Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 814
Kemarin : 25.133
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Uma Mbatangu

Uma Mbatangu, rumah khas masyarakat Sumba.

Uma Mbatangu adalah sebutan untuk rumah khas masyarakat Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah ini dahulu sebetulnya merupakan tempat tinggal raja atau bangsawan. Uma Mbatangu atau rumah bermenara umumnya dibangun dengan tiang utama dari pohon aren, dilapisi dinding yang terbuat dari bambu, dengan atap dari jerami. Rumah ini mirip dengan rumah joglo di Jawa, tetapi bedanya Uma Mbatangu dibangun dengan bentuk rumah panggung, sehingga memiliki kolong. Untuk rumah masyarakat biasa, biasanya disebut Uma Kamudungu (rumah tidak bermenara) yang lebih mirip rumah dengan bentuk limas. Bentuk atap menyerupai menara pada Uma Mbatangu dibuat berdasarkan kosmologi masyarakat Sumba yang membagi bagian-bagian rumah berdasarkan kepercayaan terhadap arwah leluhur (marapu) (Sri Murni, 2007:6; M. Junus Melalatoa, 1995:794).

Leluhur masyarakat Sumba diyakini berasal dari langit. Mereka turun ke bumi melalui Malaka kemudian berlayar hingga mendarat di Tanjung Sasar (Sumba) (Frederiek Djara Wellem, 2001: 16). Para leluhur ini sangat dihormati, sehingga melahirkan pengultusan terhadap arwah nenek moyang yang dalam bahasa lokal disebut marapu. Keberadaan marapu bagi masyarakat Sumba sangat penting, karena ia berperan sebagai perantara untuk memuja Yang Maha Pencipta atau ilah tertinggi. Tuhan sendiri bagi masyarakat Sumba dipersepsi sebagai dzat yang sangat jauh keberadaannya, sehingga sulit dijangkau oleh dunia manusia. Oleh sebab itu, posisi marapu sangat penting untuk menghubungkan dunia manusia di bumi dan dunia roh di atas langit. Di samping itu, marapu telah mewakili Tuhan dalam tugas-tugas menolong atau menghukum manusia (Oe. H. Kapita, 1976:14; Wellem, 2004:41-42; dan Murni, 2007:5).

Manifestasi kepercayaan terhadap marapu mewujud ke dalam berbagai kebudayaan Sumba, salah satunya terdapat pada kosmologi tentang rumah. Uma Mbatangu adalah contoh penerapan kosmologi pembagian ruang tersebut, di mana benda-benda keramat yang diyakini mewakili keberadaan marapu diletakkan di bagian menara atau loteng rumah. Benda-benda itu terdiri dari tombak, benda-benda dari emas, gong, gading, dan manik-manik yang disimpan di dalam peti. Benda-benda ini disimpan secara khusus dan dilarang diperlakukan sembarangan, oleh sebab itu diletakkan di bagian loteng rumah. Sedangkan pada bagian kedua (tengah) merupakan tempat tinggal manusia, dan bagian bawah (kolong rumah) dijadikan tempat hewan (Murni, 2007:6; Melalatoa, 1995:794).

Dalam istilah Sumba, bagian-bagian rumah tersebut dinamai sebagai berikut: (1) Uma dana, yaitu bagian loteng rumah untuk menyimpan benda-benda keramat; (2) Bei uma, adalah induk rumah atau tempat tinggal penghuninya; serta (3) Kali kambunga, ialah kolong rumah yang digunakan sebagai kandang babi dan kandang kuda (Kapita, 1976:344-345).

(Lukman Solihin/ensi/16/07-09)

Daftar Bacaan:

  • Kapita, Oe. H., 1976. Sumba di Dalam jangkauan Jaman. Waingapu: Panitia Penerbit Naskah-naskah Kebudayaan Daerah Sumba, dewan Penata Layanan Gereja Kristen Sumba, Waingapu.
  • Murni, Sri, 2007. “Malaysia-Indonesia dalam Folklor Sumba.” Makalah pada “Persidangan 50 Tahun Merdeka : Hubungan malaysia Indonesia, 17-21 Juli 2007 di Universiti Malaysia. Makalah diunduh tanggal 26 Juni 2009 dari: http://ccm.um.edu.my/
  • Melalatoa, M. Junus, 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, Jilid L—Z. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hlm. 789-795.
  • Wellem, Frederiek Djara, 2001. Injil dan Marapu: Suatu Studi Historis-Teologis Perjumpaan Injil dengan Masyarakat Sumba pada Periode 1876-1900. Jakarta: BKP Gunung Mulia.

Kredit Foto: http://www.pbase.com/