|
Rumah adat ini sering disebut juga sebagai rumah Minang dan biasanya dibangun membujur dari utara ke selatan dan menghadap ke barat atau ke timur. Didirikan di atas tiang-tiang kayu setinggi 6-7 meter dan batu sendi rata atau sandi (sebagai penguat tiang). Tiang rumah ini tidaklah tegak lurus atau horizontal tapi mempunyai kemiringan, didasarkan pada pengetahuan orang dahulu dalam membuat kapal sehingga rancangan kapal inilah yang ditiru dalam membuat rumah. Rumah adat ini juga tidak memakai paku, tapi pasak kayu karena disesuaikan dengan kondisi daerah Sumatera Barat yang rawan terhadap gempa, baik vulkanik maupun tektonik. Kerangka bangunan dibuat dari kayu atau bambu, sedangkan atapnya (gonjong) dibuat dari ijuk (daun padi) atau seng. Ujung atap dibuat melengkung seperti tanduk kerbau. Rumah ini memiliki kolong bawah karena dibangun di atas tiang-tiang penyangga. Kolong tersebut biasanya digunakan sebagai kandang ternak. Bangunan rumah dilengkapi jenjang beratap (tangga) yang terbuat dari kayu atau batu, ujungnya terdapat cibuak sebagai tempat untuk mencuci kaki. |