Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 829
Hari ini : 12.536
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Dayak

Nama penduduk asli yang mendiami pulau Kalimantan. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah “Dayak”. Menurut Lindblad, kata “Dayak” berasal dari sebuah kata “daya” dari Bahasa Kenyah (sebuah sub Suku Bangsa Dayak), yang berarti hulu (sungai) atau pedalaman. Victor T. King dalam Maunati (2004), menduga bahwa istilah “Dayak” mungkin juga berasal dari kata “aja”, sebuah kata dari Bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Pada perkembangan kemudian, istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut “orang-orang asli non-muslim, non-Melayu yang tinggal di pedalaman pulau itu (Kalimantan)”.

Menurut Roedy Haryo Widjono (1998), dilihat dari asal-usul, Suku Bangsa Dayak berasal dari daratan Asia yang bermigrasi secara besar-besaran sekitar tahun 3.000-1.500 SM. Para imigran tersebut berasal dari Propinsi Yunan, Cina Selatan. Mereka mengembara ke Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu dan akhirnya di Borneo (Kalimantan), Indonesia. Sebagian imigran lain memilih “pintu masuk” melalui Hainan, Taiwan, dan Filipina. Pada “gelombang pertama” imigran yang masuk ke Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, atau lazim disebut Proto Melayu. Sedang “gelombang kedua” disebut Deutro Melayu. Kelompok ini menghuni wilayah pantai Kalimantan dan kini dikenal sebagai Suku Melayu.

Ketika sampai di Kalimantan, awalnya imigran “gelombang pertama” mendiami daerah pantai. Tapi kedatangan “gelombang kedua” membuat mereka terdesak sampai ke pedalaman sehingga menghuni daerah di sekitar hulu sungai. Dari sinilah timbul ungkapan untuk menyebut orang-orang yang tinggal di hulu sungai. Mereka mendapat sebutan “orang hulu” yang kemudian disebut “Dayak”.

(Tunggul Tauladan/ensi/01/01-2010)

Daftar Bacaan:

  • Musni Umberan et.al., 1993. Sejarah kebudayaan Kalimantan, Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  • Roedy Haryo Widjono, 1998. Masyarakat Dayak menatap hari esok. Jakarta: Grasindo.
  • Yekti Maunati, 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi dan politik kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.