Jumat, 17 April 2026   |   Sabtu, 29 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 6.399
Hari ini : 90.969
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Dragon Boat Race

Dragon Boat Race atau Lomba Perahu Naga adalah even olahraga bernuansa budaya di Kota Tanjungpinang dan merupakan even tahunan yang rutin diselenggarakan oleh  Pemerintah Kepualauan Riau, sejak tahun 1992. Lomba/olahraga bersekala internasional ini konon diangkat dari sebuah tradisi masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang yang sudah berlangsung sejak tahun 1950-an. Tradisi tersebut bernama, “Sembahyang Keselamatan Laut”. Oleh masyakarat Thionghoa, tradisi ini biasanya dilakasanakan pada setiap tanggal 5 bulan 5, menurut perhitungan kalender China. Jika dihitung menurut perhitungan kalender Masehi, tradisi ini jatuh pada tanggal Juni, yang tanggal pelaksanaannya berubah setiap tahunnya. Sampai kini, tradisi ini masih hidup dan diselenggarakan masyarakat Thionghoa di Kota Tanjungpinang.

Kalau mau dirunut lebih jauh, tradisi Dargon Boat Race di Kota tanjungpinang berasal dari tradisi/festival Peh Cun yang dijalankan oleh masyarakat Thionghoa di Nusantara, selama ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini setidaknya telah menyebar di kawasan Nusantara, seperti Betawi, Jambi, Surabaya, Sumatera, Lampung, Riau, dan daerah lainnya. Kata “Peh Cun” sendiri berasal dari dialek Hokkian (dialek dalam bahasa China) yang berarti “mendayung perahu”. Tradisi Peh Cun biasanya ditandai oleh lomba dayung perahu naga dan makan bakcang (semacam makanan khas China dari beras dan daging, mirip seperti makanan lemper di Indonesia). Tradisi lomba perahu dayung inilah yang disebut sebagai “Sembahyang Keselamatan Laut”, yang lambat laun dikembangkan dengan sebutan Dragon Boat Race. 

Di Kepaulauan Riau, khususnya Tanjungpinang, Lomba Perahu Naga sebelum tahun 1990-an awalnya merupakan perlombaan atau even yang bersifat lokal. Namun seiring peningkatan pengembangan sektor pariwisata di kawasan ini, even ini dijadikan barometer olahraga berskala nasional atau bahkan berskala internasional. Mula-mula, Pulau Bintan dipilih sebagai tempat pertama penyelenggaraan acara/even berskala nasional, dengan nama Bintan Dragon Boat Race. Even ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Riau dan berlangsung rutin selama 10 tahun, yakni dari tahun 1992 hingga 2002. Lalu, seiring terbentuknya Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom pada tahun 2001, maka penyelenggaran even tahun berikutnya dikelola oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang, dengan nama Tanjungpinang Dragon Boat Race. Sejak tahun 2002, secara praktis Dragon Boat Race bertempat di kota Tanjungpinang dan telah berjalan selama delapan kali sampai tahun 2008.       

Sejak penyelenggaraannya di Pulau Bintan (1992), Dragon Boat Race sebenarnya telah menjadi even wisata bertaraf nasional dan internasional yang dibanggakan, baik oleh masyarakat Propinsi Riau maupun masyarakat yang saat ini tergabung dalam Propinsi Kepulauan Riau (Kepulauan Riau waktu itu masih termasuk wilayah kabupaten dalam Propinsi Riau). Sejak tahun tersebut, tak kurang lomba ini diikuti oleh puluhan peserta dari propinsi di luar Riau, seperti Jambi, Kalimatan, Nanggroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung, dan Sumatera Barat. Bahkan, dari tahun ke tahun, jumlah dan antusiasme peserta Lomba Perahu Naga ini terus bertambah. Negeri-negeri tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Philiphina ikut ambil dalam even berskala internasional ini.

Sampai tahun 2007, Dragon Boat Race di Tanjung Pinang merupakan even wisata ke-6 bagi Kota Tanjungpinang dan tahun ke-3 bagi Propinsi Kepulauan Riau. Saat ini, perlombaan ini telah resmi menjadi even wisata bertaraf internasional Kota tanjungpinang dan sekaligus sebagai salah satu even wisata tahunan Propinsi Kepulauan Riau.   

Lomba Perahu Naga terbilang unik, karena kapal-kapal yang digunakan untuk lomba harus berhiaskan naga, baik di bagian depan maupun di bagian belakang perahu. Tempat penyelenggaraan lomba juga sama tiap tahunnya, yakni diselenggarakan di laut Tanjungpinang. Di laut ini, beragam perahu berlomba untuk lebih cepat mencapai finis yang telah ditentukan, dan akhirnya menjadi pemenang acara. Pemenang utama biasanya akan mendapatkan piala tropi bergilir bupati dan uang ratusan juta. 

Sebagai sebuah acara perhelatan olahraga/wisata yang besar, even Dragon Boat Race tidak hanya menyajikan perlombaan perahu naga saja, melainkan sering juga dimeriahkan dengan berbagai perlombaan bersifat tradisonal, seperti lomba renang Tanjungpinang—Pulau Penyengat, lomba menyelam, lomba kayuh sampan, lomba sampan layar, lomba jong, dan lomba kaya/kano. Selain itu, even ini dimeriahkan pula dengan bazar makanan khas tradisonal Melayu dan beragam hasil kerajinan tangan dan cenderamata.

 (Irfan Afifi/Ensi/07/01-2009)

Daftar Pustaka