|
Seorang peserta Pasola bersiap menyerang di atas seekor kuda. Pasola adalah tradisi permainan perang-perangan yang dilakukan oleh masyarakat penganut agama Marapu di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Permainan perang-perangan tersebut dilakukan oleh dua kelompok pasukan berkuda (tiap kelompok berjumlah sekitar 100 orang) yang masing-masing bersenjatakan lembing atau tongkat kayu. Tongkat kayu yang digunakan dalam permainan ini memiliki panjang sekitar 1,5 meter, diameter 1,5 centimeter, dengan ujung depan dibiarkan tumpul. Meskipun spesifikasi tongkat kayu tersebut nampak tidak ‘terlalu‘ berbahaya, namun permainan ini kerap kali melukai tubuh para pemainnya, bahkan tak jarang dapat merenggut korban jiwa. Sebab, dalam permainan pasola, lembing kayu tersebut dilesatkan sembari menunggang kuda, sehingga menambah daya dan kecepatan luncurnya ke arah lawan. Istilah ‘Pasola‘ sendiri berasal dari kata ‘sola‘ atau ‘hola‘ yang berarti tombak atau lembing kayu. Setelah mendapat imbuhan ‘pa‘ menjadi ‘pasola‘ atau ‘pahola‘, artinya kemudian merujuk pada ‘permainan‘, yaitu permainan perang-perangan yang menggunakan lembing kayu. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti sejak kapan Pasola mulai dimainkan oleh masyarakat Sumba. Namun, menurut cerita masyarakat setempat, tradisi ini lahir dari sebuah legenda percintaan seorang janda cantik yang menjadi sumber pertikaian dua kampung di Pulau Sumba, yaitu Kampung Waiwuang dan Kampung Kodi. Dalam cerita yang dilansir oleh situs www.nusacendanabiz.com disebutkan, tiga bersaudara yang dianggap sebagai pemimpin Kampung Waiwuang berpamitan untuk pergi melaut. Mereka adalah Umbu Dula, Ngongo Tau Masusu, dan Yagi Waikareri. Umbu Dulla adalah suami Rabu Kaba, seorang perempuan yang dikenal paling cantik di Kampung Waiwuang. Ketiga bersaudara inipun pergi, namun bukan untuk melaut sebagaimana mereka katakan kepada warga, melainkan pergi untuk mengambil padi di tempat lain. Setelah ditunggu lama, tiga bersaudara itu tidak kunjung pulang, sehingga warga Waiwuang mulai mencarinya. Setelah berusaha mencari ke sana ke mari dengan tanpa hasil, warga akhirnya mengumumkan bahwa ketiga pemimpin mereka telah meninggal. Pengumuman itu tentu juga berkaitan dengan perubahan status baru Rabu Kaba, yaitu janda mendiang Umbu Dulla. Sementara di tempat lain, di Kampung Kodi, seorang pemuda tampan bernama Teda Gaiparona telah mendengar berita tersebut dan dengan cepat mulai mendekati janda cantik Rabu Kaba. Tetapi, warga Kampung Waiwuang tidak berkenan dengan kisah asmara dua sejoli ini. Karena sudah dimabuk asmara, akhirnya mereka melakukan kawin lari. Rabu Kaba dibawa lari ke Kampung Kodi. Tak berapa lama, tiga bersaudara pemimpin Kampung Waiwuang tersebut pulang dan mendapati berita bahwa Rabu Kaba telah dibawa lari ke Kampung Kodi. Memperoleh kabar tersebut, akhirnya warga Waiwuang bersepakat untuk meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona dan warga Kampung Kodi yang merestui pernikahan mereka. Setelah perundingan yang alot, akhirnya kedua kampung bersepakat untuk menjatuhkan hukuman kepada Teda Gaiparona, yaitu mengganti belis (mas kawin) yang diterima Rabu Kaba dari keluarga Umbu Dulla. Setelah perselisihan dianggap selesai, Teda Gaiparona kemudian berpesan supaya warga melaksanakan Pasola. Dengan permainan perang-perangan tersebut, diharapkan dendam atas perselisihan kedua kampung dapat dilepaskan dalam arena Pasola. Menurut http://sumbaisland.com, sebagai sebuah tradisi, permainan Pasola tidak hanya merupakan permainan yang bersifat badaniah atau profan, melainkan juga sebagai simbol ketaatan terhadap pesan leluhur. Kataatan dan penghormatan kepada leluhur adalah inti dari ajaran agama Marapu. Dalam istilah Sumba, ‘Marapu‘ juga bermakna nenek moyang atau leluhur, sehingga agama Marapu merupakan agama lokal yang memuja roh para leluhur sebagai perantara menyembah ilah tertinggi (Tuhan Yang Maha Esa). Oleh sebab itu, ketaatan masyarakat Sumba untuk melaksanakan Tradisi Pasola dapat dilihat sebagai bagian dari ketaatan untuk menjalankan kepercayaan agama Marapu. Di sisi lain, secara sosial tradisi ini juga berfungsi sebagai salah satu elemen pemersatu dalam masyarakat Sumba. Seperti awal mula lahirnya tradisi Pasola yang ditujukan untuk melepaskan dendam dua kelompok warga, hingga saat inipun Pasola tetap menjadi ajang silaturrahmi antarwarga. Para warga berkumpul untuk menyaksikan atau menjadi peserta Pasola tidak dengan membawa dendam atau meninggalkan dendam. Sebab, dalam permainan ini, peserta yang terkena terjangan tombak lawan hanya boleh membalas dalam arena permainan Pasola, tidak di tempat atau waktu yang lain. Selain itu, warga Sumba juga meyakini, semakin banyak darah mengucur akibat permainan Pasola, maka tanah pertanian mereka akan semakin subur. Hari pelaksanaan tradisi inipun tidak ditentukan secara asal-asalan, melainkan menunggu perhitungan yang tepat menurut para tetua adat (Rato). Biasanya para Rato akan melakukan laku tapa (berpuasa) sembari membaca tanda-tanda alam berkaitan dengan datangnya musim nyale (cacing laut). Jika para Rato telah yakin dan telah menetapkan tanggalnya, maka para warga akan berkumpul di tepi pantai untuk melakukan ritual pembukaan tradisi Pasola. Dalam ritual ini, para Rato akan melakukan adegan tiruan permainan Pasola, yang kemudian dilanjutkan dengan permainan Pasola yang sesungguhnya di tengah padang rumput (sabana). (Lukman Solihin/ensi/12/05-09) Daftar Bacaan: Kredit Foto: http://verykaka.wordpress.com/ |