Selasa, 25 Agustus 2026   |   Arbia', 11 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.478
Kemarin : 29.971
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Tumpang Negeri

Hingga bulan berganti tahun, Sungai Landak ini menjadi urat nadi kehidupan warga Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Tapi, sesungguhnya terselip kekhawatiran saat terdengar kabar banjir bandang menerjang di beberapa daerah. Mereka khawatir bencana alam itu akan terjadi di daerah mereka. Di saat kekhawatiran itulah, keturunan Kerajaan Landak, sebuah kerajaan melayu bekas jajahan Majapahit di kawasan Ngabang, membangkitkan ritual Tumpang Negeri. Sebuah ritual warisan terakhir Kerajaan Landak untuk memohon perlindungan Sang Pencipta agar terhindar dari marabahaya dan bencana (Pramundito dan Wicaksono, 2009).

Kerajaan Landak memiliki catatan sejarah yang panjang. Landak dipakai sebagai nama kerajaan karena banjir yang sering melanda Kampung Landak. Kerajaan Melayu yang dibangun Abad ke-14 oleh Raja Pulang Pali ini nyaris tergerus lebih dari 60 tahun pascapemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. Pasa abad ke-15, sang raja yang menganut ajaran Hindu berhubungan dengan saudagar Malaka yang memberi napas Islam. Kala itu, ajaran Islam mulai dianut Raja Abdul Kahar atau Ismahayana. Di era itulah, Tradisi Tumpang Negeri atau ritual penolak bala mulai dilakukan (Ibid.). 

Upacara Tumpang Negeri, harus didahului sedekah kampung. Selama 3 hari sebelum upacara diselenggarakan, masyarakat diberi kegembiran dengan berbagai festival kesenian, olah raga dan hiburan lainnya. Ada lomba sampan, pencak silat, pertunjukkan hadrah dan zapin, festival makanan tradisional, dan lainnya.  Sebelum mengantar tumpang, masyarakat melakukan ziarah ke makam ke Raja Abdul Kahar atau Ismahayana, biasa disebut juga Iswara Mahayana. Yang merupakan pendiri kerajaan Landak. Makam itu terletak di desa Munggu. Acara diikuti kerabat kerajaan, pemuka agama dan masyarakat (http://wisatalandak.blogspot.com).

Upacara Tumpang Negeri dipenuhi berbagai persyaratan dan spiritualitas. Bila syarat tidak dilaksanakan, dipercaya dapat menimbulkan akibat tak diinginkan. Salah satu contoh, ayam yang digunakan untuk upacara, harus ayam kampung. Yang merupakan perlambang dan mempunyai sifat, selalu berusaha mencari makan sepanjang hari. Dan itu dilakukan semenjak subuh hari.

Begitupun manusia dalam menjalani hidupnya. Harus berusaha mandiri. Tidak perlu menunggu disantuni, atau mengharap bantuan orang lain. Pulut rasul merupakan simbol kerekatan sosial. Bahwa dalam masyarakat, harusnya bersatu seperti pulut. Kenyal dan tidak kaku. Tapi, ia terekat dalam satu kerekatan. Kue tradisional, merupakan wujud dari kesejahteraan.

Prosesi Tumpang Negeri diawali dengan ritual Buang-Buang. Dalam prosesi ini, Pangeran Landak ke-39 dibantu seorang pawang menghaturkan sesajian nasi pulut atau nasi kuning untuk mencegah pengaruh buruk ritual Tumpang Negeri. Ritual Buang-Buang sendiri menyimpan mitos dan legenda Tanah Landak. Konon, ini dilakukan sebagai lambang penghormatan dan permohonan kepada leluhur mereka yang dibuang ke sungai. Sebagian warga mempercayai mitos itu dengan membuang tujuh macam makanan. Sebuah simbol yang dipercaya dapat mewakili kesuburan tanah mereka yang dialiri Sungai Landak (Salehudin, 2009).

Pelaksanaan Tumpang Negeri, biasanya dilaksanakan pada akhir atau awal tahun, berdasarkan situasi alam. Biasanya melihat tanda hujan. Itu menjadi syarat untuk penentuan acara. Kalau hujannya banyak atau sedikit, ada penentuannya. Hal itu merupakan upaya menyiasati tanda-tanda alam. Sifat acara ini tolak balak. Bila hujan terlalu banyak, maka dengan pelaksanaan Tumpang Negeri, tidak akan terjadi banjir. Tapi, kalau tidak turun hujan, diharapkan bisa turun (Ibid.).

