|
Tombo dapat dipahami sebagai sejarah atas asal-usul Hutan Tanah Wilayat. Tombo juga mengandung tunjuk ajar, yaitu petuah dan nasehat yang berisi nilai-nilai kebudayaan masyarakat, rujukan hukum adat, dan falsafah yang diwariskan secara turun-temurun. Karena isinya tersebut, tombo menjadi sangat penting dan diwariskan secara turun-temurun lewat tradisi lisan (sastra lisan), yang antara lain dituturkan lewat Nyanyi Panjang. Pada umumnya tombo atau terombo suku terbagi menjadi dua. Bagian pertama mengisahkan tentang orang yang pertama kali membuka Hutan Tanah Wilayat yang kemudian menjadi Hutan Tanah Wilayat suku tersebut, atau dengan kata lain asal-usul suku itu sendiri, dituturkan dalam bentuk Nyanyi Panjang. Bagian kedua, dibawakan dalam bentuk cerita biasa (cerita biaso), yaitu tanpa irama yang kemudian berkembang menjadi jenis Nyanyi Panjang Biasa. (Tunggul Tauladan/ensi/01/01-2010) Daftar Bacaan: - Tenas Effendy, 1997. Bujang Tan Domang: Sastra lisan orang Petalangan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
|