Kamis, 7 Mei 2026   |   Jum'ah, 20 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 319
Hari ini : 10.889
Kemarin : 40.787
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Karera

Sosok Orang Karera

Karera adalah kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau Sumba, tepatnya Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang sehari-hari menggunakan bahasa Manggaraikuna ini tinggal di lereng-lereng bukit yang gersang yang banyak ditumbuhi alang-alang. Perkampungan yang ditinggali masyarakat Karera ini biasanya memiliki lapangan terbuka yang sering digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara-upacara adat. Mereka juga memiliki rumah adat yang di depannya terdapat patung-patung warisan kebudayaan megalitikum. Bentuk permukiman penduduknya menyerupai pusaran yang mengitari rumah adat tersebut (Ardiana Ahmad, 2008, dalam http://sumbaisland.com/).

Kebanyakan masyarakat Karera bermata pencaharian sebagai petani. Tanaman utama yang dihasilkan dari kegiatan bercocok tanam adalah jagung dan padi yang juga menjadi makanan pokok mereka. Selain itu, mereka juga berburu babi hutan dan sebagian berternak babi, kuda, dan kerbau. Dua hewan terakhir tidak selalu memiliki nilai ekonomis, karena biasanya keduanya digunakan sebagai mas kawin dan sarana transportasi.

M. Junus Melalatoa mencatat bahwa masyarakat Karera menganut sistem patrilineal dalam kekerabatan mereka. Mereka tergabung dalam klan patrilineal. Setiap klan dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut dengan Kabisu. Ia dipilih secara turun temurun di samping harus juga memiliki sifat jujur dan disegani oleh anggota kelompoknya. Kepala adat ini menangani hal-hal yang berkaitan dengan adat, menyelesaikan sengketa adat, perkawinan, dan lain-lain. Masyarakat Karera mengenal tiga lapisan sosial, yaitu (1) lapisan bangsawan (umbu) dan keturunannya, sebagai lapisan paling atas; (2) lapisan merdeka (kabinu) yang terdiri dari orang kebanyakan yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri; dan (3) lapisan hamba (ata) adalah orang yang berbakti kepada golongan bangsawan di mana segala kebutuhannya ditanggung oleh majikannya. Golongan ini berasal dari orang-orang yang tidak mampu membayar hutang, kalah perang, atau orang yang dijatuhi hukuman sebagai hamba (Melalatoa, 1995:365). Namun, seiring perkembangan zaman, golongan yang terakhir ini nyaris sudah tidak ada lagi dalam masyarakat karera karena kondisi yang menyebabkannya sudah jarang dijumpai lagi.

Masyarakat Karera memraktekkan sistem religi warisan nenek moyang mereka (marapu) yang berdiam di alam roh yang mereka sebut sebagai tanatara. Roh-roh itu memiliki kekuatan yang dapat menguntungkan dan mencelakakan manusia yang masih hidup. Itulah sebabnya masyarakat Karera selalu menghormati nenek moyang mereka dengan melakukan upacara-upacara adat agar roh-roh nenek moyang dapat membantu menyuburkan tanaman, mendatangkan panen dan kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya, para roh nenek moyang akan mendatangkan bencana jika manusia yang masih hidup lalai melaksanakan upacara-upacara adat. Masyarakat Karera juga mengenak sarangi, roh nenek moyang yang belum berhasil sampai di tanatara. Mereka inilah yang sering menggangu manusia dengan mendatangkan penyakit. Agar hantu ini tidak mengganggu, masyarakat Karera membuat patung menyerupai manusia yang di depannya disediakan sesajian yang menyerupai buah-buahan dan makanan. Pemujaan semacam ini dilaksanakan setahun sekali setelah panen dengan memotong kerbau atau babi (Ibid.:365).

(Afthonul Afif/ensi/13/07-2009)

Sumber Bacaan:

Ardiana Ahmad, 2008, “Menengok Kuburan Kerajaan Karera Dari Mamuli Cantik Hingga Batu Kubur Unik”, didownload dari http://sumbaisland.com/menengok-kuburan-kerajaan-karera-dari-mamuli-cantik-hingga-batu-kubur-unik/ tanggal 27 Juli 2009.

Melalatoa, M.J. 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia: Jilid A-K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sumber Foto: http://sumbaisland.com/