Selasa, 5 Mei 2026   |   Arbia', 18 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 9.010
Kemarin : 45.452
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Rambu Solo`

Masyarakat Toraja Membentangkan Lamba-Lamba dalam Upacara Rambu Solo`

Rambu solo` merupakan upacara adat pemakaman Suku Toraja, Propinsi Sulawesi Selatan. Ritual ini sangat panjang dan melelahkan. Bagi orang Toraja, kematian bukanlah akhir dari kisah hidup anak manusia. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akan menuju ke alam puya atau alam baka. Tradisi leluhur ini sekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka.

Biasanya, rambu solo` bisa berlangsung hingga berhari-hari. Tak sedikit pula biaya yang harus dikeluarkan pihak keluarga untuk membiayai jalannya prosesi rambu solo`. Selama itu, jenazah disemayamkan dalam peti rumah duka.

Meskipun secara medis kematian merupakan akhir dari hidup manusia di dunia, namun bagi masyarakat Toraja asumsi ini tidak berlaku. Berdasarkan adat istiadat Toraja, orang yang mati dianggap sedang tidur selama keluarga belum menjalankan upacara rambu solo`.  

Sebelum rambu solo` dilaksanakan, keluarga orang yang meninggal harus melaksanakan ritual ma`tundan atau riatu membangunkan arwah terlebih dahulu. Dalam ritual ini, suasana duka jelas terlihat. Wajah sanak saudara dan orang-orang terdekat dari mendiang terlihat sedih. Bahkan, tak jarang air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujud orang yang mereka cintai bakal pergi selamanya.

Setelah ritual ma`tandun selesai, prosesi selanjutnya adalah ritual tumbuk padi. Ritual tumbuk padi biasa dilakukan kaum wanita yang sudah tua yang memiliki kemahiran memainkan lesung dan bambu. Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad orang yang meninggal dari rumah duka untuk disinggahkan Tongkonan (rumah adat masyarakat Toraja) untuk disemayamkan selama satu malam. Menurut adat Toraja, prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan para leluhurnya. Di dalam rumah adat, peti jenazah harus dijaga semalam suntuk oleh sanak keluarga.

Esok harinya, peti jenazah dipindahkan ke dalam lumbung (lubang tepat di bawah rumah adat) selama tiga hari tiga malam. Prosesi ini diringi dengan tarian penghormatan. Lamba-lamba (kain adat Toraja yang berwarna merah) pun dibentangkan sebagai lambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahu mengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung.

Ketika peti mati diturunkan, para pengiring peti jenazah bersorak-sorai sebagai cara untuk mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak para pemanggul peti jenazah. Kain lamba-lamba ini dibentangkan sebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbungini menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yang sebenarnya.

(Afthonul Afif/ensi/08/-7-2009)

Sumber Bacaan:

Sumber Foto: http://www.daylife.com/