|
Mauwoo di Danau Bakuok Secara bahasa, sebagaimana terdapat dalam portal http://wisatamelayu.com, mauwoo berarti menangguk atau menangkap ikan secara bersama-sama. Namun, dalam perkembangannya, istilah mauwoo lebih populer sebagai tradisi memanen ikan di Danau Bakuok yang dilakukan oleh masyarakat Desa Aur Sati, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dulunya, tradisi unik ini rutin digelar masyarakat di sekitar danau seluas satu setengah kilometer ini dua kali setahun. Hal tersebut disesuaikan dengan luapan air Sungai Kampar yang juga dua kali setahun. Dewasa ini, tradisi mauwoo digelar menjelang memasuki bulan puasa dan pada saat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam tradisi mauwoo, orang yang paling beruntung adalah orang yang paling banyak mendapatkan hasil tangkapan. Sebab dalam tradisi ini, ikan-ikan hasil tangkapan secara otomatis menjadi hak milik para peserta. Jika menilik cara mendapatkan hak milik terhadap ikan hasil tangkapan, maka tradisi panen mauwoo berbeda dengan tradisi panen lubuk larangan, sebagaimana yang terdapat di Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Karena, ikan-ikan hasil tangkapan dalam tradisi lubuk larangan, terlebih dahulu dikumpulkan pada suatu tempat. Kemudian, baru dibagi secara merata kepada peserta yang hadir. Sebagaimana diketahui, Danau Bakuok merupakan bagian dari anak Sungai Kampar. Ketika musim hujan tiba, Sungai Kampar akan meluap sampai ke Danau Bakuok dengan membawa aneka bibit ikan, seperti bibit ikan nila, gurame, motan, patin, baung, dan lain sebagainya. Pada saat itulah, seperti dilaporkan laman http://www2.kompas.com, para ninik mamak dan tokoh masyarakat setempat berancang-ancang membuat aturan pelarangan menangkap ikan di Danau Bakuok. Sebagai pertanda dimulainya larangan menangkap ikan, para pemuka masyarakat tersebut akan menancapkan pelepah pohon rumbia (metroxylon sagu) di sekeliling danau. Kemudian, pelarangan itu disebarluaskan kepada masyarakat melalui masjid, musola, dan surau yang terdapat di sekitar danau tersebut. Setelah sekitar lima atau enam bulan berlalu, tradisi mauwoo pun siap digelar. Karena, selama rentang waktu itu, ikan-ikan di Danau Bakuok diyakini sudah besar dan siap untuk dipanen. Pada saat panen, masyarakat akan berbondong-bondong menuju Danau Bakuok, baik sebagai peserta maupun sebagai penonton. Biasanya, tradisi panen ikan masyarakat yang terdiri dari sembilan suku adat di sekitar Danau Bakuok ini didahului dengan pembacaan doa, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan kata sambutan dari pejabat daerah atau tokoh masyarakat setempat. Setelah mendapat aba-aba dari tetua adat, tradisi mauwoo pun dimulai. (Yusriandi Pagarah/ensi/14/04-09) Daftar Bacaan: Kredit foto: http://64.203.71.11/ver1/Negeriku/0709/05/233235.htm |