Sabtu, 9 Mei 2026   |   Ahad, 22 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 750
Hari ini : 13.151
Kemarin : 31.987
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Badudus

Ritual Badudus merupakan ritual untuk upacara penobatan Sultan di Kesultanan Banjar, peralihan status gadis yang menikah (pengantin), dan hamil pertama (Badudus Tian Mandaring). Badudus bertujuan untuk membentengi diri dari berbagai masalah kejiwaan, yaitu gangguan yang datang dari luar dan dari dalam diri manusia. Adat budaya ini disebut juga sebagai “mandi-mandi” atau “bapapai” yang didasari atas “kebersihan lahir dan batin”.

Ritual Badudus untuk penobatan Sultan dimulai dengan pembacaan doa selamat oleh tokoh agama, kemudian disusul dengan menyantap penganan khas Banjar, antara lain wajik dan bubur merah-putih, yang dilanjutkan dengan pemasangan Mahkota Gajah Gamuling. Usai pemasangan mahkota, pelaku Badudus menuju tempat upacara, yaitu sebuah tempat yang berbentuk segi empat dan diapit oleh empat tiang (sudut) yang dihiasi pohon tebu beratap kain berwarna kuning. Di tempat ini telah disediakan perlengkapan Badudus yang disebut piduduk dan sasangan. Perlengkapan yang termasuk ke dalam piduduk dan sasangan, yaitu: beras putih bersih (melambangkan citra rizki yang halal), lading (pisau) yang tajam dan berhulu padat (melambangkan wibawa, kharismatik, dan berkeyakinan teguh), nyiur dan gula habang (melambangkan lemak manis, bahasa, dan tata laku persaudaraan), telur ayam kampung (melambangkan harapan kekuatan generasi), serta jarum dan benang (melambangkan kesediaan untuk menelusuri masa depan).

Prosesi Badudus terdiri dari melulur, keramas, dikubui (diguyur air bunga), diguyur air doa, diguyur air mayang mengurai, ditepuk mayang bungkus (disiramkan ke atas kepala), dan terakhir dibilas air bersih. Selepas prosesi mandi, pelaku Badudus kemudian melakukan penyilihan pakaian atau berganti pakaian oleh kerabat Bubuhan. Selanjutnya menuju ke ruang hidangan (gunung emas dan gunung perak) untuk melakukan ritual Ritual Bacaramin atau bercermin, yaitu melihat wajah dengan diterangi lampu lentera sebanyak 7 putaran sebagai simbol 7 lapis langit. Ritual ini melambangkan kesediaan para pangeran untuk selalu intronspeksi diri.

Selesai Ritual Bacaramin dilanjutkan Ritual Batapung Tawar, yaitu ucapan selamat dari para tokoh yang bermaksud agar pelaku Badudus dapat dijauhkan dari segala bencana. Ritual terakhir adalah membuka 41 macam hidangan makanan khas Banjar, antara lain: kue cucur 3 warna, 7 macam ketupat yang balamak, dan apam habang yang kemudian dinikmati bersama. Prosesi inilah yang menandai selesainya Ritual Badudus.

(Tunggul Tauladan/ensi/01/02-2011)

Sumber: