Minggu, 6 September 2026   |   Isnain, 23 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 674
Hari ini : 13.628
Kemarin : 26.946
Minggu kemarin : 32.264.566
Bulan kemarin : 43.463.948
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Kolano Uci Sibea

Usai beribadah di masjid, sultan dan masyarakat bersilaturrahmi di kedaton

Kehadiran seorang raja atau sultan di tengah rakyatnya tentu menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu. Apalagi kehadiran tersebut berlangsung dalam momen yang istimewa dan di tempat yang istimewa pula, yaitu pada hari-hari besar Islam yang dirayakan di masjid kesultanan. Momen inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat adat Ternate, yaitu turunnya sultan menuju Masjid Sultan Ternate untuk beribadah dan berdoa. Dalam bahasa setempat tradisi ini disebut Kolano Uci Sibea atau Jou Kolano Uci Sibea.

Kolano Uci Sibea dilakukan secara turun temurun oleh setiap Sultan Ternate hingga kini. Menurut aturan adat, pada waktu-waktu tertentu sultan memang harus melaksanakan ibadah di masjid kesultanan. Hal ini sebagai wujud penghormatan pihak kesultanan terhadap hari-hari besar Islam di lingkungan istana. Oleh karena inti dari tradisi ini adalah kehadiran seorang sultan, maka apabila sultan berhalangan hadir tradisi tersebut tidak dapat dilaksanakan. Dalam satu tahun, ritual Kolano Uci Sibea dilaksanakan empat kali, antara lain pada Malam Qunut, Malam Lailatul Qadar (keduanya pada bulan Ramadhan), serta pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Tradisi Kolano Uci Sibea biasanya dimulai dengan turunnya sultan dari kedaton menuju masjid. Dahulu, perjalanan sultan menuju masjid biasanya dengan cara ditandu dan diiringi oleh para pembesar kesultanan serta para pengawal istana. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, sejak akhir 2007 lalu Sultan Ternate (Sri Sultan Haji Mudaffar Syah II) lebih memilih mengendarai mobil untuk menuju masjid. Dalam iring-iringan ini, baik sultan, para pembesar kesultanan, maupun pengawal istana biasanya mengenakan pakaian adat lengkap. Hal ini menyimbolkan bahwa Kolano Uci Sibea merupakan upacara resmi kesultanan. Untuk menyemarakkan iring-iringan dari kedaton menuju masjid, di barisan depan terdapat sekitar dua belas anak kecil yang menabuh alat musik Totobuang (semacan gamelan). Dalam situs http://ramadhan.okezone.com disebutkan, alat musik ini merupakan pemberian Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) ketika Sultan Zainal Abidin Syah yang memerintah Ternate antara 1486—1500 berguru kepadanya.

Di dalam masjid, Bobato Akhirat (dewan keagamaan kesultanan) telah menunggu sultan untuk melaksanakan ibadah. Jika pada acara Malam Qunut dan Malam Lailatul Qadar sultan dipersilahkan untuk bersama-sama menunaikan Shalat Tarawih, maka pada perayaan Idul Fitri dan Idul Adha sultan bersama-sama melakukan Shalat Id.

Usai melaksanakan ibadah di masjid, sultan akan pulang ke kedaton untuk memanjatkan doa di ruangan khusus, yaitu di atas makam keramat leluhur bersama sang permaisuri (Boki). Setelah berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bersilaturrahmi. Dalam silaturrahmi ini, masyarakat yang dipimpin oleh Imam Masjid Sultan Ternate (Jou Kalem) akan melakukan sembah-sungkem yang disebut Suba Jou. Prosesi Suba Jou dimulai dengan berjalan jongkok mendekat ke hadapan sultan dan permaisuri untuk bersalaman dan mencium tangan Sultan. Silaturrahmi ini dilakukan secara bergiliran hingga seluruh rakyat memperoleh kesempatan untuk bertemu dan mencium tangan sultan.

 (Lukman Solihin/ensi/05/02-09)

Daftar Bacaan:

Artikel “Prosesi Jou Kolano Uci Sibea”, diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari: http://busranto.blogspot.com/2008/02/prosesi-jou-uci-sibea-dan-pelaksanaan.html

Artikel “Upacara Suci di Masjid Ternate”, diunduh tanggal 10 Februari 2009 dari: http://ramadhan.okezone.com/ReadStory/2008/09/17/67/146751/upacara-suci-di-masjid-ternate

_______________________________

Sumber Foto: http://molied.multiply.com/photos/album/65