|
Arak-arakan upacara Karia Masyarakat di Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara punya tradisi tersendiri dalam menanamkan nilai-nilai etika moral dan spiritual terhadap anak laki-laki dan perempuan yang mulai beranjak remaja. Melalui tradisi Karia setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan melepas masa usia anak-anaknya dan akan memasuki usia remaja dikumpulkan bersama dan selanjutnya diantar keliling kampung oleh para pemangku adat dan masyarakat menuju ke sebuah tempat penobatan. Selain memiliki makna spiritual, tradisi ini juga telah menjadi ritual tiga tahunan yang mempertemukan seluruh masyarakat di daerah itu (http://greatbuton.blogspot.com/). Dalam tradisi yang digelar setiap tiga tahun ini, seluruh pemangku adat di Kecamatan Kaledupa mulai dari wilayah barat hingga wilayah timur datang dan berkumpul bersama untuk merayakan tradisi yang dianggap sebagai hari bergembira dan bahagia ini. Tarian tamburu menjadi pembuka tradisi ini. Para pemangku adat yang datang dari berbagai kampung memainkan tarian tamburu yang berbeda pula. Pemangku adat dari wilayah timur memainkan tarian tamburu liumbosa sedangkan dari wilayah barat memainkan tarian tamburu liukosa. Kedua tarian ini pada hakekatnya memiliki makna yang sama sebagai gambaran suka duka para anak-anak yang mengikuti tradisi Karia ini dan sebentar lagi akan memasuki masa usia remaja (http://lagulamaku.blogspot.com/). Setelah seluruhnya berkumpul, para pemangku adat selanjutnya memanjatkan doa di dalam masjid yang diikuti oleh para orang tua dan anak-anak yang ikut dalam tradisi ini. Sesuai adat yang diyakini oleh masyarakat Kaledupa, setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan menjalani tradisi Karia ini. Biasanya tradisi Karia ini berlangsung dua hari berturut-turut. Hari pertama untuk anak laki-laki dan hari berikutnya untuk anak perempuan. Tradisi ini secara filosofis bertujuan untuk membekali anak laki-laki dan perempuan dengan nilai-nilai etika moral dan spiritual agar kelak hidupnya dapat bermanfaat bagi masyarakatnya (http://midwancoy.blogspot.com/). Sebelum prosesi Karia ini digelar, terlebih dahulu diadakan selamatan dengan mengundang sanak keluarga dan handai taulan baik yang berada di wilayah Wakatobi maupun yang berada di luar kota. Setelah semua prosesi dilakukan, seluruh anak-anak baik laki-laki maupun perempuan kemudian diantar oleh para pemangku adat dan para orang tua anak diikuti seluruh masyarakat dengan berjalan kaki sepanjang lima kilometer di perkampungan menuju tempat penobatan terakhir. Selain menyuarakan yel-yel, para pemuka adat yang berada di barisan paling depan juga menampilkan atraksi tarian balumpa. Tak hanya itu para pemangku adat juga menggelar takbir di sepanjang jalan yang diikuti dengan pembagian uang koin bagi masyarakat yang tidak ikut dalam barisan adat ini. Selain untuk mempertebal nilai spiritual sang anak setelah memasuki usia remaja nanti, kegiatan ini juga untuk mendoakan sang anak agar terhindar dari bala dan malapetaka. Tingginya animo masyarakat untuk merayakan tradisi tiga tahunan ini membuat suasana di sepanjang jalan Kecamatan Kaledupa disesaki oleh ribuan manusia. Bagi masyarakat Kaledupa, suasana seperti inilah yang dinantikan karena semua masyarakat yang berasal dari seluruh penjuru Wakatobi berkumpul bersama dan merayakan tradisi berbahagia ini. Masyarakat rela berdesak-desakan saat memasuki tempat penobatan terakhir. Sebagai simbol prosesi penobatan, seorang anak yang telah beranjak akil balik didudukkan di atas sebuah kursi sambil diiringi dengan bacaan ayat-ayat suci Al qur`an dari para pemangku adat (http://midwancoy.blogspot.com/). (Afthonul Afif/ensi/19/08-2009) Sumber bacaan: Sumber foto: http://lagulamaku.blogspot.com/ |