|
Arak-Arakan Membawa Bangunan Tabot Setiap tanggal 1—10 Muharam, masyarakat Syi`ah di Bengkulu menyelenggarakan sebuah upacara yang disebut tabot. Upacara ini diselenggarakan sebagai ekspresi keprihatinan dan duka cita para penganut Syi`ah di Bengkulu atas wafatnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW dari Fatimah Az-Zahra. Husein terbunuh dalam peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Zaid yang terjadi di padang Karbala Iraq pada 10 Muharam 61 Hijriyah, atau bertepatan dengan 681 M (Bambang Indarto, 2006). Secara etimologis, tabot berarti “kotak kayu” atau “peti”, sebuah kosakata yang berasal dari bahasa Arab, tabut. Inti dari upacara Tabot adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi`ah dan kaumnya dalam mengumpulkan potongan-potongan tubuh Husein yang kemudian dimakamkan di Padang Karbala. Istilah tabot sendiri secara genealogis sebenarnya tidak merujuk pada tradisi yang diselenggarakan oleh umat Islam (ibid.). Dalam al-Quran, tabot diasosiasikan dengan sebuah peti yang berisi kitab Taurat. Bani Israil masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapat malapetaka bila benda itu hilang (Oktaviany, 2008). Prosesi Upacara Tabot dilaksanakan dengan cara mengarak sebuah bangunan yang menyerupai menara bertingkat. Bentuk bangunan Tabot bertingkat-tingkat seperti menara masjid dengan lebar lantai dasar 1,5-3 meter, dengan ketinggian 5-12 meter. Besar kecilnya bentuk bangunan Tabot tergantung dari kemampuan dan keinginan dari para pembuat Tabot itu sendiri. Bangunan bertingkat yang dihiasi tersebut dibuat dari kerangka kayu, bambu, dan rumbia yang keseluruhan bangunan itu dilapisi kertas berwarna-warni dengan berbagai motif ornamentasi serta ditambah dengan hiasan berbagai bentuk bunga yang dibuat dari kertas (ibid.). Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat bahwa tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi`ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborough (1718—1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi`ah (Ibid.). Para pekerja yang dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin ini merasa cocok dengan kehidupan di Bengkulu. Mereka memutuskan tinggal dan mendirikan permukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenal dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi ini kemudian diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli dan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai (Salehudin, 2008). Dalam penelitian Indarto (2006) tradisi Tabot telah mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh, dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda. Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi`ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi`ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah (baca: Bengkulu) setempat (Indarto, 2006). Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya juga menjadi penyebab munculnya perberbedaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabot. Di Bengkulu, misalnya, Tabotnya berjumlah 17 yang menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabot; sedangakan di Pariaman hanya terdiri dari 2 macam Tabot (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabot (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda. Pada awalnya Tabot di Bengkulu di buang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabot di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenal dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin (Salehudin, 2008). Belakangan ini, banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat terhadap pelaksanaan upacara Tabot. Satu hal yang paling mendasar dari semua kritikan tersebut adalah berubahnya fungsi upacara Tabot dari ritual bernuansa keagamaan menjadi sekedar festival kebudayaan belaka. Hal ini nampaknya disebabkan oleh kenyataan bahwa yang melaksanakan upacara Tabot adalah orang-orang non-Syi`ah. Hilangnya nilai-nilai sakral pada upacara Tabot semakin diperparah dengan munculnya apa yang kemudian dikenal sebagai Tabot pembangunan (Tabot yang keberadaannya karena deprogram oleh pemerintah dan berjumlah banyak) (http://wapedia.mobi/id). (Afthonul Afif/ensi/12/07-2009) Daftar Bacaan Indarto, Bambang. 2006. “Ritual Budaya Tabot Sebagai Mdia Penyiaran Dakwah Islam di Bengkulu”. Skripsi (tidak dipublikasikan), Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud, “Upacara Tabot: Upacara Tradisional Daerah Bengkulu di Kotamadya Bengkulu”, 1991/1992. Ocktaviany, Tuty. 2008. “Tabot, Praktik Syiah Kultural di Indonesia”, didownload dari http://lifestyle.okezone.com/ tanggal 27 Juli 2009. Salehudin, Ahmad. 2008. “Upacara Tabot”, didownload dari http://melayuonline.com/ tanggal 27 Juli 2009. http://wapedia.mobi/id/Tabot Sumber Foto: http://bengkulumultimedia.wordpress.com/ |