|
Sampul buku Assikalaibineng Assikalaibineng adalah sebutan bagi kitab klasik Bugis yang membahas mengenai hubungan suami istri. Lontara ini merupakan `kitab kamasutra` atau `serat nitimani` ala orang Bugis yang mulai disusun sekitar abad ke-17. Hingga saat ini, puluhan salinan naskah Assikalaibineng yang dimiliki oleh masyarakat telah didokumentasikan oleh kantor Arsip Nasional Makassar. Menurut penelitian Muhlis Hadrawi (2008: 2), terdapat sekitar 44 naskah Assikalaibineng yang berisi tentang pendidikan seks dengan bahasa Bugis dan Makassar. Lontara Assikalaibineng sendiri mengulas tentang berbagai aspek mengenai hubungan suami istri, mulai dari percumbuan (foreplay), persenggamaan (coitus), hingga tahap akhir hubungan seks, yaitu pembersihan dan perawatan tubuh (Muhlis Hadrawi, 2008: 127). Tak hanya itu, Assikalaibineng juga membahas bagaimana cara menghargai dan membahagiakan istri ketika bersenggama, bagaimana memaknai persetubuhan, serta hakikat mengenai cinta antara suami dan istri. Berbagai teknik persenggamaan maupun nilai-nilai filosofis dalam hubungan suami istri yang dibahas dalam Lontara Assikalaibineng umumnya berdasarkan pada ajaran Islam. Hal ini tampak, misalnya, dari doa-doa yang harus dibaca, serta sosok panutan yang banyak dibahas dalam lontara ini, yaitu Sayyidina Ali dan Siti Fatimah (menantu dan puteri Nabi Muhammad SAW). Melalui bacaan doa serta contoh-contoh dari dua sosok panutan tersebut, aktivitas bersenggama tak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku yang terpuji sesuai dengan tuntunan Islam (Muhlis Hadrawi, 2008: 124). Ketika akan memulai persenggamaan, misalnya, seorang laki-laki disarankan untuk berwudhu, kemudian membaca doa: Laa tadrikuhul absara wahuwa yadrikuh laa abshara wahuwa lisainul habiir. Usai membaca doa ini, si laki-laki juga disarankan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, baru kemudian memulai percumbuan. Rangsangan awal yang dapat dilakukan oleh seorang laki-laki antara lain mencium perut, mencium ubun-ubun, mencium pipi, mencium pangkal leher, serta mencium farji atau kemaluan perempuan. Selain bagian-bagian tersebut, versi lainnya menyebutkan terdapat 12 titik rangsangan dalam tubuh wanita, antara lain ubun-ubun, telinga, perantara kening, mata, pipi, hidung, dagu, pangkal leher, tengkuk, telapak tangan, buah dada, serta pusar. (Muhlis Hadrawi, 2008: 129-133). Ketika hendak melakukan penetrasi, seorang laki-laki juga diwajibkan membaca doa, yaitu Ya qadiyal hajati mufattikh iftakhna. Untuk membuat persenggamaan makin nikmat, Lontara Assikalaibineng juga mengajarkan beberapa teknik untuk menyentuh dinding-dinding vagina yang disebut dengan istilah `pintu`. Apabila ingin menyentuh `pintu kanan`, maka kaki kanan laki-laki harus ditekuk, sementara kaki kanan si perempuan diluruskan (begitu sebaliknya untuk menyentuh `pintu kiri`). Apabila ingin menyentuh `pintu atas`, maka panggul istri harus diangkat setinggi 4 jari. Sedangkan jika ingin menyentuh pintu bawah, maka pihak laki-laki dan perempuan dapat mempertemukan pusar keduanya. Teknik-teknik menyentuh dinding vagina ini dipercaya dapat memberikan kenikmatan tertinggi bagi perempuan dalam bersenggama (Muhlis Hadrawi, 2008: 146-147). Rahasia hubungan seks lainnya berkaitan dengan pemilihan waktu bersenggama agar dapat