|
Sosok Orang Dayak Bukat Bukat adalah sub suku dari Suku Dayak yang tinggal di kawasan Propinsi Kalimantan Barat. Sebagian besar mereka mendiami wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di wilayah Kecamatan Putisibau. Di wilayah Putisibau mereka tinggal di hulu Sungai Mendalam, anak Sungai Kapuas. Di antara desa pemukiman mereka bernama Nanga Obat, di mana katang nanga itu berarti sungai. Tahun 1974, Departemen Sosial mencatat keseluruhan orang Bukat sebanyak 296 jiwa (Melalatoa, 1995:191), sedangkan sumber lain (Mutiara, 1998) mencatat orang Bukat berjumlah sekitar 130 jiwa yang terbagi dalam 24 kepala keluarga (kk). Sumber yang terakhir tidak sependapat dengan Departemen Sosial yang masih menggolong orang Bukat sebagai kelompok masyarakat terasing, karena mereka sudah menjalin kontak sejak lama dengan masyarakat lain di sekitarnya atau kelompok dari luar. Oleh M. Junus Melalatoa Orang Bukat dikelompokkan menjadi dua. Orang Bukat yang berdiam di Desa Nanga Obat biasa disebut orang Bukar Mendalam. Sedangkan kelompok lain bernama Bukat Keriau yang berdiam di sungai Keriau, yang juga anak Sungai Kapuas. Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Bukat merupakan sub kelompok orang Punan. Hal ini didasarkan atas fakta tentang kehidupan orang Bukat yang nomadik. Kata punan sendiri memiliki arti “berkemah”, atau hidup berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan sumber pangan. Memang seperti ciri-ciri yang dimiliki orang Punan, orang Bukat pun hidup dari meramu, mengumpulkan hasil hutan, berburu, dan menangkap ikan. Mereka tidak memiliki rumah betang (rumah panjang sebagai simbol hidup menetap bagi masyarakat Dayak), tidak beternak babi dan ayam, dan tidak menyadap karet. Bercocok tanam di ladang pun mereka kenal setelah menjalin kontak dengan kelompok masyarakat tetangganya, yaitu Suku Kayan (Melalatoa, 1995:1991). Identifikasi sebagai kelompok masyarakat yang hidup berpindah-pindah semakin kuat karena orang Bukat terkenal dengan kemahirannya dalam berburu. Pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan sumpit sebagai alat berburu selalu diajarkan kepada generasi muda agar dapat menjadi ketrampilan bertahan hidup. Sumpit (soput) buatan orang Bukat terkenal kualitasnya yang baik dibanding dengan buatan kelompok suku tetangganya, yaitu orang Kayan. Orang-orang Kayan sering minta dibuatkan sumpit oleh orang Bukat, yang bahannya dari sejenis kayu bersi berwarna hitam pekat dan keras. Orang Bukat juga memiliki teknik dasar berburu, yaitu kemampuan membaca jejak, ketajaman penciuman dan pandangan mata dalam mengamati sasaran. Kegiatan berburu ini biasanya dilakukan dalam kelompok yang jumlahnya sekitar lima orang. Kelompok ini merupakan kelompok tetap. Perburuan itu juga dibantu oleh lima ekor anjing. Pemimpin dalam berburu ditentukan berdasarkan pengalaman dan keahlian (Ibid., 1995:1991). Dalam hal agama, orang Bukat sudah menyerap pengaruh luar. Sejak tahun 1970 orang Bukat sudah banyak yang memeluk agama Katolik. Agama Katolik secara berangsur-angsur telah menggeser berbagai norma adat yang disebut dengan bulin-bulin. Pada 1980 Sekolah Dasar (SD) Inpres juga sudah mulai dibangun, sehingga sekarang sebagian besar generasi muda orang Bukat sudah terbebas dari buta huruf. (Afthonul Afif/ensi/10/07-2009). Sumber Bacaan: Melalatoa, 1995, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Orang Bukat Penghuni Hutan Lebat Kalimantan Barat, Mutiara, Edisi 377, Juni 1998. Sumber Foto: http://galeryanakteknik.blogspot.com/ |