Senin, 6 Juli 2026   |   Tsulasa', 20 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 2.696
Hari ini : 34.062
Kemarin : 32.542
Minggu kemarin : 251.743
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Pĕlĕbĕgu

Menurut Koentjaraningrat (1976:50), Pĕlĕbĕgu adalah nama agama asli masyarakat Nias yang diberikan oleh pendatang untuk menyebut aktivitas peribadatan yang menyembah arwah-arwah nenek moyang. Namun, nama yang digunakan oleh masyarakat Nias sendiri adalah molohĕ adu (penyembah adu atau patung miniatur leluhur). Para leluhur itu perlu dikenang, terutama atas jasa-jasa mereka (nama besar dan kemuliaan). Kepercayaan ini termanisfestasi dalam bentuk adu. Orang Nias percaya bahwa patung-patung (adu) itu akan ditempati oleh roh-roh leluhur mereka, karena itu harus dirawat dengan baik.

Menurut kepercayaan umat Pĕlĕbĕgu, tiap orang mempunyai dua macam tubuh, yaitu tubuh kasar (boto) dan tubuh halus. Tubuh halus terbagi menjadi dua, yaitu noso (nafas) dan lumõmõ-lumõ (bayangan). Jika orang sudah meninggal, maka boto-nya akan kembali menjadi debu, dan noso-nya kembali pada Lowalangi (Allah). Sedangkan lumõ-lumõ-nya berubah menjadi bekhu (roh gentayangan) (Ibid, :50). Masyarakat Nias memercayai bahwa selama belum ada upacara kematian, bekhu ini akan tetap berada di sekitar jenazahnya atau kuburannya. Agar bisa kembali ke tetehõli ana`a (dunia roh), maka setiap roh harus menyeberangi suatu jembatan antara dunia orang hidup dan dunia orang mati. Dalam perjalanan itu, jembatan yang dilewati semakin mengecil bahkan sampai sekecil rambut bagi roh-roh yang selama hidupnya banyak melakukan kejahatan. Akhirnya ia akan jatuh dan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Akan tetapi, bila selama hidupnya ia baik, jembatannya tidak menyempit sehingga perjalanan mulus dan sampai ke tetehõli ana`a.

Dalam kepercayaan Pĕlĕbĕgu ini, roh yang sudah sampai di alam tetehõli ana`a tersebut akan melanjutkan kembali hidupnya layaknya kehidupan di dunia ini. Misalnya, jika semasa hidup dia adalah seorang raja, maka di alam tetehõli ana`a dia tetap akan menjadi raja. Dunia tetehõli ana`a ini keadaanya terbalik. Apa yang baik di dunia ini, di sana akan jadi buruk. Maka ada kebiasaan orang-orang Nias bila menitipkan baju dan barang-barang lainnya untuk orang yang sudah meninggal, maka semua barang itu dirusak terlebih dahulu. Pebedaan antara dunia sana dengan dunia sini berlaku untuk semua hal. Misalnya jika di sini siang maka di sana malam. Demikian juga penggunaan kalimat dalam berbahasa, semua menjadi terbalik (Ibid, :51).

(Afthonul Afif/ensi/14/08-2009)

Sumber Bacaan:

Koentjaraningrat, 1976, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan.