|
Nyanyi Panjang adalah suatu cerita yang dinyanyikan atau dilagukan dengan penyampaian yang memakan waktu yang panjang atau lama, biasanya lebih dari satu malam untuk satu cerita. Cerita-cerita tersebut disampaikan oleh tukang cerita (kadangkala dipanggil dengan sebutan Tukang Nyanyi Panjang) dengan menggunakan lagu dan irama tertentu yang sesuai dengan judul cerita tersebut. Nyanyi Panjang merupakan cerita tokoh atau wira yang mempunyai kekuatan supranatural yang didapatkan melalui berbagai cara Nyanyi Panjang merupakan sastra lisan yang bercorak naratif (cerita) dan dipertunjukkan kepada khalayak ramai oleh Tukang Nyanyi Panjang orang Petalangan dalam bentuk nyanyi atau dilagukan. Istilah “Nyanyi Panjang” berasal dari, “Nyanyi” yang bermakna bentuk pertunjukan, dan “Panjang” yang bermakna waktu yang diperlukan untuk penyampaian. Cerita-cerita dalan Nyanyi Panjang dapat diklasifikasikan ke dalam Kelisanan Primer (Primary Orality). Maksudnya, cerita-cerita dalam Nyanyi Panjang merupakan hasil karya masyarakat Petalangan yang dituturkan dan diwariskan secara lisan. Sampai saat ini belum ada satu buku yang dijadikan sumber rujukan bagi masyarakat Petalangan jika mereka akan bercerita. Tradisi Nyanyi Panjang agak berbeda dengan budaya sastra lisan pada umumnya yang dijumpai di Alam Melayu, seperti pembacaan syair, nazam (dalam bahasa Arab berarti puisi yang digunakan untuk menyampaikan ajaran agama Islam), dan barzanji (doa pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada). Umumnya budaya sastra lisan di Alam Melayu mempunyai fondasi yang kuat berupa teks dasar yang dapat dikategorikan sebagai tradisi separuh lisan (Semi Primary Orality). (Tunggul Tauladan/ensi/01/01-2010) Daftar Bacaan: - Sudirman Shomary, 2004. Nyanyi Panjang orang Petalangan Kabupaten Pelalawan. Pekanbaru: UIR Press.
- Tenas Effendy, 1997. Bujang Tan Domang: Sastra lisan orang Petalangan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
|