Selasa, 21 Juli 2026   |   Arbia', 5 Shafar 1448 H
Pengunjung Online : 920
Hari ini : 12.829
Kemarin : 24.334
Minggu kemarin : 209.046
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Moloku Kie Raha

Gambar kuno perairan di sekitar Pulau Ternate.

Sejak abad ke-13 kawasan Maluku Utara telah dikenal sebagai pusat penghasil rempah-rempah, terutama cengkeh. Akibat pesatnya perdagangan rempah-rempah, penguasa lokal pun muncul dan saling bersaing memantapkan posisinya masing-masing. Tak heran jika wilayah ini oleh pedagang-pedagang Arab dijuluki sebagai Jazirah Al Mulk atau tanah para raja, sebab di kawasan ini berdiri beberapa kerajaan kuat, seperti Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Relasi kekerabatan dan kekuasaan di antara empat kerajaan tersebut terjalin dalam falsafah hidup masyarakat setempat, yaitu Moloku Kie Raha. Menurut bahasa setempat, Moloku Kie Raha berarti persaudaraan penguasa empat gunung. Gunung, dalam hal ini bermakna sebagai kerajaan, sehingga Moloku Kie Raha dapat berarti persaudaraan empat penguasa kerajaan.

Menurut catatan wapedia.mobi, konsep ini kemungkinan muncul sekitar abad ke-14, ketika Kerajaan Ternate yang menguasai sebagian perdagangan rempah-rempah mencoba memperkuat dominasinya di kawasan Maluku Utara. Usaha ambisius ini kemudian ditentang oleh kerajaan-kerajaan lainnya, seperti Tidore, Bacan, Jailolo, Obi, dan Loloda. Pertentangan Ternate dengan kerajaan-kerajaan lainnya kemudian menyulut konflik yang berkepanjangan, sehingga memantik Raja Ternate ke-7, yaitu Kolano Sida Arif Malamo (memerintah sekitar 1322—1331 M), untuk menyelenggarakan pertemuan raja-raja demi tercapainya persekutuan bersama. Kesepakatan ini kemudian dikenal dengan nama Persekutuan Moti (Motir Verbond). Oleh karena disepakati oleh empat kerajaan kuat, maka persekutuan ini juga dikenal sebagai persekutuan Moloku Kie Raha. Bentuk riil dari persekutuan tersebut adalah pembagian peran bagi masing-masing kerajaan. Raja Ternate berperan sebagai mandataris/penguasa utama Maluku (Alam Makolano), Raja Bacan menjadi penjaga perbatasan (Dehe Makolano), Raja Tidore menjaga keamanan dalam negeri (Kie Makolano), serta Raja Jailolo menjadi penjaga serangan dari luar (Jiko Makolano).

Muasal falsafah Moloku Kie Raha sebetulnya dapat dilacak dari mitos masyarakat setempat tentang asal-usul empat kerajaan di kawasan Maluku Utara. Seprti dicatat oleh Irza Anyta Djafaar (2005: 18), mitos tersebut bercerita tentang seorang Arab keturunan Nabi Muhammad SAW bernama Djafar Sidek yang menikah dengan Nur Safa, seorang putri dari kayangan. Dari pernikahan inilah kemudian lahir empat bersaudara yang menjadi bakal sultan di tiap kerajaan, yaitu Kaitcil Buka (raja pertama di Kerajaan Bacan), Daradjati (raja pertama di Kerajaan Jailolo), Sehadjati (raja pertama di Kerajaan Tidore), serta Masjhur Malamo (raja pertama di Kerajaan Ternate).

Akan tetapi, sebagaimana ciri khas mitos pada umumnya, terdapat banyak versi mengenai asal usul Djafar Sidek dan Nur Safa tersebut. Versi yang berbeda, misalnya, datang dari pihak Kesultanan Ternate (Djafaar, 2005: 19) yang menyebutkan bahwa Djafar Sidek dipercaya berasal dari Jawa, sementara Nur Safa sendiri adalah seorang putri dari kalangan masyarakat setempat. Perkawinan mereka kemudian melahirkan penguasa pertama di Ternate, yaitu Masjhur Malamo. Melalui penguasa pertama Ternate inilah kemudian lahir penguasa di tiga kerajaan lainnya, yaitu di Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Munculnya beberapa versi mitos ini dapat dipahami sebagai upaya pihak kesultanan untuk mengklaim keabsahan dan kebesaraan kesultanan masing-masing. Seperti diutarakan oleh Andaya (dalam Reid, 1993: 29), kesamaan konsep kosmologis mengenai asal-usul masing-masing kerajaan di Maluku Utara tidak membuat keberadaan tiap kerajaan kehilangan alasan untuk berseteru. Ternate dan Tidore misalnya, meskipun sama-sama mengakui memiliki satu garis nasab tetap saja bersaing untuk menjadi penguasa utama di kawasan Jazirah Al Mulk. Perseteruan ini makin memuncak setelah Ternate berhasil menaklukkan Kerajaan Jailolo pada tahun 1551, sehingga membuat persaingan memperebutkan pengaruh semakin terbuka (Ibid: hlm 29).

Setelah era kesultanan makin merosot perannya menjadi hanya wali kebudayaan setempat, Moloku Kie Raha tidak lagi menjadi konsep penguasaan wilayah secara bersama, melainkan persaudaraan sebagai saudara satu wilayah. Untuk menghidupkan kembali semangat persaudaraan di antara masyarakat Maluku Utara ini, pemerintah setempat setiap tahunnya pada bulan April mengadakan pesta rakyat bertajuk Festival Legu Gam Moloku Kie Raha. Pesta rakyat yang diikuti oleh utusan empat kerajaan antara lain Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo ini menampilkan berbagai pentas kesenian, karnaval budaya, pameran dan bazaar, serta berbagai perlombaan yang diselenggarakan di lapangan Kesultanan Ternate.

(Lukman Solihin/ensi/06/02-09)

Daftar Bacaan:

_______________________________

Sumber Foto:  http://www.colonialvoyage.com/ternate.html