Jumat, 22 Mei 2026   |   Sabtu, 5 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 2.070
Hari ini : 25.452
Kemarin : 24.876
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Hikayat Prang Sabi

Merupakan media dakwah sekaligus doktrin bagi orang-orang Aceh untuk mengangkat senjata melawan Belanda dalam Perang Aceh. Sebagian besar isi dalam Hikayat Prang Sabi berintikan ajaran-ajaran di dalam Al-Qur‘an, sehingga dapat dikatakan bahwa isi dari karya sastra ini merupakan ayat-ayat dari Al-Qur‘an yang dipuisikan.

Pengarang Hikayat Prang Sabi adalah Teungku Tjik Pante Kulu, seorang ulama sekaligus penyair perang yang dilahirkan pada tahun 1836 di desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie. Beliau menulis Hikayat Prang Sabi  kira-kira pada akhir tahun 1881, saat berada di atas kapal yang mengangkutnya dari Mekkah menuju Aceh, tepatnya ketika berada dalam perjalanan antara Jeddah-Penang.

Hikayat Prang Sabi berbentuk puisi yang terdiri dari empat cerita (kisah), yaitu: Kisah Ainul Mardliyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Sa‘id Salmy, dan Kisah Muhammad Amin (Budak Mati Hdup Kembali). Dalam jihad yang telah diserukan oleh para ulama di Aceh sebagai jalan keluar untuk melawan Belanda, kisah-kisah dalam Hikayat Prang Sabi, terbukti sanggup menjadi jiwa Perang Aceh selama puluhan tahun.    

Karena implikasi yang kuat untuk mengobarkan Perang Aceh, maka Hikayat Prang Sabi banyak diteliti. Misalnya seorang ahli bahasa dan sastra Aceh, H.T. Damste, yang pernah menjadi controleur di Idi, Aceh Timur, telah membahas Hikayat Prang Sabi dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda dan dibukukan ke dalam Bijdragen Tot de Taal Land en Volkenkunde van Nederlanch Indie Deel 84 (diterbitkan di Belanda oleh Het Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde van Nederlandch Indie). Atas dasar penelitian yang telah dilakukan oleh Damste, maka Hikayat Prang Sabi telah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para mahasiswa Jurusan Sastra Aceh di universitas-universitas di Belanda.

(Tunggul Tauladan/ensi/01/01-2010)

Daftar Bacaan:

  • Hasjmy, 1977. Apa sebab rakyat Aceh sanggup berperang puluhan tahun melawan agresi Belanda. Jakarta: Bulan Bintang.