menentukan manfaatnya pada anak-keturunan kelak. Salah satunya mengenai ciri fisik keturunan yang dapat dihasilkan dalam persenggamaan pada waktu-waktu tertentu. Secara eksplisit Assikalaibineng mengemukakan: “Orang berkulit putih bercahaya (maksudnya anak keturunan) waktunya adalah di hari Senin, Rabu, Kamis, Jumat. Itulah empat hari waktu melakukannya”. Lebih rinci lagi, dalam naskah Assikalaibineng disebutkan: ”Adapun untuk mendapat anak berkulit putih kita melakukannya waktu Isya`. Anak yang berkulit hitam, kita melakukannya tengah malam. Anak berkulit kemerah-merahan pada antara dua waktu itu.” (dalam Muhlis Hadrawi, 2008: 93 dan 94). Terlepas dari manfaat kitab klasik ini dalam memberikan pelajaran berharga untuk kehidupan suami istri, namun kita juga dapat menangkap kesan `dominasi` pihak laki-laki dalam mengambil peran, inisiatif, serta menjadi tokoh utama dalam percintaan. Pihak perempuan umumnya hanya berposisi sebagai obyek penerima yang `pasrah` untuk diperlakukan sesuai teknik-teknik persenggamaan yang dilakukan oleh laki-laki. Secara tajam, Wahyuddin (dalam http://wap.fajar.co.id) mengatakan, bahwa teks Lontara Assikalaibineng umumnya menempatkan laki-laki sebagai sosok yang superior, sementara perempuan pada posisi yang inferior. Hal ini tampak dari peran laki-laki yang `menyentuh` (makkarawa) sementara perempuan adalah yang `disentuh` (ikarawa). Pihak laki-lakilah yang merapal doa pembuka, mencium, membaringkan, meniup ubun-ubun dan seterusnya, sedangkan si perempuan hanya pasrah menerima perlakukan tersebut. Gambaran yang dikemukakan dalam Lontara Assikalaibineng, menurut Wahyuddin, merupakan bagian dari potret masyarakat Bugis yang menempatkan perempuan sebagai obyek yang pasif di bawah dominasi lelaki yang aktif. Oleh sebab itu, teks Assikalaibineng dapat ditinjau sebagai teks yang tidak bebas nilai, melainkan sarat dengan muatan patriarkis, yaitu dominasi kehidupan yang ditandai dengan peran besar pada pihak laki-laki terhadap perempuan. Kendati memperoleh posisi yang dominan, seorang laki-laki sebetulnya dilarang untuk berlaku semena-mena dalam hubungan seks. Secara baik kitab ini mengajarkan bagaimana laki-laki harus bertindak arif untuk memulai persenggamaan, yaitu mengajak istri bersenggama dalam kondisi yang tepat. Dalam Assikalaibineng disebutkan: “Jika menjelang tidur kemudian kamu melakukannya, maka istri menganggap dirinya merasa disayangi serta dimuliakan. Akan tetapi, jika dia sementara tidur kemudian mengajaknya, maka dia merasa diperlakukan seperti budak. Ketahuilah segalanya sebelum melakukannya” (dalam Muhlis Hadrawi, 2008: 94). Selain itu, dalam kitab ini juga dikemukakan bahwa kenikmatan persetubuhan tidak hanya menjadi milik laki-laki, melainkan secara bersama-sama dinikmati oleh pasangan suami istri dengan cara mengikuti teknik-teknik hubungan seks seperti yang disarankan oleh Assikalaibineng. (Lukman Solihin/ensi/10/04-09) Daftar Bacaan: - Muhlis Hadrawi (2008). Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis. Makassar: Penerbit Ininnawa.
- Wahyuddin, “Assikalaibineng, Politik Seks Lelaki Bugis,” artikel diunduh tanggal 28 Maret 2009 dari: http://wap.fajar.co.id/news.php?newsid=85311
- “Assikalaibineng, Kitab Hubungan Seks Bugis,” artikel diunduh tanggal 28 Maret 2009 dari: http://www.kompas.com/.
|