Beberapa persembahan juga disediakan dengan maksud untuk meminta keselamatan bagi seluruh umat. Wujudnya disimbolkan dengan sebuah perahu rakit. Dalam kepercayaan mereka, roh-roh jahat yang singgah perlu diantarkan pergi agar tak menimbulkan malapetaka. Ini tak lebih dari sebuah permohonan halus agar roh gaib tak murka. Perahu nantinya dibekali makanan seperti layaknya perahu berpenumpang yang akan bepergian jauh. Sesajian di atas perahu sebagai bekal bagi roh yang diusir pergi. Perahu yang didesain khusus ini menjadi penutup dari ritual Tumpang Negeri. Esok, perahu dari kayu meranti akan dilarung ke arah muara Sungai Landak (Pramundito dan Wicaksono, 2009).

Saat hari yang dinantikan tiba, sejak pagi para abdi Keraton Landak disibukkan dengan persiapan ritual Tumpang Negeri. Para abdi dalem rata-rata berusia lanjut dan bekerja sukarela demi kelangsungan tradisi leluhur. Mereka menyiapkan tumpang atau tempat sesaji dengan untaian janur kuning yang dipercaya bisa mengabulkan doa mereka. Di tempat lain, kaum wanita tengah mempersiapkan sesajian khusus yang hanya bisa dikerjakan para wanita yang sudah menopause. Sebutan bagi mereka adalah wanita suci (http://wisatalandak.blogspot.com)..

Empat puluh tumpang dilarung ke segala penjuru negeri. Satu diantaranya diberi nama Tumpang Agung. Semua tumpang diantar serentak. Menuju pertemuan muara sungai, persimpangan jalan, rumah tua bersejarah, dan ke 10 kecamatan di Kabupaten Landak. Prosesi mengantar tumpang dilakukan antara pukul 15.00-17.00. Khusus untuk Tumpang Agung, dilarung dari muara keraton, menuju hilir sungai Landak. Setiap tumpang terdiri dari seekor ayam kampung jantan yang telah dipanggang, anyaman daun kelapa muda berbentuk keranjang, seperangkat jajanan pasar, nasi pulut aneka warna, pulut rasul, setanggi wangi dan dupa menyan (Pramundito dan Wicaksono, 2009).

Beberapa sesajian dibuat seperti nasi pulut yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Mereka membuat lima macam penganan, laksana pandangan lima rukun dalam agama Islam. Adapun patung yang terbuat dari tepung adalah wujud laki-laki dan perempuan yang kelak ikut dilarung. Persediaan larung mirip persiapan awak kapal yang akan berlayar. Segala macam bumbu dapur dan beras disiapkan sebagai bekal bagi roh gaib yang diyakini akan ikut melarung. Sore harinya, perahu rakit diusung dan diarak ke keraton untuk didoakan oleh keturunan terakhir Kerajaan Landak, yakni Pangeran Ratu Gusti Suriansyah yang dianggap sebagai wali bagi warganya (Salehudin, 2009).

Perahu rakit sarat makanan itu akhirnya dilarung di muara Sungai Landak dan Munggu. Sungai pertemuan di antara pusat bekas Kerajaan Landak di zaman dulu. Perjalanan perahu seolah menyiratkan harapan masyarakat Landak agar banjir si sungai landak tidak melanda lagi. Sebuah harapan yang terus digulirkan agar terhindar dari segala bencana di masa-masa mendatang.

(Afthonul Afif/ensi/32/09-2009)

Sumber Bacaan:

Ahmad Salehudin, 2009, “Upacara Tumpang Negeri: Ritual Tolak Bala Raja Ismahayana Landak”, diunduh dari http://melayuonline.com/ pada tanggal 2 September 2009.

Hardjuno Pramundito dan Bondan Wicaksono, “Tumpang Negeri, Penolak Bala Raja Landak” diunduh dari http://berita.liputan6.com/  pada tanggal 2 September 2009.

Muhlis Suhaeri,  ”Tumpang Negeri Simbol Interaksi Manusia dengan Alam,” dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

“Tumpang Negeri Potensi Wisata Landak”, http://wisatalandak.blogspot.com/.

Sumber Foto: http://wisatalandak.blogspot.com/