Sabtu, 18 April 2026   |   Ahad, 1 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.220
Hari ini : 21.386
Kemarin : 143.251
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Famalakhisisi

Famalakhisisi adalah perjamuan terakhir bagi orang tua yang akan menjelang ajalnya. Ritual ini biasanya dilakukan untuk orang tua yang sudah sakit-sakitan dan sudah ada tanda-tanda akan meninggal.

Menurut Koentjaraningrat (1976:47), Famalakhisi diselenggarakan untuk seorang ayah yang sudah menjelang ajal oleh para putranya, setelah sang ayah memberkati dan memberi doa restu kepada mereka. Pada kesempatan ini sang ayah dihidangkan daging babi. Upacara ini harus dihadiri oleh putra-putranya terutama putra sulung, karena tanpa berkah doa restu ayahnya, kehidupan anak tersebut akan mengalami banyak rintangan.

Peranan anak laki-laki khususnya anak sulung sangat penting. Anak sulung dipandang sebagi pengganti ayah dan menjadi pemimpin bagi saudara-saudaranya yang lain. Meskipun peranan anak perempuan tidak begitu ditekankan, tapi mereka wajib datang dan membayar utang mereka sama seperti saudaranya yang laki-laki.

Di saat-saat terakhir seperti ini, semua anak dan cucunya datang mengunjunginya. Kedatangan mereka pertama-tama adalah untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang tua. Orangtua dalam perspektif masyarakat Nias adalah Tuhan di dunia. Sebagai Tuhan yang tampak, mereka harus dihormati dan disembah.

Tujuan utama diselenggrakan Famalakhisi, sebagiamana dijelaskan Koentjaraningrat (1976:47-48) adalah untuk mendapat berkat (howu-howu) dari orangtua yang hendak meninggal. Jika ritual ini tidak dihadiri (dengan sengaja) oleh salah seorang anaknya, maka dia akan menjadi anak yang durhaka (tefuyu) dan akan hidup dalam ketidakcukupan atau tidak mendapat rejeki dalam hidupnya (ha sifangarö-ngarö ba kaudinga). Maka momen ini adalah peristiwa yang sangat berharga. Hal itu menandakan bahwa mereka adalah anak yang selalu tunduk dan turut pada orang tua (ono salulu-lulu khö jatua nia). Karena ketaatan pada orang tua tersebut, mereka akan mendapat berkat darinya dan hidupnya akan lebih baik.

Dalam acara Famalakhisi ini, anak-anak dan cucu-cucu dari orang tua yang hendak meninggal akan memestakannya dan makan bersama sebagai tanda penhormatan terhadap orang tua atau kakek mereka. Jika ia ditakdirkan meninggal, maka ia akan pergi dalam keadaan kenyang dan bahagia karena dikelilingi anak-anaknya. Ketika seseorang sudah sakit parah, semua anggota keluarga diwajibkan untuk kumpul untuk memberi makan (mame`e õ) si sakit dengan menyembelih anak babi. Setelah berdoa, lalu si sakit diberi makan oleh anggota keluarga. Dimulai dari yang tertua sampai yang paling muda. Hal ini menyiratkan pesan bahwa kita masih berharap Kamu (si sakit) masih tetap kuat dan bertahan, namun seandainya Kamu harus pergi, kami tidak akan menyesal karena Kamu pergi dalam keadaan kenyang. Kami sudah melayani dengan baik sehingga seandainya Kamu pergi meninggalkan kami, Kamu tidak perlu mencari kami atau mengganggu kami lagi (Hammerle, 2001:27). Begitu prinsip dasar yang melatarbelakangi diselenggarakannya upacara Famalakhisi.

(Afthonul Afif/ensi/15/08-2009)

Sumber bacaan:

Hammerle, J., 2001, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi, Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Koentjaraningrat, 1976, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan.