|
Untuk menghormati datangnya hari-hari besar Islam, masyarakat Aceh memiliki tradisi unik yang disebut Meugang atau Memeugang. Meugang (baca: megang) adalah tradisi membeli, mengolah, dan menyantap daging sapi dua hari sebelum datangnya bulan puasa (Meugang Puasa). Tak hanya itu, Meugang juga dilaksanakan dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri (Meugang Uroe Raya Puasa) dan dua hari menjelang Idul Adha (Meugang Uroe Raya Haji). Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan tradisi ini berlangsung. Namun, menurut cerita masyarakat serambi Mekkah, tradisi Meugang telah lama dilakukan secara turun temurun. Bahkan, karena kentalnya tradisi ini, para pendatang maupun warga non-muslim pun turut serta melaksanakan tradisi Meugang. Tak jarang pula instansi-instansi pemerintah maupun swasta menyediakan daging sapi untuk keperluan Meugang bagi karyawannya. Tradisi Meugang ini konon mampu menyedot perhatian masyarakat Aceh untuk tinggal di rumah, memasak, dan berkumpul bersama keluarga untuk menikmati berbagai hidangan dari daging sapi. Kantor-kantor pemerintahan, swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi. Pada hari pelaksanaan Meugang, masyarakat Aceh akan berduyun-duyun untuk membeli daging sapi. Akibat lonjakan kebutuhan daging tersebut, harga daging sapi akan melonjak antara 4—5 kali lipat dari harga normal. Lapak-lapak baru penjualan daging juga turut menjamur di pinggir jalan maupun di tempat-tempat keramaian lainnya. Karena mahalnya harga daging pada saat perayaan Meugang, biasanya tiap-tiap keluarga di Aceh jauh-jauh hari telah mempersiapkan dana yang cukup untuk keperluan perayaan ini. Sebab, masyarakat tanah rencong ini percaya, bahwa nafkah yang dicari selama sebelas bulan lamanya harus dinikmati selama bulan puasa sambil beribadah. Setelah daging sapi diperoleh, masyarakat Aceh biasanya akan mengolahnya menjadi berbagai menu masakan, ada yang memasaknya menjadi kari, semur, maupun rendang. Selain untuk disantap pada hari itu juga, daging sapi tersebut juga dapat diawetkan dengan cara dijemur dan ditaburi garam untuk dikonsumsi pada hari-hari berikutnya. Ada juga yang diolah menjadi daging cuka khas Aceh Besar, yaitu daging sapi yang dipotong berbentuk bonggol-bonggol besar lalu dimasak dengan bumbu yang dilengkapi cuka. Dengan menggunakan campuran cuka yang banyak, maka daging olahan ini dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Jika ingin disantap, maka bonggol daging tersebut dapat diiris-iris seperti dendeng untuk selanjutnya dimasak sesuai selera. Momen paling bermakna dalam tradisi Meugang adalah berkumpulnya keluarga untuk menikmati menu masakan secara bersama-sama. Untuk merayakan dan menghormati tradisi ini, masyarakat Aceh yang merantau pun umumnya akan pulang kampung untuk turut serta menyantap masakan daging sapi pada hari Meugang. (Lukman Solihin/ensi/04/01-09) Referensi: Sumber Foto: http://www.panoramio.com/photo/17505203 |