sudah berfungsi sebagai jalur transportasi yang menghubungkan antara Kesultanan Langkat dengan para pedagang dari negeri Cina. Ketika itu, Kesultanan Langkat menjalin hubungan dalam hal perniagaan. Kini, sungai-sungai itu hanya difungsikan sebagai jalur penghantar kayu dan bambu dari daerah hulu ke hilir.

Lebih dari itu, keberadaan sungai-sungai itu juga mempengaruhi bentuk atau corak hunian milik orang Melayu Langkat. Rumah panggung didirikan oleh masyarakat Melayu Langkat mengikuti alur jalan dan bukit-bukit karena dipandang dapat menghindari luapan air dari berbagai sungai yang terdapat di dekat daerah hunian mereka. Banjir memang sering terjadi, terutama pada saat musim penghujan.

Kondisi lansekap Langkat, mulai dari dataran tinggi hingga pesisir (pantai), berdampak pada heterogennya profesi orang Melayu Langkat. Kendati demikian, pada umumnya, terutama di masa lampau, orang Melayu Langkat hidup dari pertanian dan perkebunan. Sangat sedikit dari mereka yang bekerja sebagai nelayan atau pencari ikan. Selain menanam padi di sawah, mereka juga menanam kelapa, durian, rambutan, nangka, cempedak, dan pisang. Di ranah perkebunan, mereka mengelola kebun karet, kopi, lada, pala, kelapa sawit, purun (tanaman rawa untuk bahan pembuatan kerajinan tangan), dan cengkeh.

Masyarakat Melayu Langkat sering dibuat pusing karena area pertanian dan perkebunan mereka terkenal kerap dilanda angin bahorok, yakni angin panas atau angin turun dari dataran tinggi (daerah sekitar Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat bagian barat) yang dapat merusak hasil pertanian. Bencana alam ini sudah menjadi hal rutin di setiap tahunnya, sehingga mereka, sebagai petani, biasanya telah menyiapkan segala sesuatu untuk meminimalisir kerugian dari datangnya angin bahorok tersebut.

Profesi lain yang menjadi sendi kehidupan masyarakat Melayu Langkat ialah produksi batu bara dari penambangan sederhana. Selain tambang batu bara, kerajinan bambu, ijuk, dan purun yang menghasilkan pelbagai anyaman bambu, sapu ijuk, payung bambu dan kertas, serta tikar menjadi alternatif usaha yang dapat menopang hidup masyarakat Melayu Langkat. Hasil produksi mereka ini biasanya mereka jajakan ke pusat-pusat kota atau berbagai tempat wisata di Kabupaten Langkat.

(Khidir Marsanto/ensi/05/01-09)

Referensi :