Rabu, 15 April 2026   |   Khamis, 27 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 3.301
Kemarin : 25.162
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Po Se

H. Muhammad Said (1963) dalam tulisannya berjudul "Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia" yang terangkum dalam Risalah Seminar Sedjarah Masuknya Islam ke Indonesia menyimpulkan bahwa “Po Se” adalah istilah yang digunakan oleh para pedagang dari negeri Tiongkok (Cina) untuk menyebut wilayah Pasai (sekarang termasuk di wilayah administrarif Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam), tempat di mana Kerajaan Samudera Pasai berdiri. Menurut Said, istilah “Po Se” yang sangat sering digunakan pada pertengahan abad ke-8 Masehi, seperti yang terdapat dalam catatan perjalanan kaum pengelana dari Tiongkok, mirip sekali dengan penyebutan kata “Pase” atau “Pasai”.

Antara Kekaisaran Tiongkok dengan Kerajaan Samudera Pasai memang telah terjalin hubungan kerja sama (termasuk dalam bidang perdagangan dan ekonomi) serta hubungan diplomatik sejak masa-masa awal Kerajaan Samudera Pasai didirikan, yakni pada awal abad ke-13 Masehi. Muhammad Gade Ismail (1997) melalui bukunya yang berjudul Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 sampai Awal Abad ke 16 menegaskan hal ini dengan menuliskan data tentang pengalaman Ibnu Batutah, seorang musafir muslim yang berasal dari Maghribi, Maroko.

Pada tahun 1345 M, Ibnu Batutah mengunjungi negeri Pasai dan singgah selama 15 hari. Dalam catatan perjalanannya, Ibnu Batutah menceritakan bahwa ketika tiba di negeri Tiongkok, ia melihat kapal Sultan Pasai di negeri itu. Sumber-sumber dari Tiongkok sendiri banyak yang menyebutkan bahwa utusan dari Kerajaan Pasai sering berkunjung ke Tiongkok, salah satunya untuk menyerahkan upeti. Kerajaan Pasai, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Samudera Pasai, didirikan pada abad ke-13 M oleh Malik Al Salih (1267-1297 M) yang sekaligus menjadi pemimpin pertama salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Aceh ini.

Sumber Bacaan:

  • H. Mohammad Said, 1963. "Mentjari kepastian tentang daerah mula dan cara masuknya agama Islam ke Indonesia", dalam Risalah Seminar Sedjarah Masuknya Islam ke Indonesia. Medan: Panitia Seminar Sedjarah Masuknya Islam Ke Indonesia.
  • Muhammad Gade Ismail, 1997. Pasai dalam perjalanan sejarah: Abad ke-13 sampai awal abad ke 16. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.