Sabtu, 9 Mei 2026   |   Ahad, 22 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 729
Hari ini : 13.069
Kemarin : 31.987
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Uleebalang

Penyebutan uleebalang (atau hulubalang dalam bahasa Melayu) sebenarnya memiliki sejumlah penafsiran dalam sistem pemerintahan adat di Aceh, terutama di dalam sistem pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dan juga dalam kehidupan pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya secara umum.

Dalam konteks khusus, uleebalang adalah suatu jabatan administratif yang diberikan kepada orang-orang yang berasal dari golongan bangsawan di masyarakat Aceh untuk memimpin sebuah kenegerian atau nanggroe, yaitu wilayah setingkat kabupaten dalam struktur pemerintahan Indonesia sekarang. Uleebalang digelari dengan gelar Teuku untuk laki-laki atau Cut untuk perempuan. Akan tetapi, pada perkembangannya kemudian, uleebalang dimaknai secara lebih luas, yaitu kedudukan sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan di Aceh, baik pada masa sebelum maupun setelah kedatangan Islam.

Uleebalang rata-rata terdiri dari orang-orang yang bersifat terbuka dan kosmopolit. Strata pendidikan mereka yang tinggi dan pergaulan mereka yang luas membuat para uleebalang menjadi mudah bersosialisasi dan termasuk terbuka dalam menerima pengaruh dari luar. Pada masa kolonial Belanda, uleebalang menjadi pihak yang berada di garis depan dalam menjalin hubungan dengan orang-orang asing.

Peran yang dilakoni para uleebalang ini justru membuat citra mereka di beberapa kalangan, terutama kalangan ulama, menjadi buruk dan bahkan sering dituduh sebagai pengkhianat alias antek penjajah. Faktor lain yang tidak kalah menentukan adalah politik devide et impera atau siasat pecah-belah yang diterapkan Belanda selama penjajahan di Aceh. Kesepakatan atas suatu kontrak politik antara Belanda dengan pihak kerajaan memang seringkali melibatkan para uleebalang.

(Iswara N. Raditya/ensi/43/02-2010)

Sumber Bacaan:

  • A. Hasjmy. 1961. Ichtisar susunan dan sistem Keradjaan Atjeh di zaman Sultan Iskandar Muda. Banda Aceh: Tidak Diterbitkan.
  • Nur Agustiningsih. “Konflik ulama-uleebalang 1903-1946 dan pengaruhnya terhadap perubahan sosial di Aceh”, dalam Digital Library, Perpustakaan Digital Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Diunduh pada tanggal 26 Februari 2010 dari http://digilib.uns.ac.